WERI, Komsos Larantuka — Sabda Tuhan tidak ingin hanya tinggal di atas altar atau berdebu di rak-rak rumah. Sabda itu harus dibaca, direnungkan, dirayakan, dan terutama dihidupi. Semangat inilah yang terasa kuat di Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri ketika umat membuka rangkaian kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang melibatkan umat dari tujuh lingkungan di Paroki Weri ini menjadi momentum untuk kembali menghidupkan kecintaan terhadap Kitab Suci. Pembukaan diawali dengan perarakan Kitab Suci dari gedung gereja menuju Aula Paroki Weri yang menjadi pusat kegiatan.
Umat dan para peserta berjalan bersama sambil membawa Kitab Suci. Perarakan tersebut bukan sekadar seremoni pembukaan. Ia menjadi tanda bahwa Sabda Allah hendak dibawa keluar dari gedung gereja dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari umat.
Setibanya di aula, kegiatan dilanjutkan dengan Ibadat Sabda. Dalam renungan pembukaan, umat diajak untuk semakin mengenal, mendalami, merenungkan, dan mewartakan kasih Allah di tengah perubahan zaman.
Tema BKSN 2026, “Yesus Guru yang Penuh Kuasa”, menjadi ajakan untuk melihat kembali siapa Yesus dalam kehidupan umat beriman. Mengakui Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa bukan sekadar mengagumi ajaran-Nya, tetapi mempercayai Sabda-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan membiarkan kuasa-Nya mengubah pikiran, sikap, serta arah hidup setiap hari.
Semangat itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai kegiatan perlombaan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 26–27 September 2026.
Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci Paroki, Mery Apriyanti, dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, secara khusus umat Lingkungan Santo Gabriel yang dipercayakan menjadi panitia penyelenggara.
Mewakili umat Lingkungan Santo Gabriel, Aloysia Makasa Herin menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Pastor Paroki dan Dewan Pastoral Paroki kepada lingkungan mereka untuk menjadi panitia. Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang telah membantu mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
“Semoga pelayanan yang kami berikan menjadi berkat bagi seluruh umat paroki sehingga nama Tuhan Yesus yang penuh kuasa semakin dimuliakan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPP Paroki Weri, Silvester Kian Witin, mengingatkan bahwa semangat BKSN hendaknya tidak berhenti pada perlombaan. Menurutnya, momentum ini harus menjadi kesempatan untuk membangun budaya membaca Kitab Suci, terutama dalam keluarga.
Ia berharap perlombaan menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan umat terhadap Sabda Tuhan sejak usia dini. Dengan demikian, nilai-nilai Kristiani tidak hanya diketahui, tetapi perlahan menjadi bagian dari kehidupan dan karakter umat.
Pesan yang sama ditegaskan Pastor Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri, RD. Robet Lagamanu, ketika membuka kegiatan secara resmi.
Pastor Robet mengingatkan umat bahwa Kitab Suci merupakan surat cinta Allah kepada manusia.
“Melalui Bulan Kitab Suci Nasional ini, mari kita galakkan kembali gerakan mencintai Kitab Suci. Jangan biarkan Kitab Suci berdebu di rak rumah kita. Bacalah, renungkanlah, dan hiduplah seturut Sabda-Nya setiap hari,” pesannya.
Ajakan tersebut mendapat sambutan meriah dari umat.
Setelah pembukaan, suasana aula pun berubah menjadi semarak. Para peserta dari berbagai kelompok usia mulai menunjukkan kemampuan mereka dalam sejumlah mata lomba. Untuk kategori anak-anak, digelar lomba Tutur Kitab Suci tingkat SD dan SMP.
Sementara itu, lomba Baca Kitab Suci melibatkan peserta tingkat SMP, SMA/OMK, ibu-ibu, dan bapak-bapak. Ada pula Lomba Mazmur untuk kategori yang sama.
Antusiasme peserta tampak sejak penampilan pertama. Ada yang tampil dengan penuh percaya diri, ada yang membawa suasana dengan suara merdu, dan ada pula yang masih terlihat gugup. Namun, semuanya memiliki tujuan yang sama: merayakan Sabda Tuhan dengan cara mereka masing-masing.
Para juri menilai kemampuan peserta dari aspek vokal, artikulasi, penguasaan teks, dan penghayatan. Sementara itu, para suporter membuat suasana aula semakin hidup dengan tepuk tangan dan dukungan bagi peserta dari lingkungan masing-masing.
Pada akhirnya, BKSN di Paroki Weri bukan terutama tentang siapa yang menjadi juara. Lebih jauh dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali membuka Kitab Suci dan menemukan bahwa di balik setiap halaman terdapat Sabda yang hendak berbicara kepada kehidupan manusia.
Dari Weri, akhir pekan ini menjadi pengingat sederhana: Kitab Suci jangan hanya disimpan. Sabda Tuhan harus dibaca, direnungkan, dan dihidupi. Sebab ketika Sabda mulai tinggal dalam hati umat, di situlah iman menemukan jalan untuk bertumbuh dan persaudaraan menemukan alasan untuk semakin kuat. (C’ARN)

