KETIKA IMAM TIDAK BERJALAN SENDIRI: Persaudaraan Menjadi Kekuatan Gereja Lokal Keuskupan Larantuka

Persaudaraan imamat tidak berhenti pada pertemuan formal atau kegiatan organisasi. Persaudaraan harus menjadi kenyataan hidup yang dirasakan dalam keseharian para imam. Karena itu, para imam perlu memiliki ruang untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, mendengarkan pergumulan, memberikan dukungan, dan meneguhkan satu sama lain dalam panggilan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

SAROTARI, Komsos Larantuka — Gereja yang kuat tidak dibangun oleh imam-imam yang berjalan sendiri-sendiri. Kekuatan Gereja tumbuh ketika para imam saling mengenal, saling meneguhkan, saling mendoakan, dan bersama-sama memikul tanggung jawab atas kehidupan serta perutusan Gereja.
Pesan itu disampaikan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ketika menyapa para imam dalam Pertemuan Unio Keuskupan Larantuka, Jumat, 25 September 2026, di Gedung OMK Sarotari Larantuka. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Pastoral (PERPAS) II Keuskupan Larantuka 2026.
Bagi Mgr. Hans, persaudaraan imamat tidak boleh berhenti pada pertemuan formal atau kegiatan organisasi. Persaudaraan harus menjadi kenyataan hidup yang dirasakan dalam keseharian para imam. Karena itu, para imam perlu memiliki ruang untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, mendengarkan pergumulan, memberikan dukungan, dan meneguhkan satu sama lain dalam panggilan.
“Yang penting adalah bagaimana kita mempunyai hati untuk Keuskupan Larantuka,” demikian semangat yang ditekankan Bapa Uskup.
Pertemuan Unio diawali dengan laporan Pengurus Unio mengenai sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan, termasuk keikutsertaan dalam pertemuan UNINDO di Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan, pada 14–18 September 2026.
Saat ini Unio Keuskupan Larantuka beranggotakan 115 imam yang tersebar dalam berbagai tugas pelayanan. Pengurus Unio terdiri dari Ketua RD. Barnabas Huba Koban, Wakil/Sekretaris RD. Leonardus Lewokrore, dan Bendahara RD. Petrus Ece Muda.
Mgr. Hans mengapresiasi pengurus dan seluruh anggota Unio yang terus mengambil bagian dalam kehidupan pastoral Keuskupan Larantuka. Namun, ia mengingatkan agar persaudaraan tidak berhenti pada laporan kegiatan dan agenda administratif.
Perbedaan usia, pengalaman, latar belakang, maupun tempat pelayanan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi tembok pemisah. Sebaliknya, keberagaman tersebut dapat menjadi kekayaan ketika para imam melihat satu sama lain sebagai saudara dalam satu imamat dan satu perutusan.

Pertemuan UNIO Keuskupan Larantuka

Perhatian Bapa Uskup juga menyentuh kehidupan para imam. Keuskupan, katanya, perlu mulai memikirkan masa depan imam yang memasuki usia lanjut, termasuk kemungkinan penyediaan rumah bagi mereka. Pelayanan kesehatan juga perlu diperhatikan, termasuk pemanfaatan BPJS.
Para imam pun diajak untuk merawat kesehatan tubuh, pikiran, dan kehidupan rohani. Merawat diri bukan berarti mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap panggilan dan perutusan.
Di sisi lain, para imam diingatkan untuk belajar dari iman umat yang sederhana. Iman yang hidup dalam keluarga, doa-doa harian, devosi, tradisi, dan kesetiaan umat dalam menghadapi kehidupan merupakan kekayaan Gereja yang perlu didengarkan dan dihargai.
Gereja, demikian semangat yang disampaikan, tidak hanya bertumbuh melalui program pastoral dan struktur kelembagaan, tetapi juga melalui perjumpaan dengan iman umat yang hidup.
Dalam pengelolaan aset, Mgr. Hans menegaskan pentingnya tanggung jawab dan transparansi. Aset Unio merupakan bagian dari aset Keuskupan yang dipercayakan untuk mendukung kehidupan dan perutusan Gereja.
Menutup sapaan, Bapa Uskup menyambut baik rencana retret bersama para imam. Retret hendaknya menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan pelayanan, masuk dalam keheningan, dan kembali menemukan kekuatan dalam Tuhan.
“Masuk dalam keheningan dan doa. Mari kita gunakan waktu untuk membangun hidup rohani kita,” ajaknya.
Pada akhirnya, pesan Mgr. Hans kembali kepada satu hal mendasar: para imam adalah saudara dalam satu imamat dan bersama-sama diutus untuk melayani umat Allah.
“Mari saling meneguhkan dan saling mendoakan,” pesannya.
Sebab, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka membutuhkan imam-imam yang tidak berjalan sendiri, tetapi berjalan bersama sebagai saudara dalam satu imamat dan satu perutusan.**

You may also like