Mon. Apr 6th, 2026

SALIB SEBAGAI PERWUJUDKAN KASIH: Uskup Larantuka Minta Umat untuk Berhenti Saling Melukai


LARANTUKA, Komsos Larantuka – Keheningan yang mendalam menyelimuti Gereja Katedral Larantuka pada perayaan Ibadat Jumat Agung, Jumat, 3 April 2026. Dalam suasana yang sarat doa dan permenungan, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, memimpin ibadat yang dihadiri umat Katolik dari berbagai wilayah. Perayaan ini menjadi momen istimewa untuk mengenangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus, sekaligus mengajak umat masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih Allah yang total.
Dalam homilinya, Uskup Larantuka mengangkat tema “Salib sebagai Ketaatan dan Penyerahan Diri yang Mempersatukan.” Ia mengajak umat untuk tidak hanya memandang salib sebagai simbol penderitaan, tetapi sebagai perwujudan kasih yang taat sampai akhir dan penyerahan diri tanpa syarat. Dengan suara tenang namun penuh penekanan, ia menggambarkan suasana Jumat Agung sebagai momen ketika manusia berdiri di kaki salib, tanpa kemegahan dan tanpa kemuliaan duniawi, hanya berhadapan dengan penderitaan dan kematian yang justru menyimpan makna terdalam iman.
Uskup menegaskan bahwa dalam peristiwa salib, Yesus tidak mempersembahkan sesuatu dari luar diri-Nya, melainkan mempersembahkan diri-Nya sendiri secara total. Ia mengacu pada Surat kepada Orang Ibrani yang menyatakan bahwa Yesus “belajar taat” melalui penderitaan. Ketaatan ini bukan sekadar sikap pasif, tetapi tindakan aktif menyerahkan hidup demi keselamatan manusia. Ia menekankan bahwa pengorbanan Kristus terjadi sekali untuk selamanya, menjadi tanda kasih yang tidak terbatas dan tak tergantikan.
Mengutip Injil Yohanes, Mgr. Yohanes Hans Monteiro juga menyoroti bahwa Yesus bukanlah korban yang tak berdaya, melainkan pribadi yang secara sadar melangkah menuju penderitaan dan kematian. Ketika Yesus berkata, “Sudah selesai,” itu bukanlah seruan kekalahan, melainkan pernyataan bahwa karya keselamatan telah digenapi. Dari salib, terpancar kemenangan kasih yang mengalahkan dosa dan kematian.

Dalam refleksinya, Uskup mengajak umat untuk berani melihat ke dalam diri dan menghadapi luka-luka yang selama ini disimpan. Ia menyebut berbagai bentuk luka yang nyata dalam kehidupan, mulai dari luka akibat kata-kata, pengkhianatan, kekerasan dalam keluarga, hingga konflik sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, salib Kristus tidak hanya berdiri sebagai simbol di depan umat, tetapi juga hadir dalam pengalaman hidup sehari-hari yang penuh pergumulan.
Ia mengajukan pertanyaan yang menggugah: apakah umat mau terus menyimpan luka tersebut, atau berani menyerahkannya kepada Kristus. Baginya, salib adalah tempat di mana manusia diajak untuk berdamai, bukan hanya dengan Allah, tetapi juga dengan sesama. Dalam konteks ini, salib menjadi jalan menuju pemulihan relasi yang retak.


Lebih jauh, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menekankan bahwa salib melahirkan sesuatu yang baru, yakni persatuan dalam satu tubuh. Ia mengaitkan hal ini dengan perkataan Yesus kepada Maria dan murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu… inilah anakmu,” yang menjadi dasar terbentuknya komunitas Gereja. Dalam terang ini, umat dipanggil untuk hidup sebagai satu keluarga, bukan lagi berdasarkan ikatan darah, tetapi oleh kasih Kristus.
Dalam konteks Keuskupan Larantuka, ia menegaskan identitas iman sebagai “tubuh ibu dan anak” atau Tuan Ma dan Tuan Ana, yang dipersatukan oleh darah Kristus. Ia mengingatkan bahwa tidak ada tempat bagi egoisme dan sikap hidup sendiri-sendiri. Salib justru mengajarkan untuk hidup bagi orang lain dan membangun kebersamaan yang sejati.
Mengaitkan refleksinya dengan tradisi iman yang hidup di Larantuka, khususnya Semana Santa, Uskup mengajak umat untuk tidak berhenti pada praktik devosi semata. Ia menegaskan bahwa perarakan salib dan ungkapan kesalehan lainnya harus membawa perubahan nyata dalam kehidupan. Jika salib hanya menjadi simbol budaya tanpa menyentuh hati, maka ia tidak akan menghasilkan pembaruan.
Karena itu, Uskup menyerukan pertobatan konkret. Ia mengajak umat untuk berhenti saling melukai, meninggalkan dendam, dan berani mengampuni. Menurutnya, penghormatan kepada salib harus diwujudkan dalam tindakan nyata rekonsiliasi dan kasih. Tanpa itu, penghormatan hanya menjadi ritual kosong yang kehilangan makna.
Di akhir homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengingatkan bahwa secara manusiawi salib tampak sebagai kegagalan, tetapi dalam iman justru menjadi awal penyembuhan. Luka tidak dihapus, tetapi dipeluk; dosa tidak disembunyikan, tetapi diampuni; dan manusia yang tercerai-berai dipersatukan kembali. Ia menegaskan bahwa Roh yang diserahkan oleh Kristus kini diberikan kepada umat, sehingga setiap orang dimampukan untuk berubah dan mengasihi, bahkan dalam situasi yang sulit.
Perayaan Jumat Agung di Katedral Larantuka berlangsung dengan penuh kekhusyukan, ditandai dengan penghormatan salib oleh umat. Dalam keheningan itu, umat diajak tidak hanya mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga memperbarui komitmen untuk hidup dalam kasih, pengampunan, dan persatuan, sebagaimana diajarkan oleh salib Kristus sendiri. (@sly)

Related Post