LITE, Komsos Larantuka — Hari kedua Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) di Paroki St. Yoseph Lite, Jumat (12/9/2026), menjadi ruang bagi para peserta untuk masuk lebih dalam ke pengalaman hidup, mengenali luka-luka batin, serta membuka diri pada proses pengampunan dan pembebasan.
Materi pertama bertajuk “Penyembuhan Luka Batin” dibawakan oleh Katrin BL Derosari. Dalam pemaparannya, Katrin mengajak peserta menyadari bahwa pengalaman hidup seseorang dapat meninggalkan jejak yang mendalam dalam dirinya. Ia menjelaskan bahwa manusia banyak dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan bahwa pengalaman hidup bahkan dapat mulai membentuk seseorang sejak masih berada dalam kandungan ibu.
Katrin mengangkat Mazmur 51:7, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku,” sebagai salah satu dasar refleksi. Menurutnya, pengalaman emosional yang dialami seorang ibu selama masa kehamilan, seperti tekanan, kekhawatiran, rasa putus asa, maupun berbagai pergumulan, dapat menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian memengaruhi kehidupan anak.
Pengalaman-pengalaman negatif tersebut, demikian dijelaskan Katrin, dapat muncul dalam berbagai bentuk ketika seseorang bertumbuh. Seseorang dapat mengalami kebingungan, rasa tidak berdaya, kecewa, merasa tidak berguna, minder, depresi, merasa ditolak atau disisihkan, mudah marah, takut, sulit mendengarkan orang lain, hingga kesulitan mengalami kebahagiaan dalam hidup.
“Luka batin perlu disembuhkan,” tegas Katrin dalam mengantar peserta memasuki proses penyembuhan.
Proses tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan: mengingat kembali luka yang pernah dialami, merasakan kembali rasa sakit yang menyertainya, mengampuni orang yang telah melukai, dan akhirnya belajar mencintai mereka.
Tahapan ini tidak sekadar menjadi materi yang didengarkan, tetapi dialami secara langsung oleh para peserta. Dalam suasana doa, refleksi, dan penyembahan, peserta diajak berhadapan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu yang mungkin selama ini disimpan dalam hati.
Proses tersebut kemudian mencapai salah satu titik penting ketika peserta diajak melakukan tindakan simbolis membasuh kaki satu sama lain. Orang tua membasuh kaki anak dan sebaliknya, saudara dan saudari saling membasuh kaki, demikian pula relasi antara gembala dan umat.
Tindakan sederhana tersebut menjadi simbol kerendahan hati, pengampunan, penerimaan, dan kasih. Peserta diajak melepaskan luka, mengampuni mereka yang pernah melukai, serta membuka hati untuk mengalami kebebasan baru.
Memutus Pola Negatif dalam Keluarga
Pada materi kedua, Katrin BL Derosari kembali mendampingi peserta dengan tema “Pemutusan dari Hal Negatif yang Diturunkan dari Pohon Keluarga.”
Katrin mengajak peserta melihat perjalanan manusia dalam terang kisah penciptaan, kejatuhan manusia dalam dosa, hingga karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus.
Ia menguraikan kisah kejatuhan Lucifer sebagaimana digambarkan dalam Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:12-17, serta peperangan rohani yang digambarkan dalam Wahyu 12:7-9. Dari kisah tersebut, peserta diajak memahami bagaimana kesombongan dan pemberontakan terhadap Allah membawa konsekuensi yang luas.
Selanjutnya, Katrin mengarahkan peserta pada kisah penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26-27) dan menempatkan Adam serta Hawa di Taman Eden. Namun, ketidaktaatan terhadap perintah Allah membawa masuknya dosa ke dalam kehidupan manusia.
Kisah Kain dan Habel kemudian menjadi gambaran bagaimana dosa dapat berkembang dalam relasi manusia. Iri hati membawa Kain membunuh saudaranya sendiri, Habel (Kej. 4:1-14).
Dalam pemaparan tersebut, peserta diajak melihat bahwa persoalan dosa dapat memiliki konsekuensi yang panjang dalam kehidupan keluarga dan generasi. Pola-pola negatif dalam keluarga dapat terus muncul melalui perilaku, relasi, maupun berbagai konsekuensi yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Namun, perjalanan manusia tidak berhenti pada dosa. Katrin menegaskan bahwa kasih Allah selalu membuka jalan keselamatan. Janji penebusan digenapi dalam diri Yesus Kristus. Kristus datang sebagai Penebus dosa manusia dan melalui kematian-Nya di kayu salib, jalan keselamatan dibuka bagi umat manusia.
Matius 27:51-53 menjadi salah satu teks yang digunakan untuk menggambarkan peristiwa kematian Yesus dan terbukanya jalan menuju Allah.
Dari rangkaian refleksi tersebut, peserta diajak untuk melihat kembali perjalanan keluarga masing-masing. Mereka kemudian diminta membuat pohon keluarga, menuliskan garis keturunan dari generasi ke generasi, serta mengenali berbagai pola negatif yang menurut pengalaman mereka muncul dalam perjalanan keluarga.
Pohon keluarga tersebut selanjutnya dipersembahkan kepada Tuhan. Dalam suasana doa, seluruh peserta bersama-sama mendaraskan doa pemutusan terhadap berbagai hal negatif yang mereka refleksikan dalam garis keturunan keluarga.
Bagi peserta, proses ini menjadi kesempatan untuk menyerahkan masa lalu kepada Tuhan dan meneguhkan harapan akan kehidupan baru yang berakar dalam Kristus.
Dari Luka Menuju Pembebasan
Sepanjang rangkaian Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik di Lite, setiap sesi tidak hanya diisi dengan pengajaran, tetapi juga diiringi kidung-kidung penyembahan. Suasana doa dan penyembahan menjadi bagian penting yang membantu peserta masuk dalam keheningan, refleksi, dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Seluruh rangkaian kemudian berpuncak pada Perayaan Ekaristi Kudus bersama umat Stasi Pusat Paroki Lite Knotan pada keesokan harinya.
Ekaristi dipimpin oleh RD. Bernardus Belawa Wara, Moderator Badan Pengurus Keuskupan Karismatik Katolik Keuskupan Larantuka, bersama RD. Hendrikus Sam Dosinaen dan RD. Tisto Kerans.
Perayaan Ekaristi menjadi puncak perjalanan rohani para peserta setelah melewati proses pengenalan luka batin, pengampunan, penyerahan diri, dan doa pemutusan terhadap berbagai hal negatif dalam perjalanan keluarga.
Setelah Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan Penyembahan Sakramen Mahakudus. Dalam keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus, para peserta kembali diajak menempatkan seluruh pengalaman, luka, keluarga, dan masa depan mereka dalam tangan Tuhan.
Seminar ini akhirnya tidak hanya berbicara tentang luka dan dosa, tetapi juga harapan: bahwa di tengah pengalaman hidup yang tidak selalu mudah, manusia memiliki kesempatan untuk mengampuni, menyerahkan diri kepada Allah, dan berjalan menuju kehidupan yang baru dalam Kristus. (RD. Tisto Kerans)


