Waiwadan, Komsos Larantuka — Pemberdayaan ekonomi umat tidak cukup hanya berbicara tentang usaha, modal, atau peningkatan pendapatan. Di baliknya terdapat panggilan Gereja untuk menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat, mandiri, dan berkelanjutan. Semangat inilah yang mendorong Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Goreti Waiwadan melalui Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) bidang Martyria menggelar Diklat Fasilitator Pemberdayaan Ekonomi, Sabtu, 19 September 2026, di Gedung BLK Sariati Waiwadan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penjabaran Tahun Program Keuskupan Larantuka, “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman.” Para fasilitator sebelumnya telah direkrut melalui kunjungan Tim Turba DPP untuk melakukan refleksi dan evaluasi bersama umat di tingkat stasi dan lingkungan menjelang Pesta Pelindung Paroki ke-41 pada 6 Juli 2026.
Diklat tersebut diikuti Pastor Paroki, Dewan Harian, Seksi PSE Paroki, para Ketua DPS/Lingkungan, serta 12 orang utusan fasilitator pemberdayaan ekonomi. RD. Rosarius Yansen Raring, Pastor Vikaris Paroki Waiwadan, menjadi fasilitator utama yang memandu seluruh proses pembelajaran.
Fasilitator Dipanggil Menjadi Jembatan Pemberdayaan
Mengawali kegiatan, Sekretaris DPP, Dominikus Domi Boleng, menyampaikan apresiasi dan selamat datang kepada para peserta. Ia mengajak para fasilitator menjadikan diklat tersebut sebagai ruang untuk belajar, memperkuat kapasitas, dan mempersiapkan diri menjadi pembangun jembatan (bridge builder) antara Gereja dan umat dalam menghadirkan energi ekonomi yang kreatif serta berkelanjutan.
Sementara itu, Pastor Paroki Waiwadan, RD. Hendrikus Raya Kleden, membuka secara resmi rangkaian diklat. Dalam arahannya, ia mengajak peserta membuka hati dan budi untuk menerima pengetahuan yang dibagikan sebagai pintu masuk membaca sekaligus merespons realitas ekonomi umat.
Menurutnya, tidak ada usaha ekonomi rumah tangga yang bebas dari risiko. Karena itu, seorang fasilitator perlu memiliki data, melakukan riset dan kajian, serta memahami karakter ekonomi rumah tangga umat yang didampingi.
Fasilitator juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pendampingan, tetapi menjadi pelaku utama dalam transformasi tata kelola ekonomi sehingga pemberdayaan sungguh menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan umat.
Pemberdayaan Berakar pada Spiritualitas Inkarnatoris
Dalam sesi berikutnya, RD. Yansen Raring memperkenalkan peran Seksi PSE dan Fasilitator Pemberdayaan Ekonomi sebagai bagian dari tugas Martyria dalam Panca Tugas Gereja.
Ia menegaskan bahwa pemberdayaan memiliki tiga fondasi utama, yakni terlibat, belajar, dan melakukan aksi. Ketiganya berakar pada spiritualitas inkarnatoris: Sabda yang menjadi daging dan hadir nyata dalam kehidupan manusia.
Dengan demikian, karya pemberdayaan ekonomi tidak berdiri sendiri. Semua aktivitas Gereja diarahkan kepada kemuliaan Tuhan (ad maiorem gloriam Dei), kesejahteraan hidup manusia (cura corporum), dan keselamatan jiwa-jiwa (cura animarum).
Dalam kerangka itu, fasilitator bukanlah orang yang datang untuk menggurui atau mengambil alih peran umat. Fasilitator justru dipanggil menjadi pemudah cara, yang menggerakkan keterlibatan, memfasilitasi proses belajar, dan mendampingi umat dalam mengambil langkah aksi.
Prinsip nemo dat quod non habet—tak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya—menjadi pengingat bahwa seorang fasilitator terlebih dahulu harus terus belajar dan mengembangkan kapasitas dirinya.
Para peserta kemudian diajak mendalami sejumlah tema pemberdayaan ekonomi, antara lain Manajemen Ekonomi Rumah Tangga (M-ERT) dan wirausaha, Tani-Ternak Terpadu (Tatepadu), serta kecakapan finansial. Seluruh tema tersebut diarahkan pada tiga tujuan penting, yakni membangun kedaulatan pangan, kemandirian finansial, dan ketahanan komunitas.
Melahirkan Tiga Program Strategis
Setelah melalui proses introduksi, refleksi, dan curah pendapat, forum diklat menghasilkan komitmen bersama melalui tiga program strategis.
Pertama, peserta membentuk Komunitas Santa Filomena sebagai ruang penguatan kapasitas sekaligus laboratorium pemberdayaan ekonomi. Komunitas ini akan mengembangkan berbagai tema ekonomi dan menjalankan inisiatif aksi sebagai role model bagi umat.
Sebagai identitas komunitas, nama Santa Filomena dipilih oleh forum diklat. Kepengurusan komunitas dipercayakan kepada Adrianus Sanga Deru sebagai ketua, Hosdafina Barek sebagai sekretaris, dan Maya Persia sebagai bendahara. Pertemuan komunitas akan dilaksanakan setiap tanggal 11 dalam bulan.
Langkah perdana komunitas dijadwalkan pada 11 Oktober 2026 melalui kegiatan studi banding dan sekolah lapangan. Para peserta akan mengunjungi sejumlah usaha ekonomi produktif di luar Paroki Waiwadan bersama utusan wirausahawan dari stasi dan lingkungan.
Kedua, forum berkomitmen menyediakan data ekonomi umat yang dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan serta intervensi program pastoral sosial ekonomi. Data tersebut diharapkan membantu Gereja membaca realitas umat secara lebih objektif dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan.
Ketiga, dilakukan pembelajaran tematis, pengorganisasian, dan pendampingan terhadap berbagai Komunitas Pemberdayaan Ekonomi Umat. Komunitas tersebut mencakup komunitas Tani-Ternak Terpadu (Tatepadu), komunitas nelayan—termasuk ABK motor dan nelayan tangkap—komunitas usaha mikro-kecil, serta komunitas aneka jasa seperti buruh, ojek, dan sopir.
Komunitas-komunitas dampingan tersebut direncanakan berkembang menjadi komunitas SILC, sekaligus menjangkau kelompok Sekar/Remis dan Orang Muda Katolik (OMK).
Bersama Berdaya, Mewujudkan Gereja yang Hidup
Seluruh proses diklat akhirnya bermuara pada satu komitmen: “Bersama Berdaya Mewujudkan Gereja yang Hidup.”
Komunitas Santa Filomena diharapkan menjadi perpanjangan tangan Seksi PSE Paroki dalam mengembangkan karya sosial ekonomi. Dengan dukungan data, riset, pembelajaran, dan aksi nyata, komunitas ini diharapkan mampu memberikan masukan dan pertimbangan kepada DPP dalam menata kelola program pastoral sekaligus harta benda Gereja.
Lebih dari sekadar membangun kegiatan ekonomi, gerakan ini hendak menumbuhkan kesadaran baru dalam diri umat. Api pemberdayaan yang terus menyala diharapkan mampu mentransformasi pola hidup (modus vivendi) dan pola kerja (modus operandi) komunitas umat beriman.
Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi menjadi bagian konkret dari ziarah Gereja dalam menghadirkan iman di tengah tata dunia. Gereja tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan, tetapi hadir, belajar bersama umat, bergerak bersama, dan membangun kehidupan yang semakin mandiri, berdaya, serta bermartabat. (Komsos PSMGW)


