LARANTUKA, Komsos Larantuka — Apa yang terjadi setelah lima minggu umat menjalani Aksi Puasa Pembangunan (APP)? Apakah semangat solidaritas yang tumbuh selama masa Prapaskah berhenti ketika Prapaskah berakhir, atau justru menjadi awal dari gerakan ekonomi umat yang terus hidup? Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Evaluasi Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 Keuskupan Larantuka yang disampaikan Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Larantuka, RD Fransiskus Kwaelaga (Romo Ancis), dalam rangkaian Pertemuan Pastoral (PERPAS) II 2026.
APP 2026 mengusung tema “Membangun Solidaritas Ekonomi sebagai Tanda Pengharapan.” Gerakan ini tidak dimaksudkan sekadar sebagai kegiatan rohani selama masa Prapaskah, tetapi sebagai ruang bagi umat untuk melihat kembali kehidupan ekonomi keluarga, membangun kepedulian terhadap sesama, dan mengembangkan berbagai aksi nyata di tingkat Kelompok Basis Gerejani (KBG), stasi, paroki, keluarga, dan sekolah.
Menurut Romo Ancis, evaluasi yang disusun Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka (Sekpas) memperlihatkan bahwa semangat solidaritas ekonomi mulai tumbuh di berbagai komunitas umat. Bentuknya beragam, mulai dari arisan dan kas KBG, kelompok simpan-pinjam, kebun KBG, kelompok tani, kegiatan karitatif, hingga pendampingan pengelolaan ekonomi keluarga.
Namun, evaluasi juga memperlihatkan bahwa perjalanan masih panjang. Tantangan Gereja ke depan bukan lagi sekadar bagaimana membuat umat mengikuti kegiatan APP, melainkan bagaimana memastikan bahwa kesadaran yang tumbuh selama Prapaskah berubah menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
APP dalam Arah Pastoral Keuskupan
Tema APP 2026 memiliki hubungan erat dengan arah pastoral Keuskupan Larantuka. Tahun 2025 menjadi momentum evaluasi Program Jangka Pendek Tahap III (PJPT III). Dalam lokakarya pastoral pada 21 November 2025, salah satu arah yang ditetapkan adalah menjadikan tahun 2026 sebagai tahun pemberdayaan ekonomi. Karena itu, APP 2026 tidak berdiri sendiri. Masa Prapaskah ditempatkan sebagai kesempatan bagi umat untuk melihat realitas ekonomi yang mereka hadapi, berbagi pengalaman, membangun kesadaran, dan mengambil komitmen bersama.
Puasa dan pertobatan dengan demikian tidak hanya dimengerti sebagai hubungan pribadi manusia dengan Tuhan. Pertobatan juga perlu menemukan bentuk konkretnya dalam cara umat mengelola kehidupan ekonomi keluarga, memperlakukan sesama, menggunakan sumber daya, dan membangun solidaritas dengan mereka yang mengalami kesulitan.
Disiapkan melalui Proses Panjang
Bahan APP 2026 disusun melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan Sekpas, PEPIMDILA, serta para katekis. Proses tersebut dimulai sejak September 2025 melalui penyusunan kerangka dasar, gagasan pokok mingguan, dan pendalaman pesan Kitab Suci. Setelah itu dilakukan sosialisasi di tingkat Sekpas dan tim penyusun. Bahan kemudian dikembangkan untuk empat bidang utama, yakni Bina Iman Anak (BIA), Pendidikan Agama Katolik Sekolah/Lembaga (PAK SL), Ibadat KBG, dan Katorde.
Proses penyusunan dilanjutkan melalui pleno tingkat dekenat dan pleno tingkat keuskupan. Setelah melalui tahap penyuntingan, bahan dicetak, dikemas, dan didistribusikan ke tiga dekenat: Larantuka, Adonara, dan Lembata. Secara umum, proses pemesanan, pencetakan, pengepakan, dan distribusi bahan APP 2026 berjalan sesuai dengan jadwal yang telah dirancang.
55 Paroki Menjalankan APP
Dari sisi pelaksanaan, seluruh 55 paroki di Keuskupan Larantuka dilaporkan menjalankan kegiatan APP dan melakukan evaluasi pada akhir Minggu V. Namun demikian, persoalan data masih menjadi salah satu catatan penting. Tidak semua paroki mengembalikan format evaluasi kepada tingkat dekenat. Akibatnya, tingkat partisipasi umat belum seluruhnya dapat diukur secara akurat. Persoalan serupa juga ditemukan dalam pemesanan bahan BIA dan PAK SL. Ada paroki yang tidak memesan bahan dari Sekpas sehingga muncul pertanyaan apakah kegiatan tetap dilaksanakan dan media apa yang digunakan.
Dekenat Lembata dinilai paling lengkap dalam pengisian data. Sementara Dekenat Adonara mendapat apresiasi karena data format yang dipesan dan dikembalikan menunjukkan angka yang sama sehingga tingkat partisipasi yang tercatat mencapai 100 persen. Evaluasi ini menegaskan bahwa data bukan sekadar persoalan administrasi. Data dibutuhkan agar Gereja mampu melihat secara lebih akurat sejauh mana umat terlibat, bahan digunakan, dan program membawa perubahan.
Katorde: Ketika Umat Berbicara tentang Kehidupan Nyata
Salah satu bagian penting APP 2026 adalah Katorde. Secara umum, pelaksanaannya berlangsung baik. Umat aktif mengikuti proses dan suasana dialogis terbangun di banyak KBG. Bahkan, sejumlah KBG melanjutkan pertemuan dengan makan bersama. Hal sederhana ini menunjukkan bahwa Katorde tidak hanya menjadi forum membicarakan tema APP, tetapi juga menjadi ruang membangun kembali relasi dan persaudaraan.
Materi Katorde dinilai relevan karena menyentuh kehidupan nyata umat: keluarga, ekonomi, kehidupan sosial, kebersamaan, dan semangat saling membantu yang telah lama hidup dalam budaya lokal seperti gemohing, tulung taling, dan kumpo kao. Meski demikian, bahan Katorde dinilai masih terlalu panjang dan padat. Sejumlah istilah teknis, ilmiah, dan teologis belum mudah dipahami oleh semua umat. Cerita ilustrasi juga dinilai perlu semakin disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat setempat. Dari sisi fasilitator, terdapat banyak pengalaman positif. Sejumlah fasilitator mampu menjelaskan bahan dengan bahasa sederhana, bahkan menggunakan bahasa daerah. Namun jumlah fasilitator masih terbatas dan sebagian masih didominasi oleh wajah-wajah lama. Ada pula fasilitator yang belum mengikuti pembekalan atau belum mempersiapkan diri secara memadai.
Dari Sharing Menuju Aksi Nyata
Salah satu buah paling konkret APP 2026 terlihat dari berbagai aksi solidaritas ekonomi yang mulai muncul di tingkat KBG. Di sejumlah tempat, umat membangun arisan dan kas KBG, kelompok simpan-pinjam, kebun KBG, dan kelompok tani. Ada pula komunitas yang memberikan perhatian kepada jompo, janda, orang dengan gangguan jiwa, serta keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Berbagai bentuk kreativitas juga muncul, seperti lapak bagi para penyintas, pasar senja, kelompok solidaritas, kelompok pedagang sayur dan ikan, serta pemanfaatan lahan pekarangan.
Pada tingkat paroki, muncul pula sejumlah inisiatif seperti tata kelola keuangan, pilot project PSE KBG, CU Sinar Saron, SILC atau Saving Internal Lending Community, serta kas bersama untuk membantu anggota komunitas yang mengalami kesulitan ekonomi. Umat juga didorong untuk bergabung dalam lembaga keuangan seperti credit union atau koperasi dan membangun kebiasaan menyicil utang secara bertanggung jawab. Solidaritas ekonomi bahkan mulai bersentuhan dengan kepedulian ekologis. Sejumlah komunitas menanam sayuran di pekarangan dan menyiapkan bibit pohon umur panjang seperti jati dan mahoni. Dengan demikian, APP tidak hanya menghasilkan pembicaraan tentang ekonomi. Di beberapa tempat, sharing mulai bergerak menjadi tindakan.
Kesadaran Ekonomi Mulai Bertumbuh
Evaluasi mencatat sejumlah perubahan positif dalam kehidupan umat. Kesadaran tentang pentingnya kemandirian ekonomi, kerja bersama, dan solidaritas mulai tumbuh. Umat mulai terdorong untuk menabung, mengembangkan UBSP, mengelola kas bersama, dan membangun kepedulian terhadap anggota komunitas yang membutuhkan.
APP juga memperkuat semangat persaudaraan dan gotong royong. Dalam beberapa pengalaman, Katorde bahkan menjadi ruang untuk mempertemukan dan mendamaikan anggota keluarga yang sebelumnya mengalami konflik. Umat semakin disadarkan untuk menggunakan sumber daya secara bijak dan bertanggung jawab. Nilai-nilai budaya lokal seperti Gemohing, Kumpu Kampo, Danu Podo Woi, dan Pohta Bora kembali mendapat perhatian sebagai sumber kekuatan solidaritas masyarakat. Evaluasi juga mencatat tumbuhnya kesadaran untuk menolak judi online dan pinjaman online, bekerja secara jujur dan adil, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memperbaiki pengelolaan keuangan keluarga.
Ibadat KBG: Gereja Hadir di Tengah Kehidupan Umat
Selain Katorde, Ibadat KBG menjadi ruang penting dalam pelaksanaan APP. Secara umum, ibadat berlangsung lancar, tertib, dan khidmat. Materinya membantu umat merenungkan kehidupan sehari-hari dalam terang iman dan menemukan kehadiran Allah di tengah pergumulan hidup. Keterlibatan OMK, anak-anak Sekami, dan Sekar sebagai pemimpin ibadat menjadi pengalaman positif. Beberapa pemimpin bahkan menggunakan bahasa daerah sehingga doa terasa lebih dekat dengan umat. Namun, masih ditemukan pemimpin ibadat yang kurang mempersiapkan diri sehingga ibadat terkesan hanya membaca buku panduan. Kehadiran umat di beberapa KBG juga belum optimal.
Meski demikian, secara umum Ibadat KBG dinilai mampu mempererat hubungan kekeluargaan dan membangun persaudaraan. Gereja dengan demikian tidak hanya dirasakan hadir di dalam gedung gereja. Gereja juga hadir dalam ruang kehidupan nyata umat. Karena itu, salah satu rekomendasi evaluasi adalah agar Ibadat KBG tidak berhenti pada masa APP, tetapi terus dikembangkan sepanjang tahun.
BIA: Menanam Solidaritas Sejak Dini
Pelaksanaan Bina Iman Anak (BIA) juga berjalan baik. Anak-anak mengikuti kegiatan dari Minggu I sampai Minggu V, meskipun masih ditemukan persoalan konsentrasi dan partisipasi. Materi yang mengajarkan berbagi, membantu sesama, dan menabung dinilai sesuai dengan dunia anak. Poster dan lagu menjadi media yang membantu anak memahami pesan APP. Evaluasi merekomendasikan penggunaan media yang lebih variatif, seperti gambar, video edukatif, gerak dan lagu, permainan budaya, serta alat peraga.
Materi juga perlu semakin disederhanakan dan disesuaikan dengan pengalaman sehari-hari anak. Dramatisasi Kitab Suci dan permainan peran dinilai dapat membuat Sabda Tuhan lebih hidup dan mudah dipahami. Pendampingan BIA juga perlu dilanjutkan di tingkat KBG sehingga proses pertumbuhan iman anak tidak berhenti di sekolah.
PAK SL: Iman yang Bergerak Menjadi Aksi
PAK SL menghadirkan pengalaman yang menarik. Para siswa tidak hanya mempelajari hubungan antara iman dan ekonomi, tetapi juga melaksanakan aksi nyata sesuai dengan konteks kehidupan sekolah. Bahkan, terdapat aksi yang dilakukan bersama siswa dari agama lain. Materi PAK SL dinilai mudah dipahami dan membantu siswa membaca realitas ekonomi di sekitar mereka. Metode storytelling menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif. Beberapa siswa bahkan mulai mengambil peran sebagai fasilitator bagi teman-temannya. Mereka belajar bahwa kemandirian ekonomi bukan semata-mata kepentingan pribadi, tetapi juga bagian dari tanggung jawab iman untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan solider.
Para siswa semakin diajak memahami bahwa menjadi Katolik berarti menghadirkan iman melalui kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan keberanian membantu mereka yang berkekurangan. Namun, PAK SL masih menghadapi persoalan waktu karena harus menyesuaikan dengan jadwal ujian dan liburan sekolah. Karena itu, evaluasi merekomendasikan penyesuaian waktu, penggunaan lebih banyak video, animasi, dan permainan, serta peningkatan pelatihan bagi para fasilitator.
Bukan Sekadar “Kegiatan Terlaksana”, tetapi “Apa yang Berubah?”
Inilah salah satu catatan paling penting dari evaluasi APP 2026. Selama ini, evaluasi lebih banyak mencatat apakah kegiatan terlaksana: umat berkumpul, mengikuti KBG, semakin sadar akan pertobatan, dan semakin aktif dalam kegiatan rohani. Namun, ukuran tersebut belum cukup untuk membaca dampak APP secara tematis. Karena tema APP 2026 adalah solidaritas ekonomi, evaluasi ke depan perlu bertanya lebih jauh: Apakah kesadaran ekonomi rumah tangga umat meningkat? Apakah kebiasaan menabung berkembang? Apakah pengelolaan keuangan keluarga mengalami perubahan? Apakah solidaritas ekonomi sungguh-sungguh tumbuh dalam komunitas? Dengan demikian, evaluasi APP perlu bergerak dari pertanyaan “Apakah kegiatan dilaksanakan?” menuju pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa yang berubah setelah kegiatan itu dilaksanakan?” Perubahan inilah yang menjadi ukuran penting jika APP hendak ditempatkan sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan ekonomi umat.
APP Tidak Boleh Berhenti Ketika Prapaskah Berakhir
Evaluasi APP 2026 akhirnya mengarah pada satu kesadaran penting: semangat yang muncul selama masa Prapaskah perlu terus dikawal. Aksi-aksi konkret yang lahir dari sharing KBG tidak boleh berhenti sebagai kegiatan sesaat. Para pastor, tim pastoral, dan komunitas umat perlu mendampingi, mengembangkan, dan mengevaluasi berbagai inisiatif yang sudah mulai tumbuh. Jika solidaritas ekonomi berkembang menjadi gerakan bersama seluruh Keuskupan Larantuka, APP dapat menjadi salah satu jalan untuk mendorong perubahan nyata dalam kehidupan ekonomi keluarga dan komunitas.
Di sinilah pertobatan Prapaskah menemukan bentuk yang lebih konkret. Pertobatan bukan hanya perubahan dalam doa dan praktik rohani, tetapi juga perubahan cara pandang, sikap, kebiasaan, dan cara umat menjalani kehidupan ekonomi. Pada akhirnya, APP 2026 diarahkan kepada tiga bentuk kemandirian yang hendak dibangun dalam kehidupan umat dan Keuskupan Larantuka: kemandirian spiritual, kemandirian personal, dan kemandirian finansial.
Karena itu, APP 2026 meninggalkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar keberhasilan pelaksanaan program:
Apakah semangat solidaritas yang tumbuh selama lima minggu masa Prapaskah mampu berubah menjadi gerakan ekonomi umat yang terus hidup sepanjang tahun? Jawabannya akan ditentukan bukan hanya oleh banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi oleh kemampuan Gereja untuk mengawal, mendampingi, mengukur, dan mengembangkan berbagai benih solidaritas yang kini mulai tumbuh di tengah KBG, stasi, sekolah, dan paroki. APP boleh berakhir bersama masa Prapaskah. Tetapi gerakan solidaritas ekonomi umat justru baru dimulai.**






