KONGA, Komsos Larantuka – Sukacita Paskah terasa hidup dalam prosesi Maria Alleluya yang digelar umat Stasi Mater Dolorosa Konga. Tradisi ini menjadi penanda kebangkitan Tuhan Yesus Kristus sekaligus wujud kesetiaan umat dalam menjaga warisan leluhur yang telah berakar sejak lama, sejalan dengan tradisi serupa di Larantuka.
Bagi anggota Konfereria Konga, Silvester Thedorus (69), prosesi ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan bagian dari identitas iman dan budaya yang harus terus dijaga. Ia mengungkapkan, “kalau Larantuka punya Tuan Ma, Wure punya Tuan Berdiri, maka Konga punya tuan Tido” sebagai gambaran keterkaitan sejarah antara wilayah Larantuka, Konga dan Wure.
Menurutnya, akar tradisi ini tidak lepas dari jejak orang Portugis yang dahulu datang dan menetap di Lewonamang (Larantuka). Dari sana, pengaruh budaya dan iman Katolik menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Konga dan Wure. Pada masa itu, wilayah Konga dijaga oleh komendanti sebagai daerah perbatasan strategis, sementara di kawasan Selat Wure dijaga oleh persan. Selain itu, faktor kesuburan tanah juga menjadi alasan mengapa orang Portugis memilih menetap di wilayah-wilayah ini.
Prosesi Maria Alleluya di Konga memiliki ciri khas yang membedakannya dari perayaan lain. Jika suasana Jumat Agung berlangsung hening dan penuh permenungan, maka dalam prosesi ini umat merayakan kebangkitan Kristus dengan penuh kegembiraan. Lagu Regina Caeli dilantunkan dengan iringan bunyi gendang, disertai tarian dan gerakan yang mencerminkan sukacita iman. Rute prosesi yang dilalui pun sama dengan rute pada Jumat Agung, sehingga membentuk kesinambungan makna antara sengsara dan kebangkitan Kristus.

Di Konga, terdapat enam armida yang menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi. Tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan serah punto dama pada hari berikutnya sebagai tanda penyerahan tanggung jawab kepada penyelenggara untuk perayaan tahun berikutnya. Semua rangkaian ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dijalankan, tetapi juga diwariskan secara teratur dari generasi ke generasi.
Bagi Silvester Thedorus, keterlibatannya dalam Konfereria memiliki makna yang mendalam. Pria asal Nilo yang telah menetap di Konga selama 45 tahun ini mengaku bangga menjadi bagian dari komunitas tersebut. Ia bahkan pernah dipercaya menjadi Ketua Konfereria selama tiga periode.
Ia juga membagikan pengalaman pribadi yang semakin meneguhkan imannya. Saat mengalami gangguan kesehatan berupa sesak napas, ia mencoba pengobatan sederhana dengan air “muda tua” (air bekas mandi tuan) yang dioleskan ke tenggorokan dan diminum. Ia mengaku mengalami kesembuhan total dan sejak itu tidak pernah lagi merasakan sesak napas. Pengalaman ini menjadi kesaksian iman yang memperkuat keyakinannya akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.
Silvester menilai, kehidupan budaya dan iman di Konga memiliki kekayaan tersendiri. Berbeda dengan kampung asalnya, di Konga rangkaian ritual dijalankan secara utuh sejak perayaan kelahiran Yesus hingga kebangkitan-Nya. Hal ini menjadikan Konga sebagai tempat di mana iman dan budaya berjalan beriringan secara kuat.
Di akhir perbincangan, ia berharap agar generasi muda semakin tertarik untuk mengenal dan melestarikan tradisi ini. Keterlibatan kaum muda, terutama para bapak muda, dinilai penting agar Konfereria tetap hidup dan berperan di tengah masyarakat. Baginya, Konfereria bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga teladan hidup bagi sesama dalam menghidupi iman dan nilai-nilai budaya.
Melalui prosesi Maria Alleluya, umat di Konga tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga memperkuat jati diri sebagai komunitas yang berakar pada iman dan warisan leluhur. Tradisi ini pun diharapkan terus hidup dan memberi makna bagi generasi yang akan datang.
Stasi Mater Dolorosa Konga yang merupakan bagian dari Paroki Santa Maria Immaculata Lewolaga di Keuskupan Larantuka saat ini memiliki 209 kepala keluarga dengan jumlah umat mencapai 744 jiwa. Jumlah ini mencerminkan komunitas iman yang hidup dan terus bertumbuh, sekaligus menjadi harapan bagi kelestarian tradisi Maria Alleluya di masa mendatang. (@sly)

