PATRIS CORDE, Komsos Larantuka — Sebanyak 13 frater calon imam yang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) Tahun Pertama 2026 di Keuskupan Larantuka mengikuti kegiatan orientasi bersama para imam yang baru datang dan melayani di Keuskupan Larantuka. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa, 21–22 September 2026, di Rumah Susun Unio “Patris Corde”, Sarotari, Larantuka, menjadi ruang pembekalan bagi para frater sebelum memasuki medan perutusan pastoral di paroki-paroki.
Kegiatan ini digagas oleh tim Ongoing Formation (OGF) Keuskupan Larantuka sebagai bagian dari upaya mempersiapkan para frater agar tidak hanya mengenal tempat perutusan, tetapi juga memahami karakter pastoral, kehidupan komunitas, budaya lokal, serta pola pendampingan yang berlaku di Keuskupan Larantuka.
Masa TOP merupakan tahap penting dalam proses pembinaan calon imam. Pada tahap ini, frater belajar mengintegrasikan pembinaan pribadi, spiritualitas, kehidupan komunitas, kemampuan pastoral, serta kepekaan sosial dan budaya melalui pengalaman nyata bersama umat. Dalam konteks Keuskupan Larantuka yang meliputi Flores Timur, Adonara, Solor, dan Lembata, pengalaman tersebut menjadi semakin penting karena kehidupan menggereja umat sangat erat dengan dinamika Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dan kekayaan budaya lokal.
Karena itu, orientasi dipandang sebagai langkah awal untuk membantu para frater memahami medan perutusan sekaligus mengantisipasi berbagai tantangan adaptasi yang mungkin muncul ketika mereka mulai hidup dan berkarya di tengah umat.
Hari pertama, Senin (21/9), diawali dengan registrasi dan penyambutan peserta pada pukul 15.00 WITA. Kegiatan resmi dibuka pukul 16.00 oleh Kanselir Keuskupan Larantuka, RD Fransiskus Kwaelaga. Setelah sesi perkenalan peserta, Sekretaris Pastoral Keuskupan Larantuka, RD Bernardus Belawa Wara, menyampaikan materi tentang “Arah Dasar dan Visi Pastoral Keuskupan Larantuka.”
Dalam sesi tersebut, para frater diperkenalkan pada panorama Keuskupan Larantuka, visi dan misi pastoral, serta program-program pastoral yang menjadi arah bersama dalam pelayanan Gereja.
Sesi berikutnya dibawakan Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD Adeodatus Hendrikus Leni, dengan tema “Pelayanan Pastoral di Paroki.” Materi ini menyentuh berbagai aspek praktis kehidupan seorang pelayan pastoral, mulai dari aktivitas pelayanan di paroki, kehidupan bersama dalam komunitas pastoran, disiplin hidup, cara menghadapi konflik dan kritik umat, relasi dengan Romo Paroki, batas-batas relasi sosial, hingga sikap dalam penggunaan alkohol dan gawai.
Hari pertama ditutup dengan makan malam, ibadat malam, serta sesi berbagi pengalaman yang dipandu Moderator Ongoing Formation, RD Georgius Harian Lolan.
Memasuki hari kedua, Selasa (22/9), kegiatan diawali dengan doa pagi dan perayaan Ekaristi pukul 06.00 WITA. Setelah sarapan bersama, para frater mengikuti sejumlah sesi yang lebih spesifik berkaitan dengan medan pelayanan pastoral.
RD Yoakim D. B. Hereng Odel dari bidang Kepemudaan/PEPIMDILA membawakan materi mengenai pelayanan pastoral kaum muda, khususnya pendampingan Orang Muda Katolik (OMK). Para frater diajak memahami pengalaman pendampingan kaum muda sekaligus dinamika kehidupan komunitas yang perlu diperhatikan dalam pelayanan.
Sesi berikutnya menghadirkan RD Antonius Ago Tukan dari Karya Misi Kepausan Indonesia/PEPIMDILA yang membahas pelayanan pastoral kaum cilik, khususnya pendampingan SEKAR/SEKAMI. Pembahasan kembali diarahkan pada pengalaman pelayanan, kehidupan komunitas, serta relasi yang sehat dan bertanggung jawab dengan Romo Paroki.
Setelah rehat kopi, peserta mengikuti sesi “Membangun Kerangka Kesadaran” yang dibawakan RD Georgius Harian Lolan. Sesi ini mengajak para frater melakukan refleksi mengenai kerangka kesadaran diri sebagai bagian dari proses menuju kehidupan yang semakin utuh dalam panggilan dan perutusan.
Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan materi mengenai mekanisme pendampingan dan evaluasi yang dibawakan bersama RD Fransiskus Kwaelaga dan RD Georgius Harian Lolan. Para frater mendapatkan penjelasan mengenai sistem pemantauan, laporan berkala, jadwal komunikasi, penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL), komitmen pribadi, serta target bulanan selama menjalani TOP.
Kegiatan ditutup dengan refleksi singkat dari perwakilan frater, doa penutup, dan berkat perutusan sebelum makan siang bersama.
Panitia kegiatan terdiri atas RD Georgius Harian Lolan, RD Fransiskus Kwaelaga, dan RD Flory Lewowerang, di bawah koordinasi Koordinator Ongoing Formation Keuskupan Larantuka, RD Georgius Harian Lolan.
Orientasi ini tidak dimaksudkan sekadar sebagai kegiatan pengenalan sebelum para frater berangkat ke paroki. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi titik awal untuk membangun pola komunikasi, pendampingan, evaluasi, dan persaudaraan yang berkelanjutan antara para frater, tim pembina, serta para pelayan pastoral di medan perutusan.
Dengan bekal tersebut, ke-13 frater TOP Tahun Pertama diharapkan mampu memasuki medan pastoral dengan kesiapan yang lebih matang, terbuka untuk belajar dari umat, peka terhadap konteks budaya dan sosial setempat, serta semakin bertumbuh dalam penghayatan panggilan sebagai calon imam yang hadir dan melayani di tengah umat. (Fr. Ricad Ujan)

