LARANTUKA, Komsos Larantuka – Liturgi bukan sekadar rangkaian tata upacara keagamaan. Dalam kehidupan Gereja Katolik, liturgi, terutama Perayaan Ekaristi, merupakan sumber dan puncak seluruh kehidupan umat beriman. Di dalamnya, umat mengalami perjumpaan dengan Kristus yang hadir dalam Sabda, dalam diri imam yang memimpin, dalam persekutuan umat, dan secara istimewa dalam Ekaristi Kudus.

Penyegaran Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020 di Dekenat Larantuka
Berangkat dari kesadaran inilah, Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka menyelenggarakan Kegiatan Penyegaran Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020 bagi para pegiat liturgi dari seluruh wilayah Keuskupan Larantuka. Program ini menjadi salah satu agenda penting dalam Program Kerja Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat pemahaman dan praktik liturgi yang benar, seragam, serta sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 2020.
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka, RD. Paulus G. Lewoema, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan. Keprihatinan muncul karena masih ditemukan beragam pemahaman dan praktik liturgi yang belum sepenuhnya selaras dengan PUMR 2020. Sementara itu, harapan besar tertuju pada terwujudnya para pelayan liturgi yang semakin memahami makna terdalam dari setiap ritus yang dirayakan.
“Perayaan Ekaristi bukan sekadar soal tertib acara atau menjalankan tugas. Liturgi adalah tindakan Kristus sendiri bersama Gereja-Nya. Karena itu, setiap pelayan liturgi dipanggil untuk melayani dengan pemahaman yang benar, sikap batin yang tepat, dan kesadaran bahwa yang dilayani adalah misteri iman yang kudus,” ungkap RD. Paulus.
PUMR 2020 yang telah diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan memperoleh pengakuan dari Tahta Suci menghadirkan sejumlah penegasan serta pembaruan yang perlu dipahami secara mendalam oleh para pelaku liturgi. Tidak sedikit umat maupun petugas liturgi yang masih mengalami kebingungan dalam menerapkan berbagai ketentuan tersebut di tingkat paroki.
Karena itu, kegiatan penyegaran ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperbarui pemahaman sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun kehidupan liturgi yang semakin bermutu.
Peserta kegiatan ini merupakan utusan dari seluruh paroki di Keuskupan Larantuka. Setiap paroki mengutus dua orang peserta yang terdiri atas perwakilan Seksi Liturgi dan Seksi Musik Liturgi. Selain itu, para moderator liturgi di tingkat dekenat turut dilibatkan bersama unsur panitia pelaksana.
Kegiatan penyegaran dilaksanakan secara bertahap di tiga dekenat. Dekenat Larantuka menjadi wilayah pertama yang menggelar kegiatan ini pada 12–13 Juni 2026. Kegiatan dibuka oleh Romo Deken Larantuka, RD. Lukas Laba Erap, yang berharap seluruh pegiat liturgi dapat mengikuti kegiatan dengan baik sehingga mampu menerapkannya kembali di paroki masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, RD. Lukas Laba Erap juga menyampaikan keprihatinannya atas ketidakhadiran enam paroki dalam kegiatan tersebut, yakni Paroki San Juan Lebao, Paroki Pamakayo, Paroki Riangkemie, Paroki Belogili, Paroki Waiklibang, dan Paroki Bama.
Setelah pelaksanaan di Dekenat Larantuka, kegiatan akan berlanjut di Dekenat Adonara pada 19–20 Juni 2026, dan ditutup di Dekenat Lembata pada 26–27 Juni 2026.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta dibekali dengan berbagai materi penting yang berkaitan dengan pelaksanaan liturgi. Materi pertama membahas struktur Tata Perayaan Ekaristi 2020, sehingga peserta dapat memahami alur serta makna setiap bagian dalam perayaan Ekaristi.
Materi berikutnya mengulas mengenai gestikulasi liturgi, yaitu berbagai sikap tubuh dan gerakan liturgis yang bukan sekadar formalitas, melainkan memiliki makna teologis yang mendalam. Pemahaman yang benar terhadap bahasa tubuh dalam liturgi diyakini dapat membantu umat menghayati misteri keselamatan yang dirayakan.
Tidak kalah penting, peserta juga mendalami musik liturgi. Lagu-lagu dalam Ekaristi bukan sekadar pengisi suasana, tetapi merupakan bagian integral dari liturgi itu sendiri. Oleh sebab itu, pemilihan lagu perlu disesuaikan dengan struktur dan tema perayaan agar membantu umat berdoa serta menghayati misteri iman yang dirayakan.
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah simulasi dan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan umum dalam pelaksanaan liturgi. Melalui praktik langsung, peserta diajak mengenali berbagai kekeliruan yang kerap terjadi serta menemukan cara yang tepat untuk memperbaikinya sesuai pedoman Gereja.
Metode kegiatan dirancang secara partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, simulasi, evaluasi, dan refleksi bersama. Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga memperoleh pengalaman konkret yang dapat diterapkan dalam pelayanan di paroki masing-masing.
Lebih jauh, kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis dalam melayani liturgi. Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka berharap agar para peserta mengalami pembaruan spiritualitas. Pelayanan liturgi yang baik lahir dari hati yang mencintai Kristus dan Gereja-Nya.
Melalui penyegaran ini, para pelayan liturgi diharapkan semakin menyadari bahwa setiap tugas yang mereka emban, baik sebagai petugas liturgi, pemusik gereja, maupun koordinator pelayanan, merupakan bentuk partisipasi dalam karya keselamatan Allah.
Kesatuan dalam liturgi juga menjadi perhatian utama. Keberagaman budaya dan kondisi pastoral di berbagai wilayah Keuskupan Larantuka merupakan kekayaan yang patut disyukuri. Namun, dalam hal tata perayaan Ekaristi, Gereja menghendaki adanya keselarasan agar umat di mana pun dapat merasakan kesatuan iman yang sama.
“Kita boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi ketika merayakan Ekaristi, kita dipersatukan dalam iman yang satu, Gereja yang satu, dan Kristus yang satu,” demikian semangat yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.
Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka berharap seluruh pihak, terutama para pastor paroki, para deken, dan umat beriman, memberikan dukungan demi kelancaran pelaksanaan program tersebut. Dengan pelayanan liturgi yang semakin baik, umat akan semakin dibantu untuk mengalami perjumpaan yang mendalam dengan Tuhan.
Pada akhir kegiatan di Dekenat Larantuka, yang ditutup oleh Ketua Sekpas Keuskupan Larantuka, RD. Bernardus Belawa Wara, ditegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak diukur dari banyaknya materi yang disampaikan ataupun jumlah peserta yang hadir.
“Buah sejati dari penyegaran ini tampak ketika setiap pelayan liturgi kembali ke parokinya dengan semangat baru: melayani dengan rendah hati, memahami liturgi dengan lebih mendalam, serta membantu umat merayakan Ekaristi dengan penuh iman, khidmat, dan sukacita,” tegasnya.
Sebab, melalui Ekaristi, Gereja terus dibangun. Dan melalui pelayanan liturgi yang baik, umat semakin dituntun untuk mengenal, mencintai, dan mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari. (Flory Herin)