KETIKA SANG SABDA BERARAK: Dari Anak Misioner Menuju Wajah Gereja Masa Depan

Pastor Paroki San Juan Lebao Tengah, RD. Yosep da Silva: Perlombaan Kitab Suci jangan dipahami sebagai ajang memperebutkan juara dan hadiah. Perlombaan ini hendaknya menjadi sarana agar Sabda Tuhan bertumbuh dalam hati, jiwa, dan budi anak-anak, Remaja Misioner, serta Orang Muda Katolik.

by Komsos Keuskupan Larantuka

SAN JUAN, Komsos Larantuka — Lilin-lilin kecil menyala di tangan anak-anak. Kitab Suci digenggam erat. Langkah kaki bergerak perlahan meninggalkan Gereja Paroki San Juan menuju Kapela San Juan di Lingkungan Kampus Tengah. Di antara cahaya lilin dan derap langkah itu, Sabda Tuhan seakan tidak hanya dibaca dan didengarkan, tetapi sedang diarak dan dihidupi.

Suasana tersebut mewarnai pembukaan rangkaian Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di Paroki San Juan. Melalui Seksi Kerasulan Kitab Suci (KKS), Paroki San Juan kembali menggelar perlombaan Kitab Suci sebagai program rutin tahunan untuk menghidupkan kecintaan umat terhadap Sabda Allah, khususnya di kalangan anak-anak, remaja, dan Orang Muda Katolik (OMK).

Rangkaian kegiatan perlombaan berlangsung selama tiga hari. Pembukaan ditandai dengan Parade Kitab Suci dan Tropi Bergilir pada Minggu, 27 September 2026, pukul 17.00, setelah perayaan Ekaristi ketiga.

Parade tersebut menjadi semakin istimewa karena Seksi KKS berkolaborasi dengan Seksi Karya Misioner dan Kerasulan Anak serta Remaja Misioner (KMKI). Anak-anak Misioner dan Remaja Misioner dilibatkan sebagai pagar betis sepanjang perarakan. Dengan lilin yang menyala dan Kitab Suci di tangan, mereka mengiringi perjalanan Sabda Tuhan dari gereja menuju kapela.

Perarakan itu bukan sekadar sebuah seremoni pembukaan. Kehadiran anak-anak dan remaja Misioner justru menjadi gambaran hidup tentang bagaimana Gereja menanamkan Sabda Tuhan sejak usia dini. Wajah-wajah polos mereka menjadi tanda bahwa masa depan Gereja sedang dipersiapkan hari ini.

Dari Gereja Paroki San Juan, rombongan bergerak menuju Kapela San Juan di Lingkungan Kampus Tengah. Cahaya lilin yang dibawa para peserta menciptakan suasana penuh makna. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi berbagai suara, anak-anak itu tampil membawa satu suara yang hendak terus diperdengarkan Gereja: suara Sabda Tuhan.

KETIKA SANG SABDA BERARAK: Dari Anak Misioner Menuju Wajah Gereja Masa Depan

Memasuki hari pertama perlombaan, Senin, 28 September 2026, giliran kategori Sekami tampil dalam dua mata lomba, yakni Lomba Mazmur dan Lomba Baca Kitab Suci.

Para peserta merupakan utusan dari 12 lingkungan di wilayah Paroki San Juan. Mereka terlebih dahulu mengikuti proses seleksi di tingkat lingkungan. Karena itu, setiap peserta yang hadir dalam perlombaan tingkat paroki bukan sekadar peserta biasa, melainkan duta yang membawa nama lingkungan masing-masing.

Semangat kompetisi pun hadir dalam suasana perlombaan. Namun, kompetisi tersebut ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar, yakni membangun kecintaan anak-anak terhadap Kitab Suci dan membantu mereka semakin mengenal, mencintai, serta menghidupi Sabda Tuhan.

Dewan juri pada perlombaan hari pertama terdiri dari RD Paul Lewoema, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka; Fr. Fendy Iri, Frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP) Seminari San Dominggo Hokeng; serta Robert Sabon Taka, seorang katekis.

Setelah kategori Sekami, rangkaian perlombaan akan dilanjutkan dengan kategori Remaja Misioner pada Selasa, 29 September 2026. Sementara itu, kategori Orang Muda Katolik (OMK) dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 30 September 2026.

Tiga kategori tersebut memperlihatkan sebuah perjalanan pertumbuhan iman: dari anak-anak, menuju remaja, dan kemudian orang muda. Ketiganya dipertemukan oleh satu sumber yang sama, yakni Sabda Allah.

Pastor Paroki San Juan, RD. Yosep da Silva, dalam sambutannya menegaskan bahwa perlombaan Kitab Suci tidak boleh dipahami semata-mata sebagai ajang untuk memperebutkan juara dan hadiah.

Lebih dari itu, perlombaan hendaknya menjadi sarana agar Sabda Tuhan bertumbuh dalam hati, jiwa, dan budi anak-anak, Remaja Misioner, serta Orang Muda Katolik.

Pesan tersebut memberikan arah yang lebih dalam bagi seluruh rangkaian kegiatan BKSN di Paroki San Juan. Piala dan hadiah memang menjadi bagian dari perlombaan, tetapi bukan tujuan akhirnya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setelah perlombaan selesai, Sabda yang telah dibaca, dinyanyikan, dan direnungkan itu tetap tinggal dalam kehidupan para peserta.

Semangat tersebut sejalan dengan sabda Yesus, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka.” Anak-anak dan remaja bukan sekadar generasi penerus yang suatu saat akan mengambil bagian dalam kehidupan Gereja. Mereka adalah bagian dari Gereja hari ini.

Karena itu, memberi ruang kepada mereka untuk mengenal Kitab Suci berarti memberi ruang kepada Sabda Tuhan untuk bekerja sejak dini dalam kehidupan mereka.

Sabda yang ditanamkan dalam hati anak-anak diharapkan bertumbuh menjadi karakter. Sabda yang mereka dengarkan diharapkan membentuk cara berpikir, cara berbicara, cara bertindak, serta cara mereka memandang sesama dan dunia.

Dari sana, anak-anak Misioner diharapkan bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, gembira, tangguh, dan memiliki semangat misioner. Ketika memasuki masa remaja, Sabda yang telah berakar itu diharapkan semakin menguatkan identitas iman mereka.

Demikian pula ketika mereka memasuki usia Orang Muda Katolik. Sabda Tuhan yang telah berakar dalam hati dan jiwa diharapkan membentuk mereka menjadi orang muda yang memiliki keberanian untuk bersaksi, melayani, dan mewartakan sukacita Injil di tengah masyarakat.

KETIKA SANG SABDA BERARAK: Dari Anak Misioner Menuju Wajah Gereja Masa Depan

Dengan demikian, Parade Kitab Suci yang membuka rangkaian BKSN Paroki San Juan sesungguhnya menjadi simbol yang sangat kuat. Kitab Suci tidak hanya diarak dari satu tempat menuju tempat lain. Sabda Tuhan sedang diarak menuju hati manusia.

Dan yang mengaraknya adalah anak-anak, remaja, dan orang muda—generasi yang kelak akan menjadi wajah Gereja pada masa depan.

Di tengah cahaya lilin yang mereka bawa, ada harapan bahwa terang Sabda Tuhan tidak pernah padam. Di balik Kitab Suci yang mereka genggam, ada doa agar generasi muda Gereja tidak kehilangan arah. Dan di balik seluruh perlombaan yang berlangsung selama tiga hari, ada kerinduan agar Sabda Tuhan sungguh-sungguh berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah dalam kehidupan.

Sebab, ketika Sabda tumbuh dalam hati anak-anak, Gereja sedang menanam masa depannya. Ketika Sabda berakar dalam diri remaja, Gereja sedang membangun ketangguhannya. Dan ketika Sabda hidup dalam diri orang muda, Gereja sedang mempersiapkan para pewarta sukacita Injil bagi zaman yang akan datang.

BKSN 2026 di Paroki San Juan akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dalam dari itu, ini adalah tentang bagaimana setiap peserta pulang dengan membawa Sabda Tuhan—bukan hanya di tangan, tetapi juga di dalam hati.

Dari San Juan, Sabda itu berarak. Dari hati anak-anak, remaja, dan orang muda, Sabda itu diharapkan terus bertumbuh. Dan dari generasi inilah, wajah Gereja masa depan perlahan-lahan sedang dibentuk. (Susana Niren Kelen)

You may also like