Sun. Apr 19th, 2026

TUHANLAH SUMBER GEMBIRAKU: Seminari San Dominggo Rayakan 60 Tahun Imamat P. Paulus Boli Lamak, SVD

Dari kiri ke kanan: Mgr. Yohanes Hans Monteiro, P. Paulus Boli Lamak, SVD (Yubilaris), RD. Martin Kapitan (Rektor Sesado)

SEMINARI SAN DOMINGGO, Komsos Larantuka – Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti komunitas Seminari Menengah San Dominggo pada Minggu, 19 April 2026. Momentum ini menjadi peristiwa istimewa bagi Komunitas Seminari San Dominggo: para pastor pendamping, para siswa seminari, para guru, para pegawai, karyawan dan karyawati merayakan 60 tahun hidup imamat Pater Paulus Boli Lamak, SVD, seorang imam yang telah mengabdikan sebagian besar hidup dan karyanya di seminari ini.
Perayaan ekaristi syukur berlangsung khidmat di Kapela Seminari San Dominggo pada pukul 16.30 WITA. Misa dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, didampingi uskup emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung serta sejumlah imam konselebran. Hadir pula para frater, suster, seminaris, dan umat yang memenuhi kapela untuk mengikuti perayaan penuh makna tersebut. Nuansa liturgi semakin hidup dengan iringan koor yang membawakan lagu-lagu kebangkitan, menegaskan suasana Paskah yang penuh harapan dan sukacita.
Dalam pengantarnya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa perjalanan panjang Pater Paulus Boli merupakan tanda nyata kesetiaan Allah yang terus bekerja dalam diri manusia. Menurutnya, panggilan imamat bukan sekadar perjalanan pribadi, melainkan bagian dari rencana keselamatan Allah yang dinyatakan melalui kesetiaan seorang hamba. Ia juga mengajak umat untuk melihat teladan hidup Pater Paulus Boli sebagai inspirasi untuk tetap setia dalam panggilan masing-masing, apa pun bentuk dan tantangannya.
Pater Paulus Boli Lamak memiliki hubungan yang sangat erat dengan Seminari San Dominggo. Ia tercatat sebagai salah satu anggota angkatan pertama sejak seminari ini berdiri pada tahun 1950. Perjalanan panggilannya menuju imamat mencapai puncak ketika ia ditahbiskan pada 17 April 1966 di Gereja Katedral Larantuka oleh Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, SVD. Sejak saat itu, ia menjalani hidup sebagai imam misionaris dengan penuh dedikasi dan semangat pelayanan.
Dalam homilinya, Pater Paulus Boli mengangkat tema tahbisannya, “Tuhanlah Sumber Gembiraku”, sebagai benang merah perjalanan hidup imamatnya. Ia mengenang berbagai pengalaman dalam karya perutusannya, dimulai dari Bali selama sembilan tahun, kemudian melanjutkan pelayanan di Surabaya dan Jakarta. Dalam setiap tempat tugas, ia menghidupi prinsip sederhana namun mendalam, yakni melihat, mendengar, bertanya, lalu bertindak. Baginya, pendekatan ini menjadi cara konkret untuk memahami umat dan melayani mereka dengan tepat.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Ia mengisahkan pengalaman pahit seperti penolakan, fitnah, hingga peristiwa yang mengancam nyawanya. Saat bertugas di Jakarta, ia pernah mengalami situasi berbahaya seperti ditodong dan diteror. Ia juga pernah mengalami kecelakaan serius yang hampir merenggut nyawanya. Namun semua pengalaman itu tidak mematahkan semangatnya, melainkan semakin meneguhkan imannya.
“Semua ini adalah rahmat Tuhan,” ungkapnya dengan penuh keyakinan. Ia melihat setiap peristiwa hidupnya sebagai bagian dari penyertaan Tuhan yang setia. Mengutip pesan Injil, ia menegaskan bahwa seorang imam diutus ke tengah dunia yang penuh tantangan, bahkan seperti domba di tengah serigala. Namun justru dalam situasi itulah iman diuji dan diteguhkan.
Setelah menjalani berbagai tugas perutusan, Pater Paulus Boli kembali ke Seminari San Dominggo dan mengabdikan dirinya sebagai pembina, pengajar, serta rektor selama tiga periode. Ia menyadari bahwa tugas tersebut tidak ringan, namun dijalani dengan sukacita karena berakar pada Kristus sebagai dasar hidupnya. Hingga masa purna bakti, ia tetap hadir di tengah komunitas seminari, mendampingi para seminaris dan menjadi teladan hidup bagi generasi muda.
Kini, di usia yang telah lanjut, Pater Boli menjalani masa pensiun di Biara Simeon, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Ia menyadari bahwa banyak rekan seangkatannya telah berpulang, sementara dirinya masih diberi kesempatan hidup. Hal itu ia hayati sebagai misteri rahmat Tuhan yang patut disyukuri.
Perayaan 60 tahun imamat ini menjadi kesaksian hidup tentang kesetiaan, ketekunan, dan sukacita dalam melayani Tuhan. Sosok Pater Paulus Boli Lamak, SVD tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus berjalan dalam iman dengan penuh kegembiraan. (Fr. Alfos Boruk)

Related Post