LEWOLEBA, Komsos Larantuka – “Kadang saya merasa jenuh, namun saya sadar, ini adalah tugas perutusan Bapa Uskup.” Kalimat itu meluncur lirih dari bibir RD. Philipus Sinyo da Gomez (Romo Sinyo), memecah keheningan di ruang serah terima jabatan Dekenat Lembata, Senin malam (15/6/2025). Suaranya yang khas seolah merangkum perjalanan panjang selama 22 tahun, sebuah masa yang bukan sekadar angka, melainkan dedikasi yang kini ia lepaskan dengan penuh keikhlasan.

Serah Terima Deken Lembata (15/06/2026)
Hari ini, tongkat kepemimpinan yang telah ia pegang selama dua dekade resmi diserahkan kepada RD. Blasius Masang Kleden (Romo Blas). Di hadapan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, para imam, dan para frater yang berkarya di Dekenat Lembata, momen tersebut bukan sekadar seremoni administratif, melainkan sebuah pelepasan yang sarat akan permenungan dan refleksi mendalam.
Dalam sambutannya yang menyentuh hati, Romo Sinyo, mengajak para rekan imam untuk melihat kembali kebersamaan yang telah terjalin. Ia mengakui dengan jujur bahwa menjadi nakhoda selama 22 tahun bukanlah perjalanan yang mulus tanpa kerikil. Ada tawa, ada air mata, dan ada pula beban yang terkadang terasa menyesakkan. Ia dengan rendah hati meminta maaf atas segala kebijakan atau tutur kata yang mungkin tidak berkenan di hati rekan-rekan sepelayanan selama masa kepemimpinannya.
“Terima kasih untuk para imam yang telah mendukung saya. Saya berterima kasih kepada Mgr. Fransiskus Kopong yang mempercayakan tugas ini kepada saya. Saya mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam kebersamaan kita. Mari kita berikan dukungan penuh kepada Deken baru, Romo Blas Kleden,” ungkapnya dengan nada yang tulus.
Baginya, pengalaman melayani selama dua dekade lebih adalah guru terbaik yang mengajarkannya tentang arti persaudaraan yang sejati di dalam Gereja Kristus.
Menyambut tongkat estafet tersebut, Deken Lembata yang baru, Romo Blas Kleden berdiri dengan kerendahan hati, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pelayanan di bawah moto “Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan.” Ia menyadari bahwa memikul tanggung jawab setelah masa kepemimpinan yang panjang bukanlah perkara ringan, namun ia siap melangkah bersama para imam lainnya.
“Romo Sinyo tetap menjadi senior kami. Pengalaman dan kebijaksanaan beliau masih sangat kami butuhkan. Kita mempunyai kebersamaan dalam satu perjuangan untuk melayani umat yang sama. Karena itu, mari kita bersatu hati dalam pelayanan di dekenat ini,” ujar Romo Blas.
Ia memberikan penghormatan tinggi bagi sang pendahulu yang telah meletakkan fondasi kuat di tanah Lembata, membangun jembatan persaudaraan yang kokoh di antara para imam, frater, biarawan, biarawati dan umat Allah di Dekenat Lembata.
Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, memberikan apresiasi mendalam atas pengabdian panjang Romo Sinyo. Uskup menceritakan bagaimana selama beberapa hari berada di Lembata, ia berkesempatan melihat langsung karya pastoral yang dijalankan para imam dengan dedikasi tinggi.
Namun, di balik suasana haru tersebut, Uskup juga memberikan pesan tajam yang menjadi tantangan bagi kepemimpinan baru. Ia menyoroti persoalan sosial yang semakin kompleks, yakni pergaulan bebas yang mengancam generasi muda, serta tantangan besar di depan mata: penetapan Flores dan Lembata sebagai pulau geothermal untuk kebutuhan listrik nasional. Uskup menegaskan bahwa Gereja tidak boleh diam di atas menara gading.
“Kita perlu menyadari bahwa akan ada banyak cara untuk melakukan eksplorasi. Kita perlu memikirkan dampak yang mungkin timbul dari proyek ini. Gereja harus hadir dalam ruang dialog bersama masyarakat agar umat memiliki pemahaman yang memadai dan mampu bersikap secara tepat,” tegas Uskup.
Ia mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman yang cepat dan agenda pembangunan, umat membutuhkan tuntunan agar tidak kehilangan arah, tidak terjebak dalam arus yang merusak martabat manusia.
Rangkaian acara yang diawali dengan pembacaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) tersebut ditutup dengan suasana penuh persaudaraan. Momen penandatanganan berita acara serah terima jabatan menjadi penanda resmi bahwa babak baru telah dimulai. Meskipun tongkat estafet telah berpindah tangan, gema kata-kata Romo Sinyo tentang “kepercayaan” dan tekad Romo Blas untuk “bersatu hati” seolah menjadi janji setia bagi umat di Dekenat Lembata.
Kini, di bawah kepemimpinan baru, Dekenat Lembata bersiap melangkah ke babak selanjutnya. Semangat melayani dengan hati gembala tetap menjadi landasan utama dalam perjalanan Gereja di wilayah ini. Dengan kepemimpinan Romo Blas Kleden, Dekenat Lembata diharapkan semakin solid dalam mewujudkan pelayanan pastoral yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga peduli dan membawa harapan nyata bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Lembata.

Serah Terima Deken Lembata (15/06/2026)
Tongkat kepemimpinan boleh berpindah, namun semangat “satu tubuh, satu roh, satu harapan” akan terus menghidupi napas Gereja di Dekenat Lembata. Di masa depan, tantangan mungkin semakin berat, namun dengan fondasi persaudaraan yang telah dirawat selama dua puluh dua tahun, para imam dan umat di Dekenat Lembata yakin dapat terus melangkah bersama. Mereka percaya bahwa selama cinta kasih dan kebersamaan menjadi kompas utama, setiap tantangan pembangunan dan persoalan sosial akan mampu dilalui dengan bijaksana. Hari ini, Lembata menuliskan sejarah baru, sejarah tentang estafet yang diteruskan dengan cinta, dan tentang Gereja yang terus merawat harapan di tengah masyarakat.(@sly)
