WAIKILOK, Komsos Larantuka – Tahbisan imamat bukanlah garis akhir dari sebuah panggilan, melainkan titik awal perjalanan seumur hidup untuk terus dibentuk menjadi gembala yang semakin menyerupai Kristus. Kesadaran inilah yang melandasi Persekutuan Para Imam Muda Diosesan Larantuka (Pepimdila) menyelenggarakan kegiatan On Going Formation (OGF) di Paroki St. Yosep Waikilok, Dekenat Lembata, pada 9–12 Juli 2026.
Pendampingan dan pembinaan tahunan ini menjadi wadah bagi para imam muda untuk memperdalam kualitas hidup manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral, sekaligus mempererat persaudaraan di antara mereka dalam semangat melayani Gereja.
Sebanyak 61 peserta yang terdiri atas imam, diakon, dan frater mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka disambut dengan penuh sukacita oleh umat Paroki St. Yosep Waikilok. Setibanya di lokasi pada Kamis (9/7), rombongan dijemput dengan iringan Drum Band SMPK Santa Theresia Lamahora dan diterima secara adat sebagai ungkapan penghormatan sekaligus sukacita umat menyambut para pelayan Gereja.
Suasana hangat dan penuh persaudaraan itu menjadi gambaran indah tentang hubungan erat antara imam dan umat. Di tempat inilah para peserta tidak hanya datang untuk menerima pembinaan, tetapi juga belajar dari pengalaman hidup umat yang mereka layani.
Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan Ibadat Sabda di Gereja Paroki St. Yosep Waikilok yang dipimpin Pastor Paroki, RD. Cristian Kila Uran (Romo Tian). Dalam homilinya, ia mengajak seluruh peserta kembali merenungkan makna panggilan dan perutusan yang diterima setiap orang beriman.
Bertolak dari Sabda Tuhan hari itu, Romo Tian menegaskan bahwa panggilan bukanlah sebuah kehormatan yang dinikmati, melainkan sebuah perutusan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.
“Kita semua dipanggil, baik para imam maupun kaum awam, untuk menjadi utusan yang menghadirkan Kerajaan Allah yang tersembunyi menjadi nyata sebagai tanda keselamatan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa panggilan merupakan anugerah Allah yang diterima secara cuma-cuma. Karena itu, setiap orang yang menerima panggilan dipanggil pula untuk membagikan anugerah tersebut dengan tulus melalui pelayanan kepada sesama.
“Panggilan yang kita terima secara cuma-cuma haruslah kita bagikan secara cuma-cuma agar hidup kita tidak menjadi percuma,” pesannya.
Usai Ibadat Sabda, para peserta langsung memasuki dinamika pembinaan dengan dibagi ke berbagai lingkungan dalam wilayah Paroki Waikilok untuk menjalani kegiatan pastoral bersama umat.
Pembinaan yang Tidak Pernah Berakhir
Bagi seorang imam, tahbisan bukanlah akhir dari proses pembentukan. Justru sejak menerima Sakramen Imamat, seorang imam dipanggil untuk terus memperbarui diri agar tetap setia terhadap rahmat panggilannya dan mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
Semangat inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan On Going Formation. Pembinaan berkelanjutan dipahami sebagai proses mengobarkan kembali rahmat tahbisan sekaligus mengembangkan seluruh aspek kehidupan imam, baik manusiawi, rohani, intelektual, maupun pastoral.
Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Pastores Dabo Vobis yang menegaskan bahwa pembinaan imam tidak berhenti setelah tahbisan, tetapi berlangsung sepanjang hidup demi menjaga kesetiaan terhadap panggilan dan meningkatkan kualitas pelayanan Gereja.
Tahun ini kegiatan OGF diikuti oleh 47 imam dan frater serta 10 diakon. Mereka didampingi empat imam pembina, yakni RD. Georgius Harian Lolan, RP. Toni Janga, CP, RD. Lukas Laba Erap, dan RD. Gabriel Unto da Silva.
Para peserta berasal dari imam-imam projo Keuskupan Larantuka yang belum mencapai sepuluh tahun imamat, imam tarekat yang berkarya di Keuskupan Larantuka dengan masa pelayanan kurang dari lima tahun, serta para diakon dan frater yang sedang menjalani masa orientasi pastoral.
Ketua Pepimdila Keuskupan Larantuka, RD. Valerianus W.W. Koten, menegaskan bahwa OGF bukan sekadar forum akademis untuk menerima materi pembinaan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ruang persaudaraan tempat para imam muda saling berbagi pengalaman, berefleksi bersama, serta saling menguatkan dalam menghadapi dinamika kehidupan dan pelayanan.
Melalui proses tersebut, diharapkan kualitas pelayanan pastoral para imam muda semakin berkembang seiring dengan pertumbuhan pribadi mereka sebagai pelayan Gereja.

OGF Pepimdila di Paroki Waikilok, Juli 2026
Belajar dari Senior dan Dari Umat
Selama empat hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi yang menyentuh aspek kehidupan imam secara menyeluruh.
RP. Toni Janga, CP membawakan materi mengenai komunikasi pastoral, mengajak peserta membangun cara berkomunikasi yang semakin efektif, empatik, dan menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan umat.
Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, memberikan arahan mengenai semangat pelayanan dan arah pastoral Keuskupan Larantuka sebagai bekal bagi para imam muda dalam menjalankan karya perutusan di tengah Gereja lokal.
Pada hari berikutnya, RD. Georgius Harian Lolan mengajak peserta berefleksi melalui materi bertajuk “Memberi Hati tanpa Kekerasan dan Berhenti Melukai Diri Sendiri.” Melalui tema tersebut, peserta diajak menyadari pentingnya kesehatan emosional dan spiritual sebagai fondasi pelayanan yang sehat dan penuh belas kasih.
Sementara itu, RD. Lukas Laba Erap dan RD. Gabriel Unto da Silva membagikan pengalaman pastoral mereka sebagai bekal praktis bagi para imam muda dalam menghadapi berbagai dinamika pelayanan di lapangan.
Namun proses pembinaan tidak berhenti di ruang kelas. Salah satu ciri khas OGF ialah keterlibatan langsung peserta bersama umat melalui kunjungan ke Komunitas Basis Gerejani (KBG).
Dalam kesempatan tersebut, para peserta berdialog dengan keluarga-keluarga Katolik mengenai kehidupan rumah tangga, pendidikan iman anak-anak, tantangan hidup berkeluarga, serta tanggung jawab bersama membangun Gereja.
Program live in yang menjadi bagian dari kegiatan ini memberi kesempatan kepada para imam muda untuk merasakan secara langsung denyut kehidupan umat. Pengalaman tersebut menjadi sarana belajar yang penting agar pelayanan pastoral tetap berpijak pada realitas konkret kehidupan umat.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin mengenal diri sendiri, sesama imam, umat, serta medan pelayanan yang akan mereka hadapi.
Pada saat yang sama, Gereja Keuskupan Larantuka berharap memiliki para pelayan pastoral yang semakin matang secara pribadi, profesional dalam pelayanan, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan semangat Injil.
Kegiatan On Going Formation Pepimdila akan mencapai puncaknya pada Minggu, 12 Juli 2026, dalam Perayaan Ekaristi Syukur Satu Tahun Paroki St. Yosep Waikilok yang dirangkaikan dengan serah terima kepengurusan Pepimdila.
Melalui pembinaan berkelanjutan ini, para imam muda Keuskupan Larantuka kembali menegaskan komitmen mereka untuk terus bertumbuh sebagai gembala yang rendah hati, hidup dalam persaudaraan, dan setia menghadirkan kasih Kristus bagi Gereja serta masyarakat. (@sly)
