DAPUR ALAM WATUWAWER TERANCAM?: Uskup Larantuka Ajak Umat Lestarikan Alam

by Komsos Keuskupan Larantuka

WATUWAWER, Komsos Larantuka – Di sela-sela rangkaian Kunjungan Kanonis ke Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek dan Paroki St. Antonius Padua Kalikasa pada 12–15 Juni 2026, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro bersama rombongan berkesempatan mengunjungi Dapur Alam (Ina Kar) di Watuwawer, Minggu (14/6/2026).
Kunjungan tersebut menjadi salah satu momen berkesan dalam perjalanan pastoral Uskup di wilayah Atadei. Selain menyaksikan secara langsung keindahan alam yang masih terjaga, Uskup juga melihat dari dekat bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan sumber panas bumi alami untuk memasak berbagai jenis makanan secara tradisional.
Setibanya di lokasi, Bapak Uskup disambut hangat oleh para tokoh adat dan masyarakat yang telah menanti dengan setia. Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi perjumpaan itu. Kehadiran gembala utama Keuskupan Larantuka di tengah masyarakat Watuwawer menjadi pengalaman yang sangat dinantikan.

Lokasi Dapur Alam Watuwawer (14/06/2026)

Masyarakat berebutan mendekati sang gembala untuk bersalaman, meminta berkat, dan menerima penumpangan tangan. Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai harapan dan isi hati mereka kepada Uskup Larantuka.
“Kami sangat bersyukur karena Bapa Uskup berkenan datang mengunjungi kami di tempat ini,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat yang hadir dalam pertemuan itu.
Dalam kunjungan ini, Uskup bersama rombongan juga dijamu dengan aneka hidangan yang dimasak dari dapur alam. Tradisi memasak dengan memanfaatkan sumber panas bumi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Di tengah suasana penuh keakraban itu, berlangsung dialog singkat antara uskup, tokoh adat, dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Keindahan alam Watuwawer yang hijau dan asri dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus dirawat bersama.
Masyarakat juga menyampaikan kerinduan mereka agar setiap persoalan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, termasuk isu geothermal, disikapi secara arif dan bijaksana dengan mengutamakan kepentingan bersama serta keberlanjutan lingkungan hidup.
Sebagai tanda perhatian terhadap kelestarian alam di wilayah tersebut, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menandatangani sebuah dokumen kunjungan yang berisi pesan moral bagi seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan ciptaan.
Dalam dokumen yang ditandatangani di Watuwawer pada 14 Juni 2026 itu, Uskup menegaskan pentingnya merawat Dapur Alam sebagai bagian dari warisan ekologis yang berharga.
“Pada hari ini, Minggu, 14 Juni 2026, Bapak Uskup Keuskupan Larantuka berkenan mengunjungi Dapur Alam (Ina Kar) untuk melihat seluruh kondisi ekologis di Dapur Alam dan sekitarnya,” demikian bunyi pembuka dokumen tersebut.
Lebih lanjut, dokumen itu menyatakan bahwa di hadapan para ketua adat dan umat yang hadir, Bapak Uskup meminta agar masyarakat menjaga dan merawat keindahan dapur alam beserta seluruh lingkungan hidup di wilayah tersebut.
Uskup juga menegaskan bahwa tidak diperkenankan adanya bentuk-bentuk aktivitas yang dapat merusak lingkungan dapur alam maupun kawasan-kawasan di sekitarnya.

Dok Watuwawer 14/06/26

Pesan tersebut sejalan dengan semangat Gereja Katolik yang terus mendorong umat untuk membangun pertobatan ekologis sebagaimana ditegaskan dalam ensiklik Laudato Si’, yakni merawat bumi sebagai rumah bersama.
Kunjungan singkat di dapur alam Watuwawer itu pun meninggalkan kesan mendalam, baik bagi masyarakat maupun rombongan Uskup. Di tengah tantangan zaman, perjumpaan tersebut menjadi pengingat bahwa iman, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup harus berjalan beriringan.
Bagi masyarakat Watuwawer, kehadiran Mgr. Yohanes Hans Monteiro bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran sang gembala membawa sukacita, penguatan, dan harapan agar dapur alam tetap lestari, menjadi sumber kehidupan, serta diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang. (@sly)

You may also like