PEMATANG SIANTAR, Komsos Larantuka — Lima hari menjadi ruang perjumpaan, persaudaraan, refleksi, dan pembaruan komitmen bagi 107 imam diosesan yang hadir dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) XV Paguyuban Unio Indonesia (UNINDO). Berlangsung pada 14–18 September 2026 di Catholic Center, Pusat Pembinaan Umat (CC-PPU), Keuskupan Agung Medan, Pematang Siantar, MUNAS mengangkat tema “Imam Diosesan: Rasul Spiritualitas Kristiani di Era Digital.”
Para peserta datang dari 38 keuskupan di Indonesia, bersama lima utusan dari Timor Leste. Mereka tidak hanya berkumpul untuk membicarakan kehidupan organisasi, tetapi terutama untuk melihat kembali identitas dan spiritualitas imam diosesan dalam sebuah zaman ketika teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi cara manusia berkomunikasi, bekerja, membangun relasi, bahkan menghayati iman.
MUNAS XV menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: bagaimana imam tetap menjadi pembawa kabar gembira ketika dunia pastoral tidak lagi hanya berlangsung di ruang gereja, rumah umat, atau lingkungan masyarakat, tetapi juga di ruang digital?
Jawaban yang muncul sepanjang pertemuan tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditolak, tetapi sebagai kenyataan baru yang perlu dihadapi dengan iman, kedalaman spiritualitas, kepekaan pastoral, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kristus Tetap Menjadi Pusat
Perjalanan MUNAS XV dimulai dengan Perayaan Ekaristi pembuka yang dipimpin Kardinal Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, SJ. Sejumlah Uskup dan Vikjen turut hadir dalam perayaan tersebut, di antaranya Uskup Semarang, Uskup Palembang, Uskup Lampung, Uskup Ruteng, Vikjen Keuskupan Agung Medan, serta para Vikjen dari keuskupan-keuskupan di Papua.
Dalam homilinya, Pembina UNINDO, Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng, mengingatkan bahwa perkembangan zaman tidak boleh membuat pewartaan Gereja kehilangan pusatnya.
Di tengah berbagai platform, algoritma, arus informasi, dan perubahan pola komunikasi, Kristus tetap harus menjadi pusat. Dunia digital dapat menjadi ruang pewartaan, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar membangun popularitas atau memperbanyak pengikut. Kehadiran imam di ruang digital harus membantu umat menemukan dan mengalami kembali kehadiran Allah.
Pesan tersebut menjadi semacam benang merah yang terus mengalir sepanjang MUNAS XV.
Setelah Perayaan Ekaristi dan makan malam, MUNAS dibuka secara resmi oleh Ketua KWI, Kardinal Antonius Subianto Bunjamin, SJ. Pembukaan turut dihadiri para Uskup, Wali Kota Pematang Siantar, Wakil Ketua DPRD Kota Pematang Siantar, Ketua DPRD Kabupaten Malaka, para imam peserta, para frater Seminari Tinggi St. Petrus Pematang Siantar, utusan siswa Seminari Menengah Sacerdos, panitia, dan para undangan.
Di Tengah “Gerhana Allah”
Refleksi mengenai identitas imam di era digital semakin diperdalam pada hari kedua melalui materi Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang, berjudul “Memaknai Kembali Identitas dan Spiritualitas Imam Diosesan di Era Digital.”
Mgr. Pius mengangkat kembali pemikiran Paus Benediktus XVI mengenai “gerhana Allah”. Di tengah kegaduhan dan derasnya arus informasi digital, manusia dapat mengalami kesulitan untuk melihat dan menyadari kehadiran Allah.
Karena itu, tantangan imam bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi, melainkan bagaimana tetap memiliki kedalaman batin sehingga mampu menghadirkan Allah di tengah dunia yang semakin bising.
Dalam refleksinya, Mgr. Pius menekankan empat kedekatan yang perlu terus dirawat oleh seorang imam diosesan: kedekatan dengan Allah, kedekatan dengan Uskup, kedekatan dengan sesama imam, dan kedekatan dengan umat.
Kedekatan dengan Allah menjadi dasar seluruh pelayanan. Kedekatan dengan Uskup membantu imam berjalan dalam semangat mendengarkan dan menemukan kehendak Allah. Kedekatan dengan sesama imam membangun persaudaraan sakramental dan membuat imam menjadi pemersatu. Sementara kedekatan dengan umat menuntut kesediaan untuk berjalan bersama, mendengarkan, dan hadir sebagai “rumah sakit jalanan” bagi mereka yang terluka.
Dengan demikian, imam tidak boleh kehilangan akar spiritualnya ketika memasuki dunia digital.
Ia justru dipanggil menjadi arsitek keheningan, sehingga di tengah kebisingan informasi manusia tetap memiliki ruang untuk mendengarkan Allah. Ia juga dipanggil melakukan inkarnasi digital, yakni menghadirkan nilai dan kehadiran Kristiani dalam ruang digital, bukan sekadar mengejar followers. Pada saat yang sama, imam perlu melawan kecenderungan klerikalistik dengan membangun aksesibilitas, sehingga umat tetap dapat menemukan dan menjumpai gembalanya.
Imam sebagai “Influencer” Kehidupan Beriman
Persoalan kehadiran imam di ruang digital juga dibahas oleh Lisa Esti Puji Hartanti, staf Komisi KWI sekaligus dosen UGM, melalui tema “Imam Diosesan sebagai Influencer Hidup Beriman bagi Umat.”
Istilah influencer dalam konteks ini tidak berhenti pada popularitas di media sosial. Pengaruh seorang imam justru diukur dari kesaksian hidup dan kemampuannya membawa orang kepada pengalaman akan kasih Allah.
Karena itu, kehadiran imam tidak boleh berhenti di layar telepon genggam. Media sosial dapat menjadi pintu masuk, tetapi pelayanan harus berlanjut dalam perjumpaan nyata dengan manusia.
Imam dipanggil untuk menjumpai mereka yang terluka, miskin, tersingkir, sakit, berduka, dan mereka yang mengalami berbagai pergulatan kehidupan.
Dengan kata lain, pastoral digital tidak boleh menggantikan pastoral perjumpaan.
Teknologi dapat memperluas jangkauan, tetapi perjumpaan pribadi tetap menjadi ruang penting untuk mendengarkan, memahami, dan merasakan pergulatan konkret umat.
Persaudaraan dalam Musyawarah
Selain refleksi dan pembinaan, MUNAS XV juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan para imam diosesan.
Salah satu agenda penting adalah pemilihan Pengurus UNINDO periode 2026–2029. Proses tersebut berlangsung dalam semangat musyawarah. Setelah melalui mekanisme penetapan calon sebagaimana diarahkan dalam proses persidangan, kepengurusan periode sebelumnya kembali dikukuhkan untuk melanjutkan masa bakti.
Persaudaraan itu semakin terasa dengan kehadiran Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbi. Dalam perjumpaan bersama para imam, Nuntius mengajak para imam diosesan untuk terus berjalan bersama dalam kasih, tetap bersatu dengan Uskup masing-masing dalam membangun Gereja, serta senantiasa mendoakan Bapa Suci.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persaudaraan para imam bukan sekadar hubungan organisatoris. Persaudaraan itu berakar pada satu sakramen imamat dan perutusan yang sama untuk melayani Gereja.
Dari Refleksi Menuju Komitmen
MUNAS XV tidak berhenti pada diskusi. Refleksi yang berlangsung selama beberapa hari dirumuskan dalam rekomendasi yang ditandatangani di Pematang Siantar pada 16 September 2026.
Rekomendasi tersebut berangkat dari kesadaran bahwa teknologi digital dan AI telah menjadi bagian dari lingkungan hidup manusia. Karena itu, imam diosesan dipanggil hadir di dalamnya tanpa kehilangan identitas dan spiritualitas imamat.
Ada sepuluh penekanan utama dalam rekomendasi tersebut.
Pertama, para imam diosesan dipanggil menghadirkan Kabar Gembira dalam bahasa yang relevan dan inkulturatif, sehingga iman sungguh berakar dalam masyarakat, budaya, dan nilai-nilai setempat.
Kedua, mereka perlu memiliki pengalaman personal dan mendalam akan Allah, yang terus dirawat melalui doa liturgis, doa pribadi, doa batin, kontemplasi, doa kelompok, dan devosi.
Ketiga, para imam didorong untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat serta mengambil bagian dalam gerakan yang memperjuangkan kesejahteraan umum.
Keempat, UNINDO menegaskan perhatian terhadap hak-hak masyarakat adat, terutama berkaitan dengan tanah dan wilayah hidup mereka, khususnya di Regio Gerejawi Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Nusra.
Kelima, para imam diajak membaca dinamika sosial-politik secara cermat dan bijaksana agar mampu mendampingi umat serta memperkuat perjuangan bagi keadilan, perdamaian, keutuhan ciptaan, dan kesejahteraan bersama.
Keenam, Gereja dipanggil untuk semakin mewujudkan wajah yang profetis, termasuk melalui keberanian berbicara secara terbuka dan santun mengenai persoalan sosial-kemanusiaan dalam terang Injil.
Ketujuh, pastoral digital harus tetap humanis. Manusia tidak boleh direduksi menjadi data, objek ekonomi, atau sekadar hasil keputusan algoritma. Perhatian khusus perlu diberikan kepada orang miskin, anak-anak, mereka yang tersisih, migran, dan mereka yang tidak memiliki suara.
Kedelapan, teknologi digital tidak boleh menggantikan perjumpaan pribadi antara imam dan umat.
Kesembilan, para imam perlu mengembangkan sikap kritis dan bertanggung jawab terhadap teknologi, karena teknologi selalu terkait dengan manusia yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya.
Kesepuluh, para anggota UNINDO dipanggil untuk menjalankan ongoing formation, terutama dengan tekun membaca, merenungkan, dan menghidupi Statuta UNINDO serta dokumen-dokumen Gereja terkini.
Kesepuluh rekomendasi ini memperlihatkan bahwa tantangan digital pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi. Yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia tetap menjadi manusia, bagaimana iman tetap berakar dalam kehidupan, dan bagaimana Gereja tetap menghadirkan Kristus di tengah perubahan zaman.
Ekaristi, Danau Toba, dan Sukacita Persaudaraan
Setelah hari-hari yang diisi dengan refleksi dan musyawarah, seluruh rangkaian MUNAS XV diteguhkan melalui Perayaan Ekaristi penutupan yang dipimpin Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap.
Namun, perjumpaan belum berakhir.
Pada hari terakhir, para peserta bersama sejumlah Uskup melakukan rekreasi persaudaraan menuju Pulau Samosir. Rombongan menyeberangi Danau Toba menggunakan KMP Ihan Toba menuju kawasan Tuk-Tuk Tomok. Di sana, keramahan dan hospitalitas umat setempat menyambut para imam dari berbagai penjuru Indonesia.
Perjalanan kemudian membawa rombongan ke Puncak Sibea-bea. Di bawah patung Yesus Sang Juru Selamat, para imam berdoa. Perjalanan yang semula merupakan rekreasi berubah menjadi kesempatan untuk kembali mengarahkan hati kepada Tuhan.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi inkulturatif yang dipimpin oleh Uskup Palembang bersama umat paroki setempat.
Pulang Membawa Semangat
Jumat pagi, 18 September 2026, para peserta mulai meninggalkan Pematang Siantar. Setelah lima hari hidup bersama, berdiskusi, berdoa, berefleksi, dan berbagi cerita, mereka kembali ke keuskupan masing-masing.
Seruan “HORAS!” menjadi salam perpisahan yang menyimpan lebih dari sekadar ungkapan sukacita. Ia menjadi tanda persaudaraan yang telah dibangun dan pengalaman bersama yang akan dibawa pulang.
MUNAS XV UNINDO pun berakhir di Pematang Siantar. Tetapi perutusannya belum selesai.
Para imam kembali ke tempat masing-masing dengan tantangan yang sama: bagaimana menghadirkan Kristus di tengah dunia yang terus berubah; bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan kedalaman manusiawi; bagaimana hadir di ruang digital tanpa meninggalkan perjumpaan nyata; dan bagaimana tetap menjadi saksi Injil di tengah masyarakat yang membutuhkan harapan.
Dari Pematang Siantar, para imam diosesan membawa pulang bukan hanya hasil musyawarah, melainkan juga semangat persaudaraan dan kesadaran baru bahwa di era digital sekalipun, wajah Gereja tetap harus menjadi wajah Kristus yang hadir, mendengarkan, menyembuhkan, dan berjalan bersama manusia. Pertemuan berikutnya akan berlangsung dalam MUNAS XVI UNINDO di Regio Papua. (Pengurus Unio Larantuka)


