MISA KRISMA KEUSKUPAN LARANTUKA: Perbarui Janji Imamat dan Teguhkan Persaudaraan dalam Satu Roh
LARANTUKA, Komsos Larantuka – Keuskupan Larantuka menggelar Misa Krisma yang dirangkaikan dengan pembaharuan janji imamat serta pemberkatan minyak-minyak suci pada Kamis Putih pagi, pukul 08.00 WITA, 2 April 2026, di Gereja Katedral Larantuka. Perayaan yang menjadi pusat kehidupan Gereja ini dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dan dihadiri oleh Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung, para imam, kuria keuskupan, biarawan-biarawati, serta umat beriman dari berbagai wilayah.
Misa Krisma merupakan perayaan yang menampilkan wajah Gereja sebagai satu tubuh yang hidup dalam Roh Kudus dan diutus dalam harapan. Dalam suasana khidmat, para imam dari seluruh Keuskupan Larantuka memperbaharui janji imamat mereka di hadapan uskup dan umat, sebagai tanda kesetiaan pada panggilan serta komitmen untuk terus melayani umat Allah.
Dalam homilinya yang bertema “Membangun Persaudaraan Imamat dalam Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan,” Mgr. Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa Misa Krisma bukan sekadar ritus tahunan, melainkan peristiwa rahmat yang menghidupkan kembali jati diri Gereja. Ia mengajak seluruh umat untuk menyadari bahwa di sekitar altar, Gereja menampakkan identitasnya sebagai satu tubuh yang dipersatukan, satu Roh yang menghidupkan, dan satu harapan yang mengutus.

Mengacu pada Injil tentang Yesus di Nazaret, Uskup menyoroti identitas Kristus sebagai Yang Terurapi oleh Roh Tuhan. Pengurapan itu, menurutnya, bukan hanya berbicara tentang jati diri, tetapi tentang misi pembebasan. Kristus diutus untuk membawa kabar baik kepada orang miskin, membebaskan yang tertindas, serta memulihkan martabat manusia sebagai gambar Allah. Rahmat ini, tegasnya, tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus berlangsung hingga kini melalui pelayanan Gereja.
Ia mengingatkan bahwa para imam mengambil bagian dalam pengurapan Kristus tersebut. Ketika mereka memberkati minyak, mengurapi umat, dan melayani mereka yang kecil dan terluka, sesungguhnya Kristus sendiri hadir dan berkarya. Karena itu, para imam diajak untuk terus hidup dari pengurapan Roh Kudus dan tidak kehilangan semangat pelayanan.
Dalam perayaan ini, dilakukan pemberkatan tiga jenis minyak suci, yakni minyak katekumen, minyak orang sakit, dan minyak krisma. Ketiga minyak ini memiliki makna mendalam dalam kehidupan sakramental Gereja. Minyak katekumen melambangkan kekuatan bagi mereka yang sedang mempersiapkan diri menerima iman, minyak orang sakit menjadi tanda penghiburan dan penyembuhan Allah, sementara minyak krisma mengungkapkan pengudusan dan perutusan umat Allah.

Secara khusus, Uskup menjelaskan makna ritus penghembusan minyak krisma yang dilakukan dalam perayaan tersebut. Tindakan ini melambangkan hembusan Roh Kudus, yang mengingatkan pada Kristus yang bangkit dan menghembusi para rasul. Dengan simbol ini, Gereja percaya bahwa Roh Kudus sendiri yang menguduskan minyak dan menjadikannya sarana rahmat bagi umat.
Dalam bagian refleksi yang mendalam, Mgr. Yohanes Hans Monteiro juga menyoroti pentingnya persaudaraan imamat. Ia menegaskan bahwa imamat tidak dapat dijalani secara sendiri-sendiri. Dalam konteks pelayanan di Keuskupan Larantuka yang penuh tantangan, seperti jarak geografis yang jauh dan keterbatasan sarana, para imam dihadapkan pada godaan kesendirian yang dapat melemahkan semangat pelayanan.
Ia mengingatkan bahwa kesendirian yang tidak diatasi dapat berkembang menjadi jarak, ketegangan, bahkan luka dalam relasi persaudaraan. Oleh karena itu, para imam diajak untuk membangun kembali persaudaraan yang sejati melalui keterbukaan, kerendahan hati, dan saling mendukung dalam kasih. Menurutnya, imam yang kehilangan persaudaraan perlahan akan kehilangan Roh yang menghidupkan panggilannya.

Selain itu, Uskup juga menyoroti realitas hidup umat yang dilayani, seperti para nelayan, petani, buruh, serta keluarga-keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi. Ia menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi tanda harapan nyata di tengah situasi tersebut, termasuk melalui upaya pemberdayaan ekonomi dan pendampingan pastoral yang konkret.
Semangat pelayanan ini, lanjutnya, juga tercermin dalam tradisi iman lokal seperti Semana Santa Larantuka, yang mengajarkan umat untuk berjalan bersama sebagai peziarah harapan, memanggul salib, dan tetap setia dalam iman.

Menutup homilinya, Uskup mengajak para imam untuk kembali pada sumber panggilan mereka, yakni hidup dari pengurapan Roh Kudus, menjaga persaudaraan, dan setia pada perutusan. Ia menegaskan bahwa dunia tidak membutuhkan imam yang sempurna, tetapi imam yang setia, yang hidup dalam persaudaraan, dan yang mampu menghadirkan harapan bagi umat.
Perayaan Misa Krisma ini menjadi momen pembaruan yang mendalam bagi seluruh Gereja Keuskupan Larantuka. Dengan diperbaharuinya janji imamat dan diberkatinya minyak-minyak suci, umat Allah diteguhkan dalam iman dan diutus kembali untuk menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia. Doa pun dipanjatkan kepada Bunda Maria, Tuan Ma Reinha Rosari Larantuka, agar senantiasa mendampingi Gereja dalam kesetiaan dan pengharapan. (@sly)

