Lewokukung, Komsos Larantuka – Suasana sukacita, syukur, dan haru menyelimuti umat Stasi Santo Agustinus Lewokukung, Paroki Kalikasa, Dekenat Lembata, saat menyambut kedatangan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dalam rangka pemberkatan gereja stasi yang baru selesai dibangun (15/06/2026). Peristiwa yang berlangsung meriah tersebut menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan iman umat setempat yang selama puluhan tahun mendambakan sebuah rumah ibadah yang layak.

Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Salah satu momen yang paling berkesan dalam seluruh rangkaian acara adalah ketika Mgr. Yohanes Hans Monteiro dipikul di atas tandu oleh umat menuju Gereja Stasi Santo Agustinus yang akan diberkati. Penyambutan hangat itu tidak hanya memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Lewokukung, tetapi juga menjadi simbol penghormatan dan kasih umat kepada gembala utama Keuskupan Larantuka.
Sejak pagi hari, umat telah memadati kawasan gereja. Mereka datang dari berbagai lingkungan dan kampung sekitar dengan mengenakan pakaian adat serta busana terbaik. Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi seluruh area perayaan. Kehadiran Uskup Larantuka untuk pertama kalinya di Lewokukung dalam kapasitasnya sebagai uskup menghadirkan kegembiraan tersendiri bagi umat di Lewokukung.
Rombongan uskup disambut secara adat di pintu gapura. Tarian tradisional, sapaan adat, dan ungkapan sukacita masyarakat mengiringi prosesi penerimaan tersebut. Setelah seluruh rangkaian penyambutan adat selesai dilaksanakan, umat mempersilakan uskup untuk menaiki tandu yang telah dipersiapkan.
Dengan penuh semangat, sejumlah umat memikul tandu itu menuju Gereja Stasi Santo Agustinus Lewokukung. Nyanyian, tarian budaya, dan sorak sukacita umat mengiringi perjalanan menuju halaman gereja. Momen tersebut menjadi simbol penerimaan umat terhadap uskup sebagai penerus para rasul yang hadir untuk menguatkan dan meneguhkan iman umat.
Turut hadir dalam perayaan bersejarah tersebut Sekretaris Uskup, RD. Fransiskus Kwaelaga; Deken Lembata, RD. Blasius Masang Kleden; Tim Pastor Paroki Kalikasa, yakni RD. Emanuel Temaluru dan RD. Antonius Ago Tukan; Ketua Komsos Keuskupan Larantuka, R. Ansel Liwun; serta Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Lembata. Hadir pula utusan dari berbagai stasi di Paroki Kalikasa sebagai tanda nyata persaudaraan dan persekutuan dalam Gereja.

Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Rawat Bumi, Jaga Warisan Leluhur
Dalam homilinya, Uskup Larantuka mengajak umat merenungkan kisah Nabot dan Raja Ahab dalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab 1 Raja-Raja 21:1-16.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan kesetiaan seorang petani sederhana dalam mempertahankan tanah warisan leluhurnya.
“Nabot adalah seorang petani kecil yang sederhana. Tanah itu bukan sekadar harta benda. Tanah itu adalah milik leluhur, pemberian Tuhan yang harus dijaga,” ungkapnya.
Uskup menjelaskan bahwa konflik muncul karena Izebel tidak memahami makna tanah warisan dalam tradisi Israel.
“Izebel bukan orang Israel. Ia kurang memahami bahwa tanah leluhur bukan barang yang bisa diperjualbelikan begitu saja,” katanya.
Dari kisah tersebut, umat diajak untuk bercermin pada situasi kehidupan saat ini. Uskup mengingatkan bahwa sikap serakah dapat muncul ketika seseorang mengabaikan kebenaran demi kepentingan pribadi.
“Seperti Izebel, mungkin kita juga pernah membuat cerita-cerita palsu untuk membenarkan tindakan kita,” ujarnya.
Ia menyoroti kenyataan bahwa tidak sedikit orang memindahtangankan tanah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masa depan generasi berikutnya.
Uskup membagikan pengalamannya saat menikmati hidangan di Dapur Alam Watuwawer yang diolah dari hasil bumi setempat.
“Kami makan makanan sehat yang berasal dari alam,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, ia mengajak umat untuk memahami makna kekayaan yang sesungguhnya.
“Apa ukuran kekayaan? Kekayaan bisa berarti ketika orang masih dapat makan dan minum dari ladangnya sendiri,” tegasnya.
Karena itu, umat dipanggil untuk merawat bumi sebagai bentuk tanggung jawab iman.
“Tugas kita adalah mempertahankan hak kita untuk merawat bumi kita, demi kehidupan kita hari ini dan demi anak cucu kita kelak,” katanya.
Menurut Uskup, tanah dan kebun bukan hanya aset ekonomi, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Jika kita salah mengelola, kita mengorbankan masa depan anak cucu kita. Kita juga akan dihukum oleh alam itu sendiri,” ungkapnya.
Menutup homilinya, Uskup mengajak umat untuk memohon pertolongan Tuhan agar dijauhkan dari sikap serakah.
“Mari kita mohon bantuan Tuhan agar kita tidak menjadi orang yang serakah dan gegabah, tetapi menjadi penjaga yang setia atas anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada kita,” pungkasnya.

Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Buah Perjuangan Panjang Umat
Pemberkatan Gereja Stasi Santo Agustinus Lewokukung bukan sekadar peresmian sebuah bangunan fisik. Lebih dari itu, peristiwa tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang umat yang dilandasi semangat gotong royong, pengorbanan, dan iman yang kokoh.
Pastor Paroki Kalikasa, RD. Emanuel Temaluru, dalam sambutannya mengenang perjalanan pembangunan gereja yang telah dimulai sekitar dua puluh dua tahun silam.
“Gereja ini mulai dibangun sekitar 22 tahun yang lalu. Saya hadir dan bersama umat, kami berjuang hingga akhirnya gereja ini selesai dan dapat kita berkati pada hari ini,” ungkapnya.
Menurut Romo Eman, berbagai tantangan pernah dihadapi dalam proses pembangunan tersebut. Namun, berkat ketekunan umat serta bantuan dari berbagai pihak, cita-cita untuk memiliki gereja yang representatif akhirnya dapat diwujudkan.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan umat tidak terlepas dari berbagai kecemasan mengenai kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, Tuhan telah menganugerahkan kekayaan alam yang melimpah untuk dikelola secara bertanggung jawab.
“Sering kali umat merasa cemas tentang makan dan minum. Padahal, alam yang dianugerahkan Tuhan kepada kita sangat kaya. Karena itu, kita terus berjuang agar umat mampu memanfaatkan kekayaan alam tersebut sehingga dapat menopang dan menjamin kehidupan mereka,” katanya.
Menurut Pastor Emanuel, pembangunan umat tidak hanya menyangkut dimensi rohani, tetapi juga pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pembangunan gereja, termasuk keluarga besar Lewokukung di Lewoleba yang memberikan dukungan selama proses pembangunan berlangsung.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bupati Lembata yang terus mendampingi Uskup Larantuka selama rangkaian kunjungan pastoral di wilayah Lembata.
“Kehadiran pemerintah menjadi tanda kebersamaan dalam membangun masyarakat yang beriman dan sejahtera,” ujarnya.

Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Gereja sebagai Buah Persekutuan Iman
Ketua Dewan Pastoral Paroki Kalikasa, Yoakim Make Making, dalam sambutannya mengajak umat untuk memaknai pemberkatan gereja sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri bersama.
“Hari ini adalah hari yang dijanjikan Tuhan. Marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karena-Nya,” ungkapnya.
Atas nama seluruh umat Paroki Kalikasa, ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Uskup Larantuka yang berkenan hadir untuk memberkati Gereja Santo Agustinus Lewokukung.
“Kehadiran Bapa Uskup merupakan sukacita dan berkat besar bagi seluruh umat,” katanya.
Yoakim menegaskan bahwa gereja yang berdiri megah tersebut merupakan hasil perjuangan seluruh umat yang telah mempersembahkan tenaga, pikiran, waktu, dan materi sesuai kemampuan masing-masing.
“Ini adalah momen persekutuan iman. Gereja ini berdiri berkat perjuangan umat yang telah memberikan apa yang mereka miliki sesuai kemampuan masing-masing,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa banyak pihak telah mendukung pembangunan gereja, mulai dari para donatur, pemerintah, hingga Keuskupan Larantuka. Karena itu, ia mengajak umat untuk menjaga dan merawat gereja sebagai rumah Tuhan.
“Mari kita jaga dan rawat gereja ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Semoga gereja ini menjadi tempat umat bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, dan semakin setia mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Foto Bersama pada Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Pemimpin Harus Turun ke Kampung
Dalam sambutannya, Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, mengatakan bahwa pengalaman mendampingi Uskup Larantuka selama kunjungan pastoral memberinya pelajaran penting tentang kepemimpinan.
“Seorang pemimpin harus turun ke kampung-kampung, melihat dan mendengar secara langsung kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab untuk memahami realitas kehidupan rakyat.
Bupati juga mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan harapan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
“Gereja membangun iman umat, sementara pemerintah mengurus kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, kerja sama antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat harus terus diperkuat demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Ia juga menyinggung 54 paket persembahan yang dibawa umat sebagai simbol kerja keras masyarakat dalam mengolah potensi yang dimiliki.
“Mari kita menjadi petani dan peternak yang tangguh,” ajaknya.

Pemberkatan Gereja Stasi St. Agustinus Lewokukung
Gereja Tanpa Menara Sama Artinya dengan Hidup Tanpa Tujuan
Dalam sambutan penutupnya, Uskup Larantuka mengungkapkan rasa syukur atas sukacita yang dialaminya selama empat hari kunjungan pastoral di wilayah Atadei.
Selama kunjungan tersebut, ia berkesempatan memberkati tiga gereja sebagai tanda bertumbuhnya iman umat di wilayah itu.
“Gereja tanpa menara sama artinya dengan hidup tanpa tujuan,” tegasnya.
Menurut Uskup, menara gereja bukan sekadar elemen arsitektur, melainkan simbol yang mengarahkan pandangan umat kepada Tuhan.
Ia juga mengenang momen pelepasan burung merpati yang sempat hinggap dan kembali menatap ke arah gereja.
“Merpati adalah burung yang sangat setia. Dari merpati itu, kita belajar untuk tetap setia dalam iman kita kepada Tuhan,” ujarnya.
Uskup mengaku terkesan dengan prosesi penyambutan adat, termasuk ketika dirinya dipikul di atas tandu menuju gereja.
Baginya, tradisi tersebut melambangkan semangat perjuangan dan keteguhan umat dalam menghidupi iman.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Lembata yang telah mendampinginya selama kunjungan pastoral, serta kepada pastor paroki, panitia, dan seluruh umat yang telah bekerja keras menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
“Kita terus bergandeng tangan membangun wilayah kita, melayani umat dan masyarakat kita,” katanya.
Pemberkatan Gereja Stasi Santo Agustinus Lewokukung menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan iman umat. Gereja yang telah berdiri megah itu diharapkan tidak hanya menjadi tempat perayaan liturgi dan penerimaan sakramen, tetapi juga menjadi pusat pembinaan iman, persaudaraan, dan pelayanan.
Sukacita yang terpancar pada hari itu menjadi kesaksian bahwa Gereja dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, melainkan dengan iman, pengorbanan, serta persatuan umat Allah. Dengan semangat itu, umat Stasi Santo Agustinus Lewokukung diharapkan terus bertumbuh menjadi Gereja yang hidup, berakar pada Kristus, setia dalam perutusan, serta menghadirkan harapan bagi masyarakat di sekitarnya. (@sly)
