SAROTARI, Komsos Larantuka — Para imam Keuskupan Larantuka diajak kembali menemukan sumber dan pusat kehidupan imamat mereka pada meja altar. Ajakan tersebut disampaikan oleh Pastor Anselmus Dhegu, O.Carm dan menjadi benang merah Renungan Pembukaan Pertemuan Pastoral (PERPAS) II Keuskupan Larantuka yang berlangsung di Gedung OMK Sarotari, Larantuka, Selasa, 22 September 2026.
PERPAS II yang berlangsung pada 22–26 September 2026 menjadi ruang bagi para imam untuk berhenti sejenak dari kesibukan pelayanan, melihat kembali perjalanan imamat, memperbarui semangat persaudaraan, serta meneguhkan kembali panggilan untuk hidup dalam kekudusan. Tema renungan pembukaan, “Spiritualitas Meja Altar Menuju Kekudusan Hidup Imam dalam Terang Surat Apostolik Desiderio Desideravi,” menempatkan Ekaristi sebagai pusat refleksi mengenai identitas dan perutusan seorang imam. Mengawali renungannya, Pastor Anselmus, O.Carm mengajak peserta PERPAS II merenungkan perkataan Yesus dalam Injil Lukas: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu” (Luk 22:15).
Kerinduan Kristus tersebut menjadi titik berangkat refleksi. Kekudusan imam, demikian ditekankan dalam renungan, bukan pertama-tama berawal dari kemampuan atau kesalehan pribadi seorang imam, melainkan dari kerinduan Allah sendiri untuk bersatu dengan manusia. Karena itu, altar bukan sekadar tempat seorang imam melaksanakan kewajiban liturgis. Altar merupakan pusat kehidupan spiritual imam, tempat ia kembali berjumpa dengan Kristus dan membiarkan dirinya dibentuk oleh misteri Paskah. Dalam terang Desiderio Desideravi, liturgi dipahami bukan sekadar sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk Allah. Liturgi merupakan tindakan Kristus yang mengikutsertakan Gereja dalam misteri keselamatan-Nya. Karena itu, imam yang berdiri di altar tidak sedang mempertontonkan dirinya, melainkan melayani misteri Kristus. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya apakah seorang imam merayakan Ekaristi dengan benar, tetapi juga apakah Ekaristi yang dirayakannya sungguh mengubah hidupnya.
Imam yang Merayakan Ekaristi
Refleksi tersebut mengajak para imam melihat kembali cara mereka merayakan Ekaristi. Persiapan sebelum Misa, sikap tubuh, cara berjalan, berbicara, memandang altar, menggunakan keheningan, hingga setiap gestur liturgis bukan sekadar persoalan teknis. Semua itu merupakan bagian dari ars celebrandi, seni merayakan liturgi yang membantu umat masuk ke dalam misteri Kristus. Keindahan liturgi, karena itu, tidak terutama terletak pada kemewahan dekorasi, perlengkapan yang mahal, musik yang megah, atau berbagai unsur lahiriah. Keindahan liturgi tampak ketika seluruh tanda liturgis membawa imam dan umat semakin masuk ke dalam misteri Kristus. Dalam konteks ini, keheningan mendapat tempat penting. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi suara, informasi, media sosial, dan berbagai kesibukan, imam membutuhkan ruang untuk kembali mendengarkan suara Tuhan. Keheningan sebelum, selama, dan sesudah perayaan Ekaristi menjadi ruang bagi imam untuk memeriksa kembali hati, memperbarui relasi dengan Kristus, dan menyadari bahwa dirinya bukan pusat perayaan. “Altar bukan panggung tempat imam menjadi aktor utama. Imam dipanggil menjadi transparan agar yang semakin terlihat adalah Kristus,” demikian inti refleksi yang disampaikan.
Waspada terhadap Duniawisme Rohani
Para imam juga diajak menyadari bahaya spiritual worldliness atau duniawisme rohani sebagaimana mendapat perhatian dalam Desiderio Desideravi. Dua bentuk yang perlu diwaspadai adalah Gnostisisme dan Neo-Pelagianisme. Dalam kehidupan imam, Gnostisisme dapat muncul ketika pengetahuan teologis semakin luas, tetapi tidak diikuti kedalaman hidup rohani. Imam dapat mengetahui banyak tentang Ekaristi, tetapi kehilangan rasa kagum dan penyembahan; mengetahui banyak tentang Kitab Suci, tetapi kurang memberi ruang bagi Sabda untuk mengubah hidupnya.
Sementara itu, Neo-Pelagianisme dapat muncul ketika imam merasa bahwa seluruh keberhasilan pelayanan bergantung pada dirinya sendiri. Program harus berjalan, umat harus hadir, persoalan harus diselesaikan, administrasi harus selesai, dan paroki harus terus berkembang. Kesibukan tersebut memang merupakan bagian dari tanggung jawab pastoral. Namun, ketika imam mulai merasa dirinya sebagai pusat dan seolah-olah keselamatan umat bergantung sepenuhnya pada dirinya, pelayanan dapat berubah menjadi aktivitas yang melelahkan dan kehilangan sumber spiritualnya. Kristuslah Penyelamat. Imam adalah pelayan dan instrumen rahmat-Nya. Karena itu, imam dipanggil bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi sekaligus memiliki kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, aku telah melakukan bagianku. Kini aku menyerahkan hasilnya kepada-Mu.”
Manajemen Paroki sebagai Sarana Pelayanan
Refleksi tentang altar juga dikaitkan dengan kehidupan konkret imam dalam mengelola paroki. Manajemen keuangan yang transparan, administrasi yang tertib, pengelolaan data umat, inventarisasi aset, kaderisasi pengurus, perencanaan pastoral, serta evaluasi program merupakan bagian penting dari tata kelola Gereja. Paroki yang sehat membutuhkan pengelolaan yang baik. Namun, semua itu harus tetap ditempatkan sebagai sarana untuk mendukung misi Gereja, bukan sebagai tujuan akhir. Bahaya muncul ketika seorang imam terlalu larut dalam urusan administratif, rapat anggaran, pembangunan fisik, dan berbagai kegiatan organisasi sehingga kehilangan waktu untuk berdoa, merayakan Ekaristi dengan sungguh, membaca Kitab Suci, melakukan pemeriksaan batin, dan membangun relasi pribadi dengan Kristus. Manajemen pastoral yang baik justru harus membantu imam dan umat semakin dekat kepada Kristus. Dengan demikian, teknologi, administrasi, program kerja, pembangunan fisik, dan berbagai sistem tata kelola Gereja harus tetap menjadi sarana, sedangkan keselamatan jiwa-jiwa dan perutusan Gereja tetap menjadi tujuan.
Imam yang Dihidupi oleh Ekaristi
Bagian penting lainnya dari refleksi adalah ajakan agar Ekaristi tidak berhenti di altar. Setiap kali imam mengucapkan kata-kata Kristus, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kata-kata tersebut sekaligus menjadi panggilan pribadi bagi dirinya. Ekaristi mengajarkan imam untuk memberikan diri. Waktu diberikan bagi umat. Tenaga diberikan bagi pelayanan. Kesabaran diberikan kepada mereka yang sulit. Pengampunan diberikan kepada mereka yang bersalah. Kehadiran diberikan kepada mereka yang kesepian. Hati diberikan kepada mereka yang terluka. Karena itu, imam dipanggil menjadi seperti roti Ekaristi yang dipecah dan dibagikan. Hidup imam bukan hanya untuk dirinya sendiri. Spiritualitas ini menuntut imam untuk terus belajar mendengarkan tanpa cepat menghakimi, melayani tanpa menuntut pujian, mengampuni tanpa menyimpan dendam, dan berkorban tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi. Di sinilah altar menjadi sekolah kekudusan.
Dari Altar Menuju Periferi Kehidupan
Ekaristi juga memiliki dimensi perutusan. Setelah merayakan Ekaristi, umat diutus kembali ke tengah dunia. Demikian pula imam. Misa tidak berhenti ketika perayaan liturgi selesai. Misteri yang dirayakan di altar harus diteruskan dalam kehidupan sehari-hari. Dari altar, imam diutus ke keluarga-keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, orang miskin, orang sakit, kaum lanjut usia, anak-anak dan orang muda, serta mereka yang berada di pinggiran kehidupan. Periferi dalam konteks ini bukan hanya tempat yang jauh secara geografis. Periferi juga menunjuk pada mereka yang berada di luar perhatian: orang yang kesepian, keluarga yang sedang mengalami persoalan, umat yang menjauh dari Gereja, mereka yang terluka, serta mereka yang merasa tidak lagi memiliki tempat dalam komunitas.
Karena itu, alur spiritualitas imam dapat dirumuskan: Altar → persatuan dengan Kristus → pertobatan hati → persaudaraan → perutusan → periferi kehidupan. Altar bukan titik akhir pelayanan imam. Altar adalah sumber perutusan.
Ekaristi dan Persaudaraan Imam
PERPAS II juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali persaudaraan dalam presbiterium. Ekaristi yang membangun persekutuan tidak dapat dipisahkan dari relasi persaudaraan antarimam. Para imam tidak dipanggil berjalan sendiri-sendiri. Mereka dipersatukan dalam satu presbiterium bersama uskup untuk melayani umat Allah. Karena itu, spiritualitas Ekaristi harus menjauhkan imam dari persaingan, iri hati, popularitas, dan kepentingan pribadi. Sebaliknya, Ekaristi mengajarkan bahwa setiap imam adalah saudara yang sama-sama dipanggil untuk melayani Kristus. Kerendahan hati menjadi salah satu buah penting dari spiritualitas ini. Imam dipanggil untuk berani menerima koreksi, mengakui kesalahan, mendengarkan rekan imam dan umat, memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang, serta membangun kesatuan dengan uskup dan seluruh presbiterium.
Dari Altar Menuju Kekudusan
Pada akhirnya, kekudusan imam bukan sesuatu yang abstrak dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Kekudusan bertumbuh ketika imam berdoa, mengampuni, menjaga integritas, setia terhadap tugas, mengunjungi orang sakit, mendengarkan umat, menemani mereka yang menderita, serta tetap setia ketika pelayanan menghadirkan berbagai kesulitan. Ekaristi yang dirayakan di altar harus masuk ke dalam cara imam berpikir, berbicara, menggunakan waktu, memperlakukan umat, menghadapi persoalan, mengampuni, dan mengasihi.
Karena itu, spiritualitas meja altar dapat dirangkum dalam sebuah panggilan sederhana: Imam yang merayakan Ekaristi dipanggil untuk dihidupi oleh Ekaristi, sehingga ia dapat diutus untuk menjadi Ekaristi yang hidup bagi umat dan dunia.
PERPAS II Keuskupan Larantuka menjadi kesempatan bagi para imam untuk kembali kepada sumber panggilannya. Bukan sekadar mengevaluasi apa yang telah dilakukan, tetapi terutama membiarkan diri kembali dibentuk oleh Kristus. Sebab pada akhirnya, seluruh perjalanan imam harus membawa kepada satu kesadaran: semakin banyak Kristus terlihat dalam dirinya dan semakin sedikit dirinya menjadi pusat. Dari altar menuju kehidupan. Dari kehidupan menuju pelayanan. Dari pelayanan menuju periferi. Dari periferi menuju kekudusan. Dan semuanya berawal dari kerinduan Kristus: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu.” **


