PERPAS II 2026, Komsos Larantuka — Setelah mengevaluasi pelaksanaan Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026, Pertemuan Pastoral (PERPAS) II Keuskupan Larantuka 2026 selanjutnya membahas arah dan kompilasi bahan APP 2027. Bahan tersebut dirangkum oleh Sekretariat Pastoral (SEKPAS) Keuskupan Larantuka berdasarkan masukan dari tiga dekenat, yakni Dekenat Lembata, Adonara, dan Larantuka.
Tema APP 2027 “Membangun Persatuan di Tengah Dunia yang Terluka” diarahkan bukan sekadar sebagai gerakan pengumpulan dana selama masa Prapaskah, melainkan sebagai gerakan pembinaan iman yang mengajak umat membaca realitas kehidupan dalam terang Injil. Tema ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan manusia dewasa ini tidak terlepas dari berbagai bentuk luka. Luka itu hadir dalam keluarga, komunitas, Gereja, masyarakat, bahkan dalam relasi manusia dengan alam dan lingkungan hidup. Karena itu, persatuan tidak dipahami hanya sebagai keadaan ketika tidak terjadi konflik. Persatuan merupakan panggilan iman yang harus terus dibangun, dirawat, dipulihkan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Luka Menuju Persatuan
Perjalanan APP 2027 dirancang dalam lima minggu. Umat secara bertahap diajak mengenali berbagai luka yang mengganggu persatuan, memahami persatuan sebagai kehendak Allah, menyadari panggilan dan perutusan untuk membangun persatuan, mengenali tantangan yang dihadapi, hingga menemukan harapan baru bersama Kristus yang bangkit. Pada minggu pertama, umat diajak melihat secara jujur berbagai bentuk luka yang hadir dalam kehidupan. Luka persatuan tidak selalu berupa konflik besar atau peperangan. Dalam kehidupan sehari-hari, luka dapat muncul melalui konflik kepentingan, perbedaan pilihan politik, konflik sosial dan agraria, primordialisme, eksklusivisme, stigma, stereotip, serta berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga. Di tingkat yang lebih luas, APP 2027 juga mengangkat realitas perang, krisis air, pangan dan energi, kerusakan ekosistem, ketimpangan sosial-ekonomi serta migrasi.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga menjadi bagian dari refleksi. Teknologi dapat membantu manusia dan memperluas kemungkinan kehidupan, tetapi penyalahgunaan teknologi juga dapat menghadirkan persoalan baru, terutama ketika manusia dan martabatnya justru ditempatkan sebagai korban. Namun, APP 2027 tidak berhenti pada gambaran tentang dunia yang terluka. Di tengah berbagai persoalan tersebut, masih terdapat banyak pengalaman persatuan yang hidup dalam masyarakat. Persatuan tampak dalam keluarga, kebersamaan dalam Komunitas Basis Gerejani (KBG), dialog tiga tungku, solidaritas antarsesama, kerja sama antarkampung, serta kebersamaan ketika masyarakat menghadapi kematian, hajatan, maupun bencana. Pengalaman-pengalaman tersebut dipandang sebagai kekuatan yang perlu dikenali, dirawat, dan dikembangkan.
Ketika Persatuan Kehilangan Arah
Refleksi minggu pertama antara lain menggunakan kisah Menara Babel dalam Kejadian 11:1-9. Kisah Babel tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan sebuah menara. Kisah tersebut dibaca sebagai gambaran tentang ambisi manusia yang ingin mencari nama bagi dirinya sendiri dan menempatkan dirinya sebagai pusat. Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada persatuan itu sendiri. Persatuan merupakan bagian dari panggilan manusia. Persoalan muncul ketika persatuan berubah menjadi keseragaman dan dibangun berdasarkan kesombongan serta kepentingan diri. Dalam perspektif tersebut, keberagaman bahasa, budaya dan cara hidup tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap persatuan. Keberagaman justru dapat menjadi kekayaan yang memungkinkan manusia saling melengkapi. Karena itu, persatuan Kristiani tidak identik dengan keseragaman. Persatuan berarti kemampuan untuk hidup bersama dalam kasih sambil tetap menghargai perbedaan.
Persatuan sebagai Kehendak Allah
Memasuki minggu kedua, APP 2027 bergerak dari pengenalan terhadap luka menuju pertanyaan yang lebih mendasar: apa idealisme persatuan di tengah dunia yang terluka? Jawaban pertama-tama ditemukan dalam doa Yesus bagi para murid dalam Yohanes 17:20-26. Menjelang sengsara-Nya, Yesus berdoa agar para murid-Nya bersatu. Dengan demikian, persatuan umat beriman bukan sekadar kebutuhan organisatoris atau sosial. Persatuan merupakan bagian dari kehendak dan rencana keselamatan Allah.
Persatuan Kristiani berakar pada relasi kasih antara Bapa dan Anak. Karena itu, persatuan tidak berarti menghapus identitas dan perbedaan. Persatuan justru memungkinkan perbedaan hidup berdampingan dalam kasih. Persatuan umat beriman juga mempunyai dimensi misioner. Ketika umat hidup dalam persatuan, kehidupan mereka menjadi kesaksian bahwa kasih Allah hadir dan bekerja di tengah dunia.
Refleksi ini ditempatkan dalam terang sejumlah dokumen Gereja, antara lain Fratelli Tutti mengenai persaudaraan universal dan persahabatan sosial serta Ut Unum Sint mengenai panggilan Gereja menuju persatuan. Semangat Gereja sinodal juga menjadi bagian dari refleksi melalui penekanan pada persekutuan, partisipasi dan misi. Dalam konteks Keuskupan Larantuka, gagasan tersebut diperkaya dengan nilai-nilai budaya Lamaholot dan Kedang, kearifan lokal, nilai-nilai Pancasila, praktik hidup bersama, serta pengalaman komunitas. Semuanya kemudian dihubungkan dengan enam ciri KBG dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Larantuka.
Persatuan Bukan Sekadar Harapan
Pada minggu ketiga, umat diajak menyadari bahwa persatuan bukan sesuatu yang hanya dikagumi atau diharapkan. Persatuan adalah panggilan yang harus diwujudkan dalam kehidupan konkret. Panggilan tersebut berakar pada sakramen inisiasi: Baptis, Krisma dan Ekaristi—serta tugas perutusan Gereja. Kehidupan umat beriman mendapatkan dasarnya dalam kehidupan Allah Tritunggal dan diwujudkan dalam Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Surat Paulus kepada jemaat di Efesus memberikan dasar penting: satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa dari semua. Namun, kesatuan tersebut tidak menghapus keberagaman. Setiap orang menerima karunia yang berbeda untuk membangun Tubuh Kristus.
Karena itu, persatuan tidak berarti semua orang harus mempunyai peran, cara berpikir atau cara bertindak yang sama. Keberagaman karunia justru menjadi kekayaan yang memungkinkan Gereja menjalankan perutusannya. Tanggung jawab membangun dan memelihara persatuan, karena itu, bukan hanya tugas para pemimpin Gereja. Setiap orang beriman dipanggil mengambil bagian dalam membangun persatuan.
Tantangan Persatuan Berasal dari Dalam dan Luar
Minggu keempat mengajak umat melihat berbagai tantangan yang dapat menghambat persatuan. Tantangan itu dapat berasal dari dalam diri manusia, seperti egoisme, iri hati, keserakahan, kesombongan, hedonisme, konflik kepentingan dan berbagai bentuk dosa.
Sementara itu, tantangan dari luar mencakup primordialisme, persoalan sosial-politik-ekonomi-budaya, bencana alam, peperangan, perubahan iklim, krisis air, pangan dan energi, perkembangan teknologi dan AI, media sosial, kebijakan publik, migrasi, budaya pesta, krisis keteladanan, minuman keras, serta berbagai konflik sosial.
Karena itu, membangun persatuan membutuhkan pertobatan dan rekonsiliasi, baik secara pribadi maupun bersama. Persatuan tidak mungkin dibangun hanya dengan mengubah struktur di luar diri apabila manusia sendiri masih dikuasai egoisme, kebencian, kepentingan kelompok dan keinginan mempertahankan diri. Refleksi dari I Korintus 3:1-9 (bdk. Yohanes 15:18-27) mengingatkan bahwa para murid hidup di tengah dunia, tetapi dipanggil untuk tidak mengikuti sistem nilai yang menolak kasih dan kebenaran.
Tantangan persatuan semakin besar ketika manusia mulai membangun batas yang tajam antara “kita” dan “mereka”. Prasangka, fanatisme dan kepentingan kelompok dapat memperlebar jarak dan melahirkan konflik. Namun, membangun persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Persatuan menuntut keberanian untuk menjembatani perbedaan dengan tetap berpegang pada iman dan kebenaran.
Emaus: Ketika Luka Berubah Menjadi Harapan
Puncak perjalanan APP 2027 berada pada minggu kelima. Setelah umat diajak mengenali luka, memahami makna persatuan, menyadari panggilan dan menghadapi tantangan, umat akhirnya diarahkan kepada sumber harapan, yakni Yesus Kristus yang bangkit. Kebangkitan Kristus menghadirkan harapan baru dan membuka kemungkinan bagi manusia untuk membangun kembali relasi yang terluka. Buah kehidupan Ekaristi ditempatkan dalam hubungan dengan iman, persatuan, solidaritas dan bela rasa. Umat tidak berhenti pada perayaan iman, tetapi diutus membawa damai sejahtera ke tengah kehidupan masyarakat.
Kisah dua murid menuju Emaus dalam Lukas 24:13-35 menjadi gambaran kuat mengenai perjalanan tersebut. Kedua murid meninggalkan Yerusalem karena kecewa dan terluka oleh kematian Yesus. Mereka menjauh dari komunitas. Tetapi Yesus yang bangkit hadir di tengah perjalanan mereka. Yesus berjalan bersama mereka. Ia mendengarkan kekecewaan mereka. Ia menjelaskan Kitab Suci dan akhirnya dikenali dalam pemecahan roti. Perjumpaan itu mengubah mereka. Luka menjadi harapan. Kekecewaan berubah menjadi sukacita. Mereka kemudian kembali kepada komunitas di Yerusalem. Kisah Emaus menunjukkan bahwa pemulihan persatuan membutuhkan kehadiran, dialog, kemampuan mendengarkan dan penerangan Sabda Allah. Kebangkitan Kristus tidak hanya menyembuhkan hati manusia secara pribadi, tetapi juga memulihkan relasi dan mengembalikan manusia kepada komunitas.
Dari APP Menjadi Gerakan Persatuan
Dengan seluruh rangkaian tersebut, APP 2027 Keuskupan Larantuka diarahkan menjadi lebih dari sekadar kegiatan pengumpulan dana pada masa Prapaskah. APP menjadi sebuah perjalanan pembinaan iman yang membantu umat membaca kenyataan hidup dalam terang Injil dan menemukan panggilan untuk terlibat dalam kehidupan bersama. Lima minggu APP 2027 membentuk sebuah perjalanan iman: mengenali luka, memahami persatuan, menyadari panggilan, menghadapi tantangan, dan bergerak bersama Kristus yang bangkit menuju harapan. Persatuan yang dimaksud bukanlah persatuan yang menghapus perbedaan. Persatuan lahir ketika perbedaan dapat diterima, dialog dibangun, solidaritas diperkuat dan setiap orang mengambil bagian dalam membangun kehidupan bersama.
Arah tersebut menemukan resonansi dengan motto episkopal Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro: “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” – “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan.” Motto tersebut menggambarkan Gereja sebagai satu tubuh dengan beragam anggota dan karunia yang dipanggil untuk berjalan bersama dalam satu pengharapan. Pada akhirnya, APP 2027 mengajak umat bergerak dari pertanyaan tentang apa yang membuat manusia terpecah menuju pertanyaan yang lebih konstruktif: apa yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkan luka dan membangun kembali persatuan? Usulan materi visual APP 2027 merangkum harapan tersebut melalui seruan Yesus dalam Yohanes 17:21: “Semoga mereka semua bersatu.” Seruan ini bukan sekadar slogan. Ia menjadi undangan untuk menghadirkan persatuan secara nyata: hadir bagi yang terluka, berani mendengarkan, membuka ruang dialog, menerima perbedaan, memperkuat solidaritas, merawat lingkungan, dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih manusiawi. Dengan demikian, APP 2027 Keuskupan Larantuka hendak mengubah pengalaman luka menjadi jalan menuju harapan. Bersama Kristus yang bangkit, umat dipanggil menjadi pembawa persatuan di tengah dunia yang terluka.**




