RITAWOLO, Komsos Larantuka — Pembangunan Gereja dan Aula Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Ritawolo tidak hanya berbicara tentang mendirikan sebuah bangunan. Di balik proses pembangunan fisik tersebut, tumbuh pula sebuah panggilan untuk membangun persatuan, keterbukaan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama sebagai satu keluarga umat beriman.
Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan turun ke bawah (turba) yang dilakukan Pastor Paroki HKY Ritawolo, RD. Mikhael Samon Beraona, bersama Dewan Pastoral Paroki (DPP), Panitia Pembangunan Gereja dan Aula Paroki, serta Frater TOP Hendrikus Tibu Witin, Selasa, 29 September 2026.
Tim mengunjungi dua Komunitas Basis Gerejani (KBG), yakni KBG Mater Dolorosa dan KBG St. Antonius Padua. Kehadiran Pastor Paroki, DPP, dan Panitia Pembangunan secara langsung di tengah umat menjadi ruang perjumpaan sekaligus komunikasi terbuka mengenai perkembangan pembangunan Gereja dan Aula Paroki HKY Ritawolo.
Tidak hanya berbicara mengenai progres pembangunan, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Panitia Pembangunan untuk menyampaikan laporan keuangan kepada umat. Keterbukaan ini dipandang penting agar seluruh umat memperoleh informasi yang jelas mengenai proses pembangunan dan pengelolaan berbagai sumbangan yang telah diberikan.
Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki RD. Mikhael Samon Beraona bersama Frater TOP Hendrikus Tibu Witin. Dalam suasana doa dan kebersamaan, umat menyerahkan seluruh proses pembangunan kepada penyelenggaraan Tuhan, memohon agar setiap tahap pekerjaan dapat berlangsung dengan baik dan lancar.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama umat. Ketua DPP Paroki HKY Ritawolo, Elias Nama Libur, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya komunikasi yang sehat dan terbuka antara umat, DPP, dan Panitia Pembangunan.
Menurutnya, kegiatan turba dari KBG ke KBG merupakan langkah konkret untuk membangun kepercayaan sekaligus menghilangkan berbagai kemungkinan kecurigaan di tengah umat.
“Kita datang dari KBG ke KBG agar tidak ada rasa curiga antara umat dan anggota Panitia Pembangunan. Tim hadir untuk menyampaikan laporan keuangan pembangunan Gereja Paroki dan Aula yang sudah dijalankan selama ini,” ungkap Elias.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Gereja dan Aula merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat. Karena itu, keterbukaan dalam menyampaikan perkembangan pembangunan maupun penggunaan dana menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Elias juga mengajak umat untuk terus memberikan dukungan terhadap pembangunan, baik melalui doa, perhatian, maupun keterlibatan sesuai kemampuan masing-masing. Ia berharap seluruh proses pembangunan senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan.
Sementara itu, Pastor Paroki RD. Mikhael Samon Beraona mengarahkan perhatian umat pada semangat persatuan. Ia mengangkat moto Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yakni “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan.”
Moto tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi sebuah ungkapan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan umat sehari-hari, termasuk dalam proses pembangunan Gereja.
Gereja yang sedang dibangun, tegas Pastor Mikhael, bukan milik kelompok tertentu. Gereja tersebut merupakan milik seluruh umat Paroki HKY Ritawolo.
“Gereja yang sedang kita bangun ini adalah milik kita bersama. Karena itu, mari kita membangun kerja sama dan mengambil bagian sesuai dengan kemampuan kita masing-masing,” demikian ajakannya.
Dalam perspektif tersebut, pembangunan fisik Gereja dan Aula menjadi kesempatan untuk membangun sesuatu yang lebih mendasar: persaudaraan umat. Bangunan dapat berdiri kokoh apabila dibangun di atas fondasi yang kuat, demikian pula kehidupan menggereja membutuhkan fondasi iman, persatuan, dan tanggung jawab bersama.
Ketua Panitia Pembangunan, Rofinus Geroda Ola, menyampaikan apresiasi kepada Pastor Paroki dan DPP yang telah membuka ruang bagi panitia untuk bertemu langsung dengan umat di KBG.
Menurutnya, perjumpaan tersebut menjadi kesempatan penting bagi panitia untuk menyampaikan perkembangan pembangunan sekaligus memberikan penjelasan mengenai pengelolaan dana yang dipercayakan umat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pastor Paroki dan DPP yang telah memberikan kesempatan kepada panitia untuk bertemu langsung dengan umat. Kami memohon dukungan dan kerja sama seluruh umat dalam membangun Gereja Paroki dan Aula kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan membutuhkan keterlibatan bersama. Dukungan umat tidak hanya diwujudkan melalui sumbangan material, tetapi juga melalui doa, perhatian, tenaga, pikiran, serta kesediaan untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan.
Kegiatan turba tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi agenda penyampaian laporan. Lebih dari itu, perjumpaan di KBG menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara para pengurus pastoral dan umat.
Di tengah proses pembangunan Gereja dan Aula Paroki HKY Ritawolo, semangat “Berjalan Bersama sebagai Satu Kawanan Domba” menjadi panggilan agar seluruh umat tidak berjalan sendiri-sendiri. Pastor, DPP, panitia pembangunan, dan umat dipanggil untuk berjalan dalam satu arah, saling percaya, saling mendukung, serta bersama-sama memikul tanggung jawab atas kehidupan Gereja.
Dengan demikian, pembangunan Gereja HKY Ritawolo diharapkan tidak berhenti pada berdirinya sebuah bangunan fisik. Lebih jauh, proses tersebut menjadi jalan untuk membangun umat yang semakin bersatu, terbuka, bertanggung jawab, dan kokoh dalam iman.
Sebab, Gereja yang sesungguhnya bukan hanya bangunan yang didirikan dari batu dan semen, melainkan umat yang dipersatukan oleh Kristus sebagai satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan. (Patris)

