KIWANGONA, Komsos Larantuka — Sukacita dan semangat persaudaraan mewarnai pembukaan Jambore Anak-Remaja Misioner dan peresmian Teens School of Mission (TSoM) Dekenat Adonara Tahun 2026 di Paroki Santa Theresia Kiwangona, Jumat, 2 Oktober 2026.
Sekitar 500 anak, remaja, dan pendamping dari 14 paroki di Dekenat Adonara hadir dalam kegiatan yang mengusung tema “ONE IN CHRIST, UNITED IN MISSION” atau “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi.”
Jambore ini menjadi momentum penting bagi anak dan remaja untuk mengalami secara langsung semangat persaudaraan sebagai satu keluarga Gereja, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa mereka juga memiliki tempat dan peran dalam perutusan Gereja.
Dari Waiwerang Menuju Kiwangona
Rangkaian kegiatan diawali di Rumah Misi Dekenat Adonara, Waiwerang. Sejak pagi, peserta dari berbagai paroki mulai berdatangan. Mereka melakukan registrasi, menerima ID card, serta buku TSoM bagi para remaja yang akan mengikuti proses pembinaan selama kegiatan berlangsung.
Suasana semakin hidup ketika seluruh peserta mengikuti animasi bersama. Anak-anak, remaja, dan pendamping bernyanyi serta bergerak bersama, mencairkan suasana sekaligus membangun semangat kebersamaan sebelum memulai perjalanan menuju Kiwangona.
Romo Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, kemudian secara resmi melepas seluruh kontingen menuju Paroki Santa Theresia Kiwangona.
Sekitar 500 peserta bergerak bersama menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Perjalanan tersebut menjadi gambaran sederhana dari semangat jambore. Mereka datang dari 14 paroki yang berbeda, tetapi berjalan menuju satu tempat dan membawa satu semangat: bersatu dalam Kristus dan bersatu dalam misi.
Setibanya di Kiwangona, rombongan disambut oleh Pastor Paroki, DPP, dan umat Paroki Santa Theresia Kiwangona.
Penyambutan berlangsung meriah dengan tarian hedung yang dibawakan oleh Sanggar Musik dan Tari “Mura Lewo” dari Lingkungan Lamalouk. Sapaan dan pengalungan selendang kepada Romo Dirdios KMKI Keuskupan Larantuka, Romo Silu Wutun, Pr., serta Romo Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, menjadi bagian dari penyambutan yang memadukan kekayaan budaya lokal dengan semangat persaudaraan Gereja.
“Kita Berbeda, Tetapi Kita Satu dalam Kristus”
Setelah penyambutan, seluruh peserta mengikuti Perayaan Ekaristi Peringatan Para Malaikat Pelindung di Paroki Santa Theresia Kiwangona.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, bersama para imam yang hadir. Anak-anak dan remaja juga mengambil bagian dalam liturgi melalui pelayanan koor yang dibawakan oleh peserta dari Paroki Kristus Raja Waiwerang.
Dalam homilinya, Romo Sekretaris KMKI Keuskupan Larantuka, Romo Fian Watu, Pr., mengajak seluruh peserta menyadari bahwa setiap anak dan remaja adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki para peserta bukanlah alasan untuk terpisah. Mereka datang dari paroki, keluarga, dan latar belakang yang berbeda. Mereka juga memiliki warna kulit, bentuk wajah, rambut, karakter, dan kemampuan yang berbeda.
Namun, semua perbedaan itu dipersatukan oleh Kristus.
“Kita memang berbeda paroki, berbeda latar belakang keluarga, berbeda rambut, warna kulit, tetapi kita tetap satu dalam Kristus. Kita datang ke tempat ini dan mengikuti jambore ini karena kita satu dalam Kristus.”
Pesan tersebut menjadi salah satu penegasan utama dari tema jambore. Persatuan dalam Kristus tidak berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekayaan yang memungkinkan anak dan remaja untuk saling mengenal, menerima, menghargai, dan membangun persahabatan.
Dipanggil Menjadi “Malaikat” bagi Sesama
Dalam konteks Peringatan Para Malaikat Pelindung, Romo Fian juga mengajak anak dan remaja melihat kehadiran Tuhan melalui orang-orang yang hadir dalam kehidupan mereka.
Orang tua, pendamping, guru, dan teman yang membantu, menjaga, melindungi, serta mengarahkan kepada kebaikan dapat menjadi gambaran “malaikat yang kelihatan”.
“Kalau orang tua, pendamping, teman yang buat baik pada kita, yang arahkan kita untuk buat yang benar, yang melindungi kita, mereka adalah malaikat yang kelihatan. Kita juga bisa jadi malaikat kalau kita mampu melindungi, menjaga, dan mengarahkan orang lain untuk buat baik,” ujarnya.
Pesan ini sekaligus memberikan makna konkret terhadap panggilan misioner anak dan remaja.
Menjadi misioner tidak selalu berarti pergi jauh atau melakukan sesuatu yang besar. Misi dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari: membantu teman, melindungi yang lemah, menghibur orang yang sedih, mengarahkan teman kepada kebaikan, dan menjadi sahabat bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan demikian, anak dan remaja tidak hanya menerima kasih dan perhatian dari orang lain, tetapi juga belajar menjadi pembawa kasih Tuhan bagi sesama.
“Yang Kita Kejar adalah Kebersamaan dan Persahabatan”
Semangat tersebut kemudian ditegaskan oleh Romo Moderator KMKI Dekenat Adonara, Romo Sam Beraona, dalam sambutannya.
Ia mengajak seluruh peserta mengikuti jambore dengan hati yang gembira dan terbuka. Menurutnya, kegiatan ini tidak terutama diarahkan untuk mencari siapa yang paling unggul dalam perlombaan, tetapi untuk membangun relasi dan persaudaraan.
“Kita tidak sedang mencari siapa juara dan pemenang di jambore ini, tetapi kebersamaan dan persahabatan itulah yang kita kejar.”
Pesan tersebut menjadi penting karena jambore mempertemukan anak dan remaja dari berbagai paroki. Mereka diberi kesempatan untuk keluar dari lingkaran pertemanan masing-masing, bertemu dengan teman baru, mengenal kehidupan umat di tempat lain, serta mengalami Gereja sebagai sebuah keluarga yang lebih luas.
TSoM: Membentuk Remaja Misioner secara Berkelanjutan
Selain jambore, kegiatan ini juga menjadi momentum peresmian Teens School of Mission (TSoM) Dekenat Adonara.
Romo Dirdios KMKI Keuskupan Larantuka, Romo Silu Wutun, Pr., menjelaskan bahwa TSoM diharapkan menjadi salah satu ruang pembinaan bagi remaja untuk semakin mengenal panggilan misioner dan mengambil bagian dalam perutusan Gereja.
Menurutnya, pelaksanaan TSoM tidak berhenti pada kegiatan jambore. Akan ada proses pendampingan lanjutan sehingga pengalaman yang diperoleh para peserta dapat berkembang menjadi semangat pelayanan yang nyata.
“Ke depannya akan ada pendampingan bagi peserta TSoM dan SOMA bagi pendamping TSoM Keuskupan Larantuka sehingga kegiatan ini punya dampak bagi karya misi ke depannya.”
Dengan demikian, TSoM diarahkan menjadi sebuah proses pembinaan yang berkelanjutan. Remaja tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dibentuk untuk memiliki kepedulian, semangat pelayanan, keberanian, dan tanggung jawab dalam kehidupan Gereja.
Gong Ditabuh, Jambore Resmi Dimulai
Setelah Perayaan Ekaristi dan santap malam, seluruh peserta kembali berkumpul di venue utama.
Dalam sambutannya, Romo Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, mengajak seluruh peserta menikmati setiap proses yang mereka jalani.
Ia mengungkapkan kebanggaannya terhadap anak dan remaja yang telah diutus oleh paroki masing-masing untuk mengikuti jambore.
“Saya berbangga dengan kamu, anak-remaja, karena kamu semua diutus dari paroki-paroki untuk kegiatan jambore ini. Nikmatilah proses ini. Jadikan ini pengalaman berhargamu karena tahun depan mungkin kamu tidak ikut lagi.”
Pembukaan kemudian ditandai dengan pemukulan gong oleh Romo Deken Adonara, didampingi Romo Dirdios KMKI Keuskupan Larantuka, Romo Moderator KMKI Dekenat Adonara, dan Ketua Panitia Jambore, Romo Silvanus Kidiaman Tolok.
Kembang api menyemarakkan suasana. Sorak-sorai ratusan anak dan remaja memenuhi venue utama. Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Adonara 2026 pun secara resmi dimulai.
Kreativitas Remaja Misioner Menghidupkan Malam
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan animasi bersama. Anak-anak, remaja, dan pendamping bernyanyi serta bergerak bersama dalam suasana penuh kegembiraan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lomba cipta lagu dan gerak animasi kategori Remaja Misioner.
Setiap paroki menampilkan lagu dan gerak animasi yang telah dipersiapkan. Kreativitas terlihat dalam lirik, musik, gerakan, busana, dan ekspresi masing-masing kontingen.
Penampilan para peserta dinilai oleh tiga orang juri, yakni Suster Maria Sufrida Kula, Romo Fian Watu, Pr., dan Ibu Flora Kabelen.
Meski dikemas dalam bentuk perlombaan, kegiatan tersebut tidak kehilangan semangat persaudaraan. Setiap kontingen diberi ruang untuk menunjukkan kreativitas sekaligus belajar menghargai kemampuan dan keunikan kontingen lainnya.
Dari Pengalaman Menuju Refleksi
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, para remaja mengikuti refleksi TSoM. Mereka diajak melihat kembali pengalaman yang telah dijalani sepanjang hari: apa yang paling berkesan, mengapa pengalaman tersebut berarti, serta doa apa yang lahir dari pengalaman tersebut.
Refleksi ini didampingi oleh para pendamping remaja misioner dari masing-masing paroki. Melalui proses tersebut, pengalaman jambore tidak berhenti sebagai kegembiraan sesaat. Para peserta diajak mengolah pengalaman perjumpaan, persahabatan, kreativitas, dan kebersamaan menjadi bagian dari perjalanan iman mereka.
Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi
Jambore Anak-Remaja Misioner dan peresmian TSoM Dekenat Adonara 2026 akhirnya memperlihatkan bahwa anak dan remaja bukan sekadar masa depan Gereja. Mereka adalah bagian dari Gereja hari ini.
Di Kiwangona, mereka belajar bahwa menjadi misioner dapat dimulai dari hal-hal sederhana: berani bersahabat, menghargai perbedaan, membantu sesama, menjaga teman, membawa sukacita, dan berani melakukan kebaikan.
Mereka juga belajar bahwa Gereja tidak berhenti pada batas-batas paroki. Gereja adalah persekutuan umat yang berjalan bersama dalam Kristus.
Dari Waiwerang menuju Kiwangona, dari perjumpaan menuju persahabatan, dari persahabatan menuju perutusan, sekitar 500 anak, remaja, dan pendamping membawa satu pesan yang sama: Kita boleh berbeda, tetapi kita satu dalam Kristus. Kita berjalan bersama, dan kita dipanggil bersama untuk menjalankan misi. ONE IN CHRIST, UNITED IN MISSION. (RD. Vian Watu)





