KASIH KRISTUS JADI KEKUATAN PELAYANAN: Romo Nus Welan Rayakan 25 Tahun Imamat

Dua puluh lima tahun bukan sekadar hitungan waktu dalam perjalanan hidup dan pelayanan seorang imam. Di dalamnya tersimpan kisah panggilan, pergulatan, pengorbanan, dan kesetiaan yang terus ditempa oleh kasih Kristus. Semangat itulah yang dirayakan dalam Misa Syukur Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan, yang akrab disapa Romo Nus, di Gereja Santo Yosef Riangkemie, Kamis (9/7/2026).

RIANGKEMIE, Komsos Larantuka – Dua puluh lima tahun bukan sekadar hitungan waktu dalam perjalanan hidup dan pelayanan seorang imam. Di dalamnya tersimpan kisah panggilan, pergulatan, pengorbanan, dan kesetiaan yang terus ditempa oleh kasih Kristus. Semangat itulah yang dirayakan dalam Misa Syukur Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan, yang akrab disapa Romo Nus, di Gereja Santo Yosef Riangkemie, Kamis (9/7/2026).

Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan – Riangkemie (9/7/2026).

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, didampingi Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Deken Larantuka, RD. Lukas Laba Erap bersama Romo Nus sebagai yubilaris, para imam konselebran, biarawan dan biarawati, keluarga, sahabat, serta umat Allah yang memenuhi ruangan dan halaman gereja.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak umat memandang Perak Imamat bukan hanya sebagai perayaan mengenang masa lalu, tetapi sebagai perayaan misteri transformasi rohani seorang imam yang terus dibentuk oleh Allah sepanjang hidupnya.
Mengangkat moto Perak Imamat Romo Nus, “Caritas Christi Urget Nos” (Kasih Kristus Menguasai Kami), Uskup mengajak seluruh umat merenungkan makna terdalam dari panggilan imamat.
“Pertanyaannya bukan sekadar sudah berapa lama menjadi imam, tetapi apakah imam menemukan kasih Kristus dalam diri orang-orang kecil yang dilayaninya,” ungkap Uskup.
Menurutnya, perjalanan imamat selalu memiliki masa-masa transisi yang tidak mudah. Ada saat ketika seorang imam harus melewati “padang gurun”, yakni pengalaman kesunyian, kelelahan, bahkan sakit yang menguji kesetiaan.
Uskup mengingatkan bahwa Romo Nus sendiri pernah mengalami masa sulit akibat kondisi kesehatan yang dialaminya. Namun, di tengah pengalaman itu, Tuhan tetap menguatkan dan memeliharanya sehingga mampu melanjutkan pelayanan hingga genap 25 tahun.
“Perjalanan imamat sering dimulai dengan langkah-langkah yang menyerupai padang gurun. Di sanalah salib menjadi bagian dari kehidupan seorang imam,” katanya.

Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan – Riangkemie (9/7/2026).

Ia menghubungkan pengalaman itu dengan moto tahbisan Romo Nus, “Cinta adalah Salib.” Menurut Uskup, selama seperempat abad pelayanan, yubilaris telah berusaha menghidupi semangat kasih yang rela berkorban dalam setiap tugas yang dipercayakan Gereja.
Lebih jauh, Uskup menjelaskan bahwa Caritas Christi Urget Nos bukan sekadar berarti kasih Kristus yang mendorong dari belakang, tetapi kasih Kristus yang mengepung seluruh hidup seorang imam sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain mencintai Kristus dan Gereja-Nya secara total.
“Kasih Kristus bukan hanya memberi semangat, tetapi juga menjadi kritik yang terus-menerus bagi setiap imam,” tegasnya.
Karena itu, Uskup mengingatkan bahwa tantangan terbesar pelayanan imam pada masa kini bukan semata-mata luasnya medan pastoral, melainkan bahaya klerikalisme, egoisme, dan rasa nyaman yang membuat seorang imam kehilangan semangat pengabdian.
Menurutnya, Gereja Keuskupan Larantuka saat ini juga sedang menghadapi berbagai tantangan nyata, mulai dari bencana alam seperti badai tropis dan letusan gunung berapi hingga berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan budaya yang menyentuh kehidupan umat.
Di tengah situasi seperti itu, seorang imam dipanggil menjadi wajah kasih Allah yang menerima semua orang tanpa membedakan latar belakang maupun keadaan mereka.
“Seorang imam menerima semua orang tanpa pandang bulu dan merangkul mereka dalam terang kasih Allah,” ujar Uskup.
Kepada Romo Nus yang kini melayani sebagai Pastor Rekan di Paroki Pamakayo, Solor, Uskup berpesan agar terus membawa semangat kasih Kristus dalam seluruh karya pelayanannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kesetiaan Romo Nus selama 25 tahun menjalankan panggilan imamat.
“Terima kasih atas kesetiaan selama 25 tahun menjadi imam. Proficiat. Tuhan memberkati,” tutup Uskup.

Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan – Riangkemie (9/7/2026).

Perayaan Perak Imamat ini menjadi ungkapan syukur seluruh Gereja Keuskupan Larantuka atas penyelenggaraan Tuhan dalam hidup RD. Marianus Dewantoro Talu Welan. Di tengah berbagai tantangan zaman, perjalanan seperempat abad imamat Romo Nus menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus tetap menjadi sumber kekuatan yang menggerakkan seorang imam untuk terus setia melayani Gereja dan umat hingga akhir hayat. (@sly)

You may also like