DARI ROMA KE WINA: Mgr. Hans Membawa Suara Flores hingga ke Jantung Gereja Universal

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro bersama 147 uskup baru lainnya mengikuti Kursus Uskup Baru di Roma pada 1–10 September 2026. Sebanyak 148 uskup dari berbagai penjuru dunia ambil bagian dalam kegiatan tersebut, terdiri atas uskup agung, uskup sufragan, uskup koajutor, dan uskup auksilier. Bagi Mgr. Hans, perjumpaan ini bukan hanya kesempatan untuk menerima pembekalan bagi tugas kegembalaan sebagai uskup. Lebih dari itu, Roma menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tentang wajah Gereja yang hadir di tengah masyarakat dengan segala tantangan, harapan, penderitaan, dan sukacita umatnya.

by Komsos Keuskupan Larantuka

ROMA–WINA, Komsos Larantuka — Dari ruang-ruang perjumpaan para uskup di Roma hingga komunitas umat Indonesia di Wina, perjalanan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada September 2026 menjadi bagian dari sebuah ziarah iman yang mempertemukan Gereja lokal Keuskupan Larantuka dengan Gereja universal.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro bersama 147 uskup baru lainnya mengikuti Kursus Uskup Baru di Roma pada 1–10 September 2026. Sebanyak 148 uskup dari berbagai penjuru dunia ambil bagian dalam kegiatan tersebut, terdiri atas uskup agung, uskup sufragan, uskup koajutor, dan uskup auksilier.

Bagi Mgr. Hans, perjumpaan ini bukan hanya kesempatan untuk menerima pembekalan bagi tugas kegembalaan sebagai uskup. Lebih dari itu, Roma menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tentang wajah Gereja yang hadir di tengah masyarakat dengan segala tantangan, harapan, penderitaan, dan sukacita umatnya.

Mgr. Hans Bersama Paus Leo XIV

148 Uskup, Satu Persekutuan Gereja

Para uskup peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama dikoordinasikan oleh Dikasteri untuk Evangelisasi dengan pusat kegiatan di Collegio San Pietro, Roma. Kelompok ini diikuti terutama oleh para uskup dari Asia, Afrika, dan kawasan Pasifik-Oseania.

Kelompok kedua berada di bawah koordinasi Dikasteri untuk Para Uskup dan diikuti para uskup dari Eropa, Amerika, Amerika Latin, Filipina, dan Mesir.

Pembagian kelompok tersebut tidak menghilangkan semangat kebersamaan. Justru, pengalaman Gereja dari berbagai benua menjadi kekayaan yang dibagikan dalam perjalanan bersama sebagai para gembala umat Allah.

Dua hari terakhir kursus dilaksanakan secara bersama di Universitas Urbaniana. Para uskup mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman menggereja dan bermisi, sekaligus melihat bagaimana Gereja di berbagai belahan dunia menghadapi perubahan zaman dan kebutuhan umat yang terus berkembang. Rangkaian tersebut kemudian mencapai salah satu momen penting ketika para uskup mengikuti audiensi bersama Paus Leo XIV.

Dari Flores, Sebuah Pesan Solidaritas Sampai ke Paus

Di tengah perjumpaan para uskup dari berbagai negara itu, suara Gereja di Flores ikut hadir. Dalam kesempatan audiensi pribadi bersama Paus Leo XIV, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, atas nama para uskup Regio Nusra bagian Utara, menyampaikan terima kasih kepada Bapa Suci atas solidaritas dan perhatian terhadap Gereja di Flores yang mengalami bencana gempa bumi.

Pesan tersebut memiliki arti khusus bagi umat Flores yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana. Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, perhatian Gereja universal menjadi penguatan bahwa penderitaan umat di daerah yang jauh dari pusat dunia tidak dilupakan.

Flores sendiri selama berabad-abad dikenal memiliki kehidupan iman Katolik yang kuat. Dalam konteks Indonesia, pulau ini menjadi salah satu wilayah dengan tradisi kekatolikan yang sangat hidup.

Dalam perjumpaan tersebut, Bapa Suci tetap mendoakan umat Flores agar tidak kehilangan harapan dan sukacita Injili.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, Gereja tidak hanya dipanggil untuk hadir dengan bantuan material, tetapi juga untuk menjaga agar harapan umat tetap menyala.

Bagi umat Flores, perhatian tersebut menjadi sebuah pelukan dari Gereja universal: bahwa ketika bumi berguncang dan kehidupan menghadapi luka, doa dan solidaritas Gereja tetap berjalan bersama mereka.

Wina, Tempat yang Menyimpan Jejak Panggilan

Usai menyelesaikan Kursus Uskup Baru di Roma, perjalanan Mgr. Hans berlanjut ke Wina, Austria.

Kota ini bukan tempat yang asing bagi Uskup Larantuka. Wina merupakan bagian penting dari perjalanan studi, pelayanan, dan pembentukan dirinya sebelum kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pengabdian kepada Gereja.

Dari tahun 2005 hingga 2018, Mgr. Hans menjalani program studi yang didukung oleh Keuskupan Agung Wina. Ia juga pernah melayani di beberapa komunitas umat, termasuk komunitas Indonesia di Wina.

Karena itu, kunjungan kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Mgr. Hans kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya sebagai imam, kali ini sebagai Uskup Larantuka.

Salah satu agenda penting adalah kunjungan dan ucapan terima kasih kepada Yayasan Santo Lorenzo Ruiz, yang sebelumnya dikenal sebagai ARGE AAG.

Selama lebih dari 40 tahun, lembaga tersebut telah mendukung program beasiswa bagi para imam dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Melalui dukungan tersebut, ratusan imam dari negara-negara Global South mendapat kesempatan memperdalam studi teologi di Universitas Wina.

Banyak di antara mereka kemudian kembali ke negara asal dan dipercayakan dengan tugas-tugas penting dalam kehidupan Gereja, seperti pembinaan imam, pendidikan, administrasi keuskupan, maupun pelayanan pastoral.

Perjalanan Mgr. Hans menjadi salah satu buah nyata dari jalinan kerja sama tersebut.

Dua Imam Penerima Beasiswa, Kini Menjadi Uskup

Kunjungan Mgr. Hans ke Wina juga mempertemukannya kembali dengan perjalanan Gereja yang menarik.

Selain Mgr. Hans, salah seorang penerima beasiswa dari program yang sama, Mgr. Cyril Buhayan Villareal dari Filipina, juga ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 2026.

Keduanya pernah berada dalam lingkungan studi dan pelayanan Gereja di Wina. Kini mereka kembali berjumpa bukan lagi hanya sebagai sesama imam yang sedang belajar, melainkan sebagai uskup yang dipercayakan menggembalakan umat di wilayah masing-masing.

Mgr. Cyril Villareal berasal dari Keuskupan Agung Capiz, Filipina. Ia datang ke Wina pada 2005 untuk studi teologi moral dan sekaligus melayani komunitas Filipina di Paroki Bunda Maria Gunung Karmel di Wina.

Setelah menyelesaikan studinya pada 2012, ia kembali ke Filipina dan menjalankan berbagai tugas pelayanan Gereja, termasuk sebagai Vikaris Jenderal dan Administrator Keuskupan. Pada Januari 2026 ia diangkat menjadi Uskup Keuskupan Kalibo dan ditahbiskan sebagai uskup pada April 2026.

Pertemuan kembali kedua uskup tersebut menjadi gambaran bahwa investasi Gereja dalam pendidikan dan pembinaan imam dapat menghasilkan buah panjang bagi kehidupan Gereja di berbagai belahan dunia.

Mgr. Hans Bersama Uskup Agung Wina di Asisi

Berjumpa dengan Uskup Agung Wina yang Baru

Di Wina, Mgr. Hans juga berkesempatan bertemu dengan Uskup Agung Wina yang baru, Mgr. Josef Grünwidl.

Pertemuan tersebut memiliki makna tersendiri karena Mgr. Grünwidl juga baru ditahbiskan sebagai uskup pada 24 Januari 2026.

Perjumpaan ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan persaudaraan antara Gereja di Austria dan Gereja-Gereja di Asia, khususnya Indonesia dan Filipina.

Hubungan tersebut tidak hanya dibangun melalui struktur kelembagaan, tetapi juga melalui kisah-kisah pribadi, pendidikan, pelayanan, dan persahabatan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Mgr. Hans Bersama Umat KKIA

Ekaristi Syukur Bersama Umat Indonesia di Wina

Kehadiran Mgr. Hans di Wina juga menjadi sukacita bagi umat Indonesia yang tinggal di Austria.

Pada Minggu, 13 September 2026, Mgr. Hans merayakan Ekaristi syukur bersama komunitas Keluarga Kristen Indonesia Austria (KKIA) di Gereja Karmel, OCD, Wina.

Perayaan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara seorang gembala dari Flores dan umat Indonesia yang sedang menjalani kehidupan di negeri orang.

Dalam Ekaristi itu, jarak geografis antara Flores dan Austria seakan menjadi tidak berarti. Identitas sebagai umat Katolik dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia mempertemukan mereka dalam satu perayaan iman.

Kunjungan Mgr. Hans akan dilanjutkan dengan perayaan Misa syukur di Paroki Bad Deutsch-Altenburg, Niederösterreich, pada Minggu, 20 September 2026, sebelum kembali ke Indonesia.

Membawa Pulang Harapan

Perjalanan Mgr. Hans dari Roma menuju Wina akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan seorang uskup baru.

Ada pengalaman Gereja universal yang dibawa pulang. Ada persaudaraan yang diperbarui. Ada ucapan terima kasih kepada mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya. Dan ada pula sebuah pesan penting dari Roma bagi umat Flores yang sedang menghadapi bencana: jangan kehilangan harapan dan sukacita Injili.

Di Roma, suara Flores mendapat ruang untuk didengar. Di Wina, jejak perjalanan panggilan kembali dikenang. Dan di tengah semuanya, Gereja hadir sebagai satu keluarga yang melampaui batas negara, budaya, dan bahasa.

Bagi Keuskupan Larantuka, perjalanan Mgr. Hans menjadi bagian dari ziarah Gereja untuk terus membuka diri terhadap Gereja universal, tanpa kehilangan akar dan wajah lokalnya.

Dari Flores, iman terus bertumbuh. Dari Roma, solidaritas datang. Dari Wina, persaudaraan lama kembali disegarkan.

Dan di tengah dunia yang terluka, pesan itu tetap sederhana namun kuat: Gereja berjalan bersama umat, terutama ketika umat sedang berada dalam kesulitan.

Semoga perjalanan Mgr. Yohanes Hans Monteiro membawa berkat bagi pertumbuhan iman umat, memperkuat jejaring persaudaraan Gereja universal, serta meneguhkan panggilan Gereja Keuskupan Larantuka untuk terus menghadirkan Kristus yang menguatkan, menyembuhkan, dan memberikan harapan. (Cuplikan Kisah Mgr. Hans – dari Roma–Wina)

You may also like