JADI MERCUSUAR KECIL YANG TETAP MENYALA: Muruona Tuan Rumah Rekoleksi Konferia Dekenat Lembata

Konferia merupakan persekutuan yang dibangun atas dasar persaudaraan, kerendahan hati, dan keterbukaan untuk saling mendengarkan. Karena itu, kharisma Konferia harus terus diwujudkan melalui pelayanan nyata di tengah umat.

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIPUKANG, Komsos Larantuka — Di bawah naungan Santo Dominikus, Konferia Dekenat Lembata kembali meneguhkan jati dirinya sebagai persekutuan umat awam yang dipanggil untuk melayani Gereja. Melalui rekoleksi yang berlangsung di Gereja Santo Dominikus Muruona, Paroki Maria Bintang Laut Waipukang, 7–8 Agustus 2026, para anggota dan calon anggota Konferia diajak memperbarui semangat iman, mempererat persaudaraan, dan memperkuat komitmen pelayanan.

JADI MERCUSUAR KECIL YANG TETAP MENYALA: Muruona Tuan Rumah Rekoleksi Konferia Dekenat Lembata

Rekoleksi ini bukan sekadar agenda tahunan organisasi gerejani, melainkan sebuah perjalanan rohani untuk kembali menemukan makna panggilan sebagai pelayan umat. Dalam suasana doa, refleksi, diskusi, dan kebersamaan, peserta diajak melihat kembali bahwa pelayanan Gereja bertumbuh bukan hanya melalui program dan kegiatan, tetapi melalui hati yang siap hadir, mendengar, dan melayani.
Stasi Muruona menghadirkan pengalaman iman yang khas. Di tengah gemuruh Ile Ape yang terdengar sepanjang kegiatan, peserta menemukan sebuah pengingat akan kebesaran Tuhan dalam ciptaan-Nya. Suara alam itu justru menjadi latar yang memperkuat semangat Laudate—pujian kepada Allah yang tetap menyala melalui doa, nyanyian, dan persaudaraan.
Konferia sendiri merupakan salah satu warisan iman yang telah lama hidup dalam perjalanan Gereja Keuskupan Larantuka. Lebih dari sekadar wadah organisasi, Konferia menjadi ruang penghayatan iman kaum awam yang mengambil bagian aktif dalam perutusan Gereja. Di dalamnya tumbuh semangat kemandirian, ketahanan iman, serta kesediaan melayani bersama para gembala.
Melalui arak-arakan, doa bersama, dan pertemuan kelompok, anggota Konferia dari berbagai paroki di Dekenat Lembata berbagi pengalaman pelayanan. Berbagai keberhasilan, tantangan, dan pergumulan dibicarakan dengan terbuka. Dari proses itu lahir kesadaran bahwa pelayanan sejati bukan pertama-tama tentang jumlah kegiatan, melainkan tentang kesetiaan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan umat.

JADI MERCUSUAR KECIL YANG TETAP MENYALA: Muruona Tuan Rumah Rekoleksi Konferia Dekenat Lembata

Dalam pertemuan bersama peserta, Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni menegaskan bahwa kekuatan Konferia harus berakar pada kehidupan umat, terutama melalui Komunitas Basis Gerejani (KBG). Gereja yang hidup, menurutnya, tidak hanya dibangun melalui perayaan besar, tetapi melalui keluarga dan komunitas kecil yang saling mendoakan, menopang, serta menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Moderator Konferia Keuskupan Larantuka, RD. Emanuel Temaluru, mengingatkan bahwa Konferia merupakan persekutuan yang dibangun atas dasar persaudaraan, kerendahan hati, dan keterbukaan untuk saling mendengarkan. Karena itu, kharisma Konferia harus terus diwujudkan melalui pelayanan nyata di tengah umat.
Puncak rekoleksi ditandai dengan Perayaan Ekaristi Santo Dominikus yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka bersama para imam konselebran. Dalam perayaan tersebut dilaksanakan penerimaan anggota baru serta penerimaan Bernika dan Opa ke dalam keluarga besar Konferia.
Momen penerimaan itu menjadi tanda pertumbuhan kader pelayanan sekaligus peneguhan komitmen untuk semakin aktif mengambil bagian dalam kehidupan Gereja. Mereka dipanggil bukan hanya mengenakan identitas sebagai anggota Konferia, tetapi menghidupi semangat pelayanan dalam keseharian.
Dalam homilinya, Vikjen menegaskan bahwa Konferia dipanggil menjadi umat awam yang berakar dalam iman dan menghadirkan pelayanan konkret. Spiritualitas Santo Dominikus mengajarkan tiga kekuatan utama: doa sebagai sumber kekuatan, pendidikan sebagai cahaya bagi sesama, dan belas kasih sebagai wajah pelayanan.
“Konferia hendaknya menjadi mercusuar kecil yang tetap menyala,” pesan yang menguatkan seluruh peserta. Walaupun cahayanya sederhana, namun mampu menjadi penunjuk arah dan tempat berlabuh bagi mereka yang membutuhkan penguatan, penerimaan, dan persaudaraan.
Rekoleksi di Muruona akhirnya menjadi titik pembaruan bagi seluruh anggota Konferia Dekenat Lembata. Dari tempat yang dikelilingi suara alam Ile Ape itu, mereka kembali diutus ke paroki, stasi, dan KBG masing-masing dengan semangat baru: menyala dalam iman, berakar dalam persaudaraan, dan berbuah dalam pelayanan.
Semoga warisan iman Keuskupan Larantuka terus hidup melalui pelayanan Konferia, sehingga kehadirannya senantiasa menjadi tanda kasih Kristus bagi umat dan masyarakat di bumi Lembata. (Eman Kumanireng, Pr)

You may also like