TOKOH MUSLIM JADI KETUA PANITIA PERAYAAN PASKAH: Toleransi di Riangbao Telah Menjadi Nafas Hidup Harian Masyarakat

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIPUKANG, Komsos Larantuka – Suasana haru dan syukur menyelimuti perayaan Paskah 2026 di Stasi St. Wilhelmus Riangbao, Paroki Maria Bintang Laut Waipukang. Momen kebangkitan Kristus tahun ini terasa istimewa bukan hanya karena rangkaian ibadah yang berlangsung khusyuk, tetapi juga karena hadirnya pesan persaudaraan lintas iman yang begitu kuat. Keistimewaan itu semakin nyata ketika sambutan ketua panitia perayaan Paskah justru disampaikan oleh seorang Muslim, Kahar Kalang Benimaking, yang dikenal sebagai bagian dari Badan Sara Masjid Almunawara Petuntawa.

RD. Gabriel Jogo Baluk – Pastor Paroki Waipukang

Berdiri di hadapan umat Kristiani yang memenuhi tempat ibadah, Kahar mengawali sambutannya dengan ungkapan haru dan bangga. Ia tidak menyembunyikan perasaannya yang terenyuh karena dipercaya memimpin kepanitiaan perayaan Paskah. Baginya, kepercayaan ini bukanlah hal yang aneh atau mengherankan bagi masyarakat setempat. Sebaliknya, itu adalah bukti nyata bahwa budaya persaudaraan di tanah Riangbao telah mengakar begitu dalam, melampaui sekat-sekat perbedaan keyakinan yang kerap memecah belah masyarakat di tempat lain.

Dalam sambutannya yang panjang lebar, ketua panitia mengajak seluruh umat untuk mengenang kembali perjalanan spiritual selama rangkaian Paskah yang telah dilalui bersama. Ia mengingatkan suasana sukacita pada Minggu Palma, saat umat dengan penuh semangat melambaikan daun palma sebagai simbol penyambutan Raja Damai. Semangat awal itu, katanya, menjadi pemantik bagi seluruh panitia untuk bekerja maksimal mempersiapkan setiap perayaan. Memasuki Tri Hari Suci, Kahar menyoroti makna mendalam dari setiap momen. Kamis Putih mengajarkan kerendahan hati melalui ritual pembasuhan kaki dan pelayanan yang tulus. Jumat Agung menjadi permenungan akan pengorbanan dan cinta tanpa pamrih di tengah penderitaan. Sabtu Suci menghadirkan keheningan yang penuh harapan akan kebangkitan. Dan puncaknya, Hari Raya Paskah, dimaknai sebagai hari kemenangan dan kehidupan baru.

Yang paling menggetarkan dari sambutan tersebut adalah kesaksian pribadi Kahar sebagai seorang Muslim yang turut merasakan kedalaman iman umat Kristiani selama masa suci ini. Ia mengaku sangat tersentuh menyaksikan ketulusan, kekhusyukan, dan ketekunan umat dalam menjalani setiap perayaan. Keheningan dan kekudusan yang dijaga bersama selama rangkaian Paskah memberinya pelajaran berharga tentang arti pengorbanan, cinta kasih, dan harapan yang tidak mengenal batas agama. Kahar dengan tegas menegaskan bahwa keberhasilan kepanitiaan ini bukan karena keseragaman, melainkan karena kuatnya budaya persaudaraan yang diwariskan leluhur: saling menghargai, saling menjaga, dan bergotong royong.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kehadirannya di mimbar gereja adalah bukti bahwa toleransi di Stasi St. Wilhelmus Riangbao bukanlah sekadar slogan kosong. Toleransi telah menjadi nafas kehidupan sehari-hari masyarakat. Untuk menggambarkan kebersamaan itu, Kahar menggunakan sebuah metafora yang menyentuh. Ia mengatakan bahwa umat di sini seperti satu pohon besar dengan akar yang saling melilit kuat di tanah yang sama. Walau cabang-cabangnya tumbuh ke arah yang berbeda, semua tetap hidup dari sumber air yang sama. Dari metafora itu, ia mengajak seluruh umat untuk menjaga semangat pembaharuan, cinta kasih, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari setelah Paskah berlalu.

Pearayaan Paskah Bersama di Stasi Riangbao, Paroki Waipukang, Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka

Menutup sambutannya, Kahar Kalang Benimaking menyampaikan harapan yang tulus. Ia berharap semangat toleransi yang sudah dirawat selama ini terus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, dunia luar dapat melihat bahwa perbedaan iman justru dapat melahirkan harmoni dan simfoni kehidupan yang indah. Umat yang hadir pun merespon sambutan tersebut dengan tepuk tangan hangat dan mata yang berkaca-kaca. Perayaan Paskah 2026 di Riangbao akan dikenang bukan hanya sebagai perayaan kebangkitan Kristus, tetapi juga sebagai perayaan kebangkitan persaudaraan sejati. (RD. Eman Kumanireng)

You may also like