Tue. Apr 14th, 2026

PIMPIN MISA PASKAH PERDANA SEBAGAI USKUP: Mgr. Yohanes Hans Monteiro Ajak Umat untuk Tidak Berjalan Sendiri

Mgr. Yohanes Hans Monteiro - Uskup Larantuka

LARANTUKA, Komsos Larantuka – Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, memimpin Ekaristi Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Larantuka dengan penuh khidmat. Perayaan ini menjadi momen istimewa karena merupakan Misa Paskah pertama yang dipimpinnya sejak dipercaya sebagai gembala umat di Keuskupan Larantuka.
Umat memadati ruang gereja dan mengikuti perayaan tersebut dengan penuh sukacita, menandai puncak iman Kristiani dalam suasana yang sarat makna kebangkitan. Liturgi berlangsung dengan tertib dan khusyuk, diiringi nyanyian pujian yang menggema di dalam gereja.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengangkat tema “Tiga ‘Keluar’ sebagai Jalan Gereja Paskah Keuskupan Larantuka”. Ia menegaskan bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan konkret bagi umat untuk mengalami perubahan hidup yang nyata.

Pertama, umat diajak untuk “keluar dari kubur”, sebagaimana pengalaman Maria Magdalena dalam Injil Yohanes (Yoh 20:16). Maria datang ke kubur dengan kesedihan dan kehilangan, mencari Yesus yang mati. Namun ketika Yesus memanggil namanya, ia mengalami perubahan mendalam, berbalik arah, dan diutus menjadi pewarta kebangkitan.
“Saudara-saudari, kubur bukan hanya tempat orang mati, tetapi juga lambang luka lama, keputusasaan, dan ketakutan akan masa depan. Paskah memanggil kita untuk keluar dari kubur-kubur itu,” ujar Uskup dalam homilinya.
Ia juga mengutip Santo Agustinus yang menyebut Maria Magdalena sebagai “rasul bagi para rasul”, serta mengingatkan bahwa Paus Fransiskus pada tahun 2016 menegaskan kedudukan Maria Magdalena setara dengan para rasul.
Kedua, Uskup mengajak umat untuk “keluar dari batas”, meneladani Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul (Kis 10:34-35). Petrus mengalami pertobatan ketika menyadari bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Ia keluar dari batas agama, budaya, dan kenyamanan, serta membuka diri terhadap mereka yang berbeda.
“Paskah mendorong Gereja untuk keluar dari eksklusivisme, dari sikap menutup diri, dan dari rasa takut terhadap yang lain,” tegasnya.
Ketiga, umat diajak untuk “keluar dari ketakutan”, sebagaimana ditegaskan dalam Surat kepada Jemaat di Kolose (Kol 3:1-2). Uskup mengingatkan agar umat tidak hidup dalam ketakutan, tidak terjebak dalam praktik-praktik kosong, dan tidak mencari keamanan palsu.
“Iman bukan soal ritual kosong atau praktik magis, tetapi hidup yang terarah kepada Kristus yang bangkit,” katanya.
Lebih jauh, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menekankan bahwa ketiga “keluar” tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Paskah, menurutnya, tidak berhenti pada pengalaman rohani, tetapi harus melahirkan cara hidup baru yang ditandai dengan solidaritas.
Ia mengingatkan bahwa Keuskupan Larantuka memiliki kekayaan iman melalui devosi Semana Santa, di mana umat berjalan bersama, berdoa bersama, dan memikul beban bersama dalam prosesi. Namun ia menantang umat untuk tidak berhenti pada devosi semata.
“Apakah solidaritas itu hanya berhenti di jalan prosesi? Ataukah menjadi cara hidup setiap hari?” tanyanya.
Uskup kemudian menyoroti realitas kehidupan umat, seperti nelayan dengan hasil yang tidak pasti, petani yang menghadapi tantangan cuaca, keluarga dengan beban ekonomi, serta kaum muda yang harus merantau. Dalam situasi tersebut, Gereja dipanggil untuk hadir sebagai komunitas yang saling menopang.
Ia mendorong umat untuk membangun solidaritas konkret melalui berbagai bentuk, seperti kelompok usaha bersama, koperasi umat, dana solidaritas paroki, serta kebiasaan berbagi dalam keluarga dan lingkungan.
“Yang kuat menopang yang lemah, yang memiliki berbagi dengan yang kekurangan, sehingga komunitas menjadi tempat kehidupan bertumbuh,” jelasnya.
Menutup homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak umat untuk menjadi Gereja Paskah yang hidup dan membawa harapan. Ia menegaskan bahwa seperti Maria keluar dari kubur, Petrus keluar dari batas, dan jemaat Kolose keluar dari ketakutan, demikian pula umat dipanggil untuk membangun komunitas yang saling menghidupi dan menghadirkan harapan bagi dunia.
Perayaan Paskah ini menjadi momentum penting bagi umat Keuskupan Larantuka untuk meneguhkan identitas sebagai Gereja yang hidup, terbuka, dan solider. Dalam semangat kebangkitan Kristus, umat diajak untuk terus melangkah bersama sebagai satu tubuh, satu Roh, dan satu harapan. (@sly)

Related Post