SAROTARI, Komsos Larantuka – Suasana ruang pertemuan di Gedung OMK Keuskupan Larantuka pada hari kedua Pertemuan Pastoral (PERPAS I) 2026 Keuskupan Larantuka (16/4/2026), berlangsung khidmat namun tetap dinamis. Para peserta yang terdiri dari para imam, utusan dekenat, serta tim pastoral mengikuti dengan serius sesi pertama yang membahas Progress Report Annual Program Planning (APP) 2026. Sesi ini dipandu oleh moderator RD. Bernardus Huba Koban dan berfokus pada evaluasi pelaksanaan program selama triwulan pertama tahun 2026.
Evaluasi ini menjadi penting karena tahun 2026 ditetapkan sebagai Tahun Program dengan tema “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman”. Tema tersebut telah dipromulgasikan secara resmi oleh Uskup Larantuka di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka melalui pembacaan Surat Keputusan Uskup. Program ini menjadi arah bersama seluruh karya pastoral di keuskupan, dengan tujuan agar iman umat tidak hanya dihidupi dalam doa, tetapi juga diwujudkan dalam kemandirian ekonomi yang konkret.
Laporan pertama disampaikan oleh Sekretariat Pastoral (Sekpas) yang diwakili RD. Yosef da Silva. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Sekpas telah menjalankan sejumlah program penting, termasuk penyusunan APP 2026 untuk seluruh keuskupan serta penyediaan bahan Aksi Puasa Pembangunan yang telah didistribusikan ke setiap dekenat. Namun demikian, terdapat sejumlah kendala yang dihadapi, terutama keterlambatan pengerjaan bahan di tingkat dekenat yang kerap tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Tahun Program 2026 juga menjadi masa peralihan kepemimpinan dari Uskup Emeritus Fransiskus Kopong Kung kepada Yohanes Hans Monteiro. Meskipun berada dalam masa transisi, arah pastoral keuskupan tetap berfokus pada upaya mewujudkan Gereja lokal yang mandiri dan misioner. Seluruh rencana dan kegiatan pastoral sepanjang tahun ini diarahkan untuk memberdayakan ekonomi umat sebagai bagian dari penghayatan iman kristiani yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain laporan dari Sekpas, tiga dekenat dalam wilayah keuskupan juga menyampaikan progres kegiatan masing-masing. Dengan kekhasan dan potensi yang dimiliki, setiap dekenat menunjukkan berbagai upaya konkret yang telah dilakukan selama tiga bulan pertama. Beberapa kegiatan yang menonjol antara lain sosialisasi CU Sinar Saron, pengembangan UBSP, Saving and Internal Lending Community (SILC), arisan Kelompok Basis Gerejawi (KBG), serta pembentukan kelompok usaha produktif di tingkat umat.
Tidak hanya itu, umat juga mulai didorong untuk menangkap peluang ekonomi dari berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gerakan “masuk kebun” menjadi salah satu langkah nyata yang digalakkan, dengan mengajak umat menanam pohon produktif, tanaman konsumtif, serta pohon kayu yang bernilai ekonomis. Inisiatif-inisiatif ini diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat terus berkembang dan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan di seluruh paroki.
Dalam refleksi di akhir sesi, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan capaian yang telah diraih selama triwulan pertama. Ia menegaskan bahwa program yang dijalankan harus sungguh-sungguh menghasilkan dampak nyata bagi umat. “Capaian program tidak boleh berhenti pada laporan, tetapi harus benar-benar dirasakan oleh umat dalam kehidupan mereka,” tegasnya.
Lebih lanjut, Uskup juga memberikan perhatian pada penataan waktu kegiatan pastoral. Ia mengingatkan agar pesta-pesta Gereja dirayakan sebelum memasuki masa persiapan lahan dan musim tanam, sehingga umat dapat terlibat secara penuh baik dalam kehidupan iman maupun aktivitas ekonomi. Penyesuaian ini dinilai penting agar program pastoral tidak bertabrakan dengan ritme kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian.
Berbagai catatan, kendala, dan rekomendasi yang muncul dalam laporan menjadi bahan refleksi bersama. Para peserta PERPAS diharapkan tidak hanya berhenti pada evaluasi, tetapi juga berkomitmen untuk melakukan tindak lanjut yang konkret di tingkat masing-masing. Sinergi antara Sekpas, dekenat, dan paroki menjadi kunci utama agar seluruh program dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Melalui PERPAS I 2026 ini, Keuskupan Larantuka kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Gereja yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata umat. Pemberdayaan ekonomi tidak lagi dipandang sebagai hal sekunder, melainkan sebagai bagian integral dari perwujudan iman yang hidup dan relevan di tengah masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, Gereja lokal Keuskupan Larantuka terus melangkah menuju cita-cita sebagai Gereja yang mandiri, misioner, dan berpihak pada kesejahteraan umat. (@sly)

