LITE, Komsos Larantuka — Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) hari pertama di Paroki St. Yoseph Lite berlangsung penuh antusiasme dan sukacita iman. Bertempat di Aula Kapler, kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mengenal lebih dalam makna Pembaharuan Karismatik Katolik, mengalami kasih Allah secara pribadi, serta membuka diri terhadap karya Roh Kudus yang membawa manusia kepada kehidupan baru.
Kegiatan hari pertama diawali dengan pembukaan resmi oleh Pastor Paroki St. Yoseph Lite, RD. Hendrikus Sam Dosinaen. Setelah pembukaan, peserta mengikuti pengenalan awal mengenai Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik melalui pemutaran film dokumenter yang mengisahkan sejarah awal pembaruan dalam Gereja Katolik.
Film tersebut membawa peserta melihat kembali perjalanan Gereja, khususnya pada masa Paus Yohanes XXIII yang membuka “jendela” Gereja melalui Konsili Vatikan II. Semangat membuka jendela tersebut menjadi simbol keterbukaan Gereja terhadap karya Roh Kudus dan pembaruan kehidupan umat beriman. Dari semangat inilah peserta diajak memahami gerakan Pentakosta Baru dan Pembaharuan Karismatik Katolik yang terus berkembang dalam kehidupan Gereja.
Setelah pengantar sejarah, Ibu Katrin BL. De Rosari membawakan materi mengenai dasar iman yang perlu dipahami setiap peserta. Ia menjelaskan bahwa untuk dapat mengikuti perjalanan Pembaharuan Karismatik Katolik secara sungguh-sungguh, setiap orang perlu memahami terlebih dahulu dasar dari amanat Yesus.
Menurut Katrin, terdapat empat kebenaran pokok yang menjadi dasar kehidupan orang beriman dan termuat dalam Kitab Suci.
Pertama, Allah mencintai manusia dan menghendaki agar manusia berbahagia. Manusia diciptakan untuk hidup dalam kasih Allah. Kasih tersebut bukan sesuatu yang jauh, melainkan kasih yang nyata dan personal. Allah menghendaki agar manusia mengalami kasih-Nya dan hidup dalam hubungan yang dekat dengan-Nya.
Kedua, manusia berdosa dan terpisah dari Allah. Dosa menjadi penghalang bagi manusia untuk mengalami kasih Allah secara utuh. Ketika hubungan manusia dengan Allah rusak, hubungan manusia dengan sesama pun ikut mengalami keretakan. Manusia tidak hanya kehilangan kedamaian dengan Allah, tetapi juga kesulitan untuk menerima dan membagikan kasih kepada orang lain.
Ketiga, melalui Yesus Kristus manusia dapat mengalami kasih Allah dan membagikannya kepada sesama. Yesus menjadi jalan bagi manusia untuk kembali mengalami kasih Bapa. Karena itu, iman tidak cukup hanya dengan mengetahui tentang Yesus. Iman harus diterima, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Keempat, dengan menerima Kristus sebagai Penyelamat, manusia menerima Roh Kudus yang memberikan kekuatan untuk hidup baru.
Keempat kebenaran tersebut pada akhirnya mengarah pada sebuah keputusan pribadi: menerima Kristus.
Menerima Kristus, demikian ditekankan dalam materi tersebut, bukan sekadar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Menerima Kristus berarti membuka hati untuk membangun hubungan pribadi dengan-Nya, menerima kasih-Nya, dan menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya.
Kristus harus menjadi pusat kehidupan. Ketika seseorang sungguh-sungguh hidup bersama Kristus, ia mulai mengalami kehidupan dalam kuasa Roh Kudus yang memenuhi hati dan kehidupannya. Kehadiran Roh Kudus kemudian dinyatakan melalui buah-buah Roh dalam kehidupan bersama dengan sesama.
Allah bukanlah pribadi yang jauh dan tidak mungkin dijangkau. Sebaliknya, Allah adalah Pribadi yang mencintai manusia dan menghendaki hubungan pribadi dengan setiap manusia.
Yesus Kristus, Tuhan dan Penyelamat
Sesi berikutnya mengangkat tema “Penyelamatan”, yang dibawakan oleh Mateus Kedang. Dalam sesi ini, peserta diajak menyadari berbagai ketidakberesan yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik dalam diri pribadi, keluarga, kehidupan bersama, maupun dalam relasi manusia dengan alam ciptaan.
Kesadaran tersebut menjadi panggilan untuk melihat bahwa kehidupan manusia semakin menghadapi berbagai persoalan yang merenggangkan hubungan manusia dengan sesama, lingkungan, bahkan dengan Tuhan.
Berbagai cara dan metode telah dilakukan manusia untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Namun, lebih dari sekadar usaha manusia, manusia membutuhkan Allah untuk menemukan kehidupan yang benar-benar baru.
Manusia membutuhkan kebijaksanaan Allah untuk menemukan damai, keadilan, dan kebenaran sejati. Dalam situasi inilah Allah berkarya dengan mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, ke dalam dunia.
Yesus datang untuk menghancurkan belenggu dosa dan kuasa kejahatan serta memberikan kehidupan baru melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
Yesus adalah Tuhan dan Penyelamat.
Pengakuan tersebut menjadi dasar bagi manusia untuk memasuki kehidupan baru dalam Roh, yaitu kehidupan yang sepenuhnya terbuka terhadap keselamatan Allah.
Hidup Baru dalam Roh
Pergulatan iman peserta kemudian dilanjutkan melalui sesi “Hidup Baru dalam Roh” yang dibawakan oleh RD. Markus Kapitan Deornay.
Dalam sesi ini dijelaskan bahwa Bapa menghendaki agar semua manusia mempunyai hidup baru. Karena kasih-Nya, Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia agar manusia dapat menerima Roh Kudus dan mengalami pembaruan hidup.
Hidup baru dimulai dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ketika seseorang sungguh-sungguh mengakui ketuhanan Yesus, ia memasuki sebuah kemerdekaan baru dan mengalami kehidupan yang diperbarui. Di dalam Kristus, dosa manusia dapat diampuni dan hubungan dengan Allah dipulihkan.
Sesudah Yesus bangkit dan naik ke surga, Ia mengutus Roh Kudus untuk membawa manusia kepada kehidupan baru.
Dalam kehidupan baru itu, seseorang mulai mengenal Allah sebagai Bapa yang mencintai dan memelihara dirinya. Ia mengalami kasih Allah dan kehadiran-Nya dengan cara yang baru. Ia mulai menyadari bahwa Allah berbicara di dalam hatinya.
Ia juga semakin mengenal Yesus sebagai Tuhan. Ketuhanan Yesus mulai menjadi dasar dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Bahkan kehidupan doa pun mengalami perubahan. Doa tidak lagi hanya berpusat pada kepentingan dan kebutuhan pribadi, tetapi semakin menjadi doa pujian dan syukur kepada Allah. Dalam pengalaman hidup baru bersama Roh Kudus, seseorang juga dapat mengalami berbagai karunia Roh, termasuk karunia bahasa roh atau bahasa lidah sebagai salah satu bentuk karunia doa.
Menerima Karunia Allah dan Jalan Pertobatan
Materi berikutnya bertemakan “Menerima Karunia Allah”, yang dibawakan oleh Ibu Im Betan. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga diajak melihat pengalaman nyata melalui kesaksian hidup tentang karya Allah yang mencintai dan membebaskan manusia.
Melalui kesaksian tersebut, peserta diajak percaya bahwa Allah sanggup membebaskan manusia dari berbagai kegelapan dan belenggu kehidupan melalui Yesus Kristus.
Allah mau memberikan kehidupan baru melalui Roh Kudus. Allah menawarkan kepada manusia sebuah hubungan pribadi yang memungkinkan setiap orang mengalami kasih, pengampunan, pembebasan, dan kehidupan baru.
Namun, untuk mengalami kehidupan baru itu, manusia harus berani meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi hubungan dengan Allah dan tidak lagi memberikan ruang bagi kuasa kejahatan untuk membelenggu kehidupan.
Hidup menuju Allah membutuhkan ketaatan. Ketika manusia mengikuti Allah, Allah dapat membimbingnya menuju kehidupan yang baru.
Karena itu, pertobatan menjadi bagian penting dalam perjalanan iman.
Pertobatan dimulai dengan kejujuran, yakni keberanian mengakui bahwa ada sesuatu dalam kehidupan yang tidak beres dan membutuhkan perubahan.
Pertobatan juga membutuhkan kerendahan hati, yaitu kesediaan mengakui bahwa manusia membutuhkan pertolongan dan kekuatan Allah.
Selanjutnya adalah penyangkalan diri, yaitu meninggalkan segala perbuatan yang salah dan mengambil keputusan untuk tidak mengulanginya kembali. Manusia juga dipanggil untuk memohon ampun atas segala kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan.
Pengakuan Dosa dan Penerimaan Karunia Roh Kudus
Setelah mengikuti sesi tersebut, seluruh peserta melanjutkan kegiatan dengan Pengakuan Dosa dan doa penerimaan karunia Roh Kudus.
RD. Kustan de Ornay, RD. Sam Dosinaen, dan RD. Tisto Kerans bersama Tim PKK mendampingi peserta dalam proses tersebut.
Suasana iman semakin terasa ketika peserta mengikuti doa dan penumpangan tangan. Setiap peserta diajak membuka hati dan menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah.
Dalam proses tersebut tampak berbagai pengalaman iman. Ada peserta yang tersentuh, terharu, menangis, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan mengalami keheningan batin. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan iman pribadi masing-masing peserta dalam membuka diri terhadap karya Roh Kudus.
Bertumbuh Setelah Menerima Roh Kudus
Rangkaian seminar kemudian dilanjutkan dengan materi “Pertumbuhan” yang kembali dibawakan oleh Ibu Katrin BL. De Rosari.
Katrin menegaskan bahwa menerima karunia Roh Kudus bukanlah akhir dari perjalanan iman. Sebaliknya, penerimaan karunia tersebut menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang untuk terus bertumbuh dalam iman.
Agar dapat bertumbuh dalam Roh, setiap orang membutuhkan sarana-sarana pokok dalam kehidupan sehari-hari, yakni doa, pendalaman Sabda Tuhan, pelayanan, dan komunitas.
Setiap orang perlu menyediakan waktu bersama Tuhan dalam doa setiap hari. Dalam doa, manusia memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara, menyatakan kehendak-Nya, dan mengungkapkan kasih-Nya.
Pertumbuhan iman juga membutuhkan pendalaman Sabda Tuhan. Sabda menjadi sumber yang menuntun manusia untuk semakin mengenal kehendak Allah dan menjadikan kehidupan Yesus sebagai teladan.
Selain doa dan Sabda, kehidupan baru dalam Roh harus diwujudkan melalui pelayanan. Karunia yang diterima bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk membangun kehidupan bersama dan melayani sesama.
Katrin juga menegaskan pentingnya komunitas. Kehidupan Kristiani bukan sesuatu yang dijalani seorang diri. Setiap orang membutuhkan saudara-saudari seiman untuk bertumbuh, saling menguatkan, berbagi pengalaman iman, dan bersama-sama semakin dekat dengan Kristus.
Karena itu, umat dipanggil untuk secara teratur berpartisipasi dalam liturgi Gereja, berdoa, membaca Kitab Suci, serta berkumpul dalam kelompok umat Kristen yang membantu setiap pribadi berkembang dalam iman.
Komunitas bukan sekadar tambahan yang boleh ada atau tidak ada. Komunitas merupakan bagian penting dan suatu keharusan bagi kehidupan dalam Roh.
Pesan tersebut menjadi penegasan sekaligus panggilan misioner bagi seluruh peserta Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik di Paroki St. Yoseph Lite.
Rangkaian materi pada hari pertama akhirnya membawa peserta pada satu kesadaran bahwa pembaruan hidup bukan hanya tentang mengalami suatu kegiatan rohani, tetapi tentang membiarkan Kristus sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan.
Menerima Kristus berarti menyerahkan hidup kepada-Nya. Menerima Roh Kudus berarti bersedia dibarui dan dikuatkan untuk menjalani kehidupan baru. Bertumbuh dalam Roh berarti membangun kehidupan doa, mencintai Sabda Tuhan, melayani sesama, dan hidup dalam komunitas.
Seluruh perjalanan tersebut pada akhirnya mengarah kepada satu tujuan besar: “Kita diubah menjadi serupa dengan Kristus.”
Seminar Pembaharuan Karismatik Katolik di Lite pun menjadi sebuah undangan bagi setiap peserta untuk tidak berhenti pada pengalaman iman pribadi, tetapi membawa pembaruan itu ke dalam keluarga, komunitas, Gereja, dan kehidupan masyarakat. Sebab hidup baru dalam Roh bukan hanya untuk dialami, melainkan juga untuk dihidupi dan dibagikan kepada sesama.
Berita ini sudah dibuat utuh dari pembukaan sampai penutup, termasuk sejarah PKK, empat kebenaran pokok, penyelamatan, hidup baru dalam Roh, pertobatan, pengakuan dosa, penumpangan tangan, karunia Roh Kudus, pertumbuhan, doa, Sabda, pelayanan, dan komunitas. (RD. Tisto Kerans)




