BAMA, Komsos Larantuka – Perayaan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-63 yang jatuh pada Minggu, 26 April 2026, menjadi momen sukacita bagi umat Katolik di seluruh dunia. Sukacita itu juga dirasakan di Keuskupan Larantuka, khususnya oleh anak-anak Sekar Sekami Paroki Sta. Maria Diangkat ke Surga Lewokluok-Bama. Bertepatan dengan Perayaan Hari Minggu Panggilan ini, mereka mendapat kunjungan dari Sekar Sekami Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka dan Paroki St. Antonius Padua Leworahang. Kunjungan ini menjadi momentum berharga untuk mempererat persaudaraan iman anak sejak usia dini.
Sejak pagi hari, suasana di halaman gereja telah dipenuhi warna-warni kegembiraan. Anak-anak Sekar Sekami dari paroki tuan rumah menyambut kedatangan para tamu dengan tarian penjemputan yang penuh semangat. Gerak yang lincah dan senyum yang mengembang menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka dalam satu sukacita iman. Tarian itu bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan persaudaraan yang tulus, membuka ruang kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat namun tetap hidup. Misa dipimpin oleh moderator KMKL Keuskupan Larantuka, RD. Yohanes DBH Odel sebagai konselebran utama. Dalam homilinya, Romo Odel mengajak anak-anak untuk memahami panggilan hidup secara sederhana namun mendalam. Ia menekankan bahwa Yesus harus menjadi pintu utama dalam mengenal Allah dan sesama. Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk mengenal sesamanya, sebab dalam diri sesama itulah Allah hadir dan menyapa manusia.
Meski cuaca kurang bersahabat karena hujan yang cukup lebat, semangat anak-anak tidak pudar. Justru dalam tantangan alam dan keterbatasan ini, tampak jelas ketulusan dan kegembiraan mereka. Nyanyian yang bergema, doa yang dipanjatkan, serta partisipasi aktif sepanjang perayaan menjadi tanda bahwa iman yang hidup mampu melampaui segala situasi.
Pastor Paroki Lewokluok-Bama RD. Wilhelmus Ola Baga, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menanamkan nilai kesetiakawanan sejak dini. Ia mengajak anak-anak untuk menghadirkan wajah Yesus dalam kehidupan bersama, terutama melalui sikap saling peduli dan berbagi. Ia juga menekankan bahwa perjumpaan ini bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan harus dijaga dan dilanjutkan di masa depan sebagai bagian dari pembinaan iman yang berkelanjutan. Menurutnya, sukacita yang dialami bersama adalah anugerah yang perlu dirawat agar iman terus bertumbuh dan berbuah.
Perayaan ini dihadiri sekitar 1.300 anak dan 30 pembina dari tiga paroki. Jumlah yang besar ini menjadi tanda nyata antusiasme sekaligus harapan akan tumbuhnya panggilan-panggilan baru dalam Gereja. Setelah Ekaristi, acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan kreatif dari masing-masing paroki. Anak-anak tampil membawakan lagu dan gerak, tarian, fragmen singkat, hingga puisi. Setiap penampilan disuguhkan dengan penuh percaya diri, mencerminkan keberanian dan potensi yang luar biasa.
Momen ini semakin bermakna dengan kehadiran para suster dari berbagai kongregasi yang turut memperkenalkan diri dan membagikan kisah panggilan mereka. Kongregasi yang hadir antara lain SSpS, PIJ, dan Fransiskanes. Dengan penuh semangat, para suster mengajak anak-anak untuk berani membuka hati terhadap panggilan Tuhan, sekaligus mendoakan agar dari antara mereka kelak lahir pribadi-pribadi yang siap mengabdikan diri sebagai biarawati.
Setelah sesi perkenalan, suasana semakin cair dalam acara bebas yang diisi dengan interaksi dan permainan bersama. Anak-anak tampak larut dalam kegembiraan, saling mengenal, dan membangun persahabatan lintas paroki. Keceriaan yang terpancar dari wajah mereka menjadi gambaran nyata Gereja yang hidup, dinamis, dan penuh harapan.
Perayaan Minggu Panggilan Sedunia ke-63 di Lewokluok-Bama ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan pengalaman iman yang menyentuh dan membekas. Dalam kebersamaan itu, anak-anak belajar tentang panggilan, persaudaraan, dan sukacita mengikuti Yesus. Lebih dari itu, perayaan ini menegaskan bahwa masa depan Gereja bertumbuh dari hati anak-anak yang sejak dini dibina untuk mengenal, mencintai, dan setia menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. (Fr. Yunus)


