SALIB ’BLEBA BROIT’ SATUKAN PUTRA-PUTRI NUSA TADON: Reuni Imam, Suster, Frater, dan Bruder Teguhkan Komitmen Membangun Perdamaian

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Nusa Tadon Adonara yang masih sesekali diwarnai konflik antarsuku dan antarlewo, puluhan imam, suster, frater, dan bruder memilih kembali ke tanah kelahiran bukan sekadar untuk melepas rindu. Mereka pulang membawa semangat persaudaraan, memperbarui komitmen panggilan, dan meneguhkan tekad menjadi pembawa damai bagi tanah yang telah melahirkan mereka.

by Komsos Keuskupan Larantuka

TANAH BOLENG, Komsos Larantuka – Di tengah dinamika kehidupan masyarakat Nusa Tadon Adonara yang masih sesekali diwarnai konflik antarsuku dan antarlewo, puluhan imam, suster, frater, dan bruder memilih kembali ke tanah kelahiran bukan sekadar untuk melepas rindu. Mereka pulang membawa semangat persaudaraan, memperbarui komitmen panggilan, dan meneguhkan tekad menjadi pembawa damai bagi tanah yang telah melahirkan mereka.

Semangat itulah yang mewarnai Reuni Imam, Suster, Frater, dan Bruder Asal Nusa Tadon Adonara yang berlangsung di Paroki Santo Yosep Tanah Boleng pada 9–12 Juli 2026. Selama empat hari, perjumpaan ini menjadi ruang untuk mengenang akar kehidupan, mempererat ikatan kekeluargaan, merefleksikan perjalanan panggilan, sekaligus merumuskan langkah bersama agar Gereja semakin hadir sebagai kekuatan yang mempersatukan masyarakat.

Lebih dari sekadar temu kangen, reuni ini menghadirkan pesan yang sangat jelas: panggilan sebagai imam, suster, frater, maupun bruder tidak pernah memutus hubungan dengan tanah asal. Justru dari tanah kelahiran itulah lahir tanggung jawab moral untuk ikut menjaga persatuan, menyembuhkan luka-luka sosial, dan menghadirkan harapan bagi masyarakat.

Salib “Bleba Broit”, Lambang Persaudaraan yang Mempersatukan

Salib “Bleba Broit”, Lambang Persaudaraan yang Mempersatukan

Seluruh rangkaian reuni dibuka dengan perarakan Salib Suci “Bleba Broit” dari Paroki Santo Werenfried Lambunga menuju Paroki Santo Yosep Tanah Boleng. Salib tersebut bukan sekadar simbol devosi, melainkan memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Nusa Tadon. Dari tempat pertama kali dipancangkan di Gereja Santo Werenfried Lambunga, Salib “Bleba Broit” kini terus dihadirkan sebagai lambang kasih Kristus yang menyatukan serta mengajak umat meninggalkan perpecahan menuju rekonsiliasi.

Setibanya di Tanah Boleng, Salib Suci disambut secara adat oleh umat Paroki Santo Yosep. Prosesi penyambutan yang sarat nilai budaya itu memperlihatkan eratnya hubungan antara iman Katolik dan kearifan lokal masyarakat Adonara. Iringan doa, nyanyian, serta penghormatan adat menciptakan suasana yang khidmat sekaligus penuh sukacita.

Puncak hari pertama ditandai dengan Ibadat Sabda Pentakhtaan Salib Suci “Bleba Broit”, dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi dan pembagian peserta ke rumah-rumah umat. Para imam, suster, frater, dan bruder kemudian mengunjungi berbagai stasi dan lingkungan di Paroki Santo Yosep Tanah Boleng. Mereka tidak hanya hadir sebagai pelayan Gereja, tetapi sebagai anak-anak kampung yang kembali pulang, mendengarkan cerita umat, berbagi pengalaman pelayanan, serta mempererat kembali ikatan persaudaraan dengan keluarga dan masyarakat.

Perjumpaan-perjumpaan sederhana itu menghadirkan suasana hangat. Banyak umat mengaku bersyukur karena dapat kembali bertemu dengan para imam maupun religius yang berasal dari kampung mereka. Kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa panggilan hidup bakti selalu bertumbuh dari keluarga, budaya, dan iman yang diwariskan oleh masyarakat.

Reuni Menjadi Ruang Syukur dan Penguatan Panggilan

Hari kedua reuni diawali dengan Perayaan Ekaristi Syukur Perak Imamat RD. Yohanes Yandri Goran Kosa Masang, imam asal Paroki Pukaona, Dekenat Adonara, yang kini melayani sebagai imam projo Keuskupan Samarinda.

Perayaan itu bukan hanya menjadi ungkapan syukur atas kesetiaan Tuhan selama 25 tahun perjalanan imamat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Nusa Tadon bahwa panggilan hidup merupakan rahmat yang perlu dipelihara dengan kesetiaan dan pengorbanan.

Sukacita perayaan semakin terasa dengan kehadiran keluarga, umat, rekan-rekan imam, para suster, frater, dan bruder yang bersama-sama mengenangkan perjalanan pelayanan Romo Yandri. Kesaksiannya menjadi bukti bahwa benih panggilan yang tumbuh di tanah Nusa Tadon dapat berkembang dan berbuah di berbagai tempat perutusan.

Pada sore hari, peserta melanjutkan kegiatan melalui pertemuan bersama organisasi-organisasi gerejani. Malam harinya mereka kembali berkumpul bersama umat dalam Perayaan Ekaristi dan sesi berbagi pengalaman hidup menggereja. Berbagai kisah pelayanan, tantangan pastoral, hingga harapan terhadap Gereja dibagikan dalam suasana yang terbuka dan penuh kekeluargaan.

Hari ketiga menjadi kesempatan memperkuat persaudaraan di antara para peserta melalui kegiatan kebersamaan di Pantai Ina Burak yang didampingi oleh Konsultan Pendidikan, Kamilus Inguliman. Berbagai dinamika kelompok dan permainan bukan sekadar sarana rekreasi, melainkan media pembelajaran untuk membangun komunikasi, memperkuat kepercayaan, serta mengembangkan kerja sama dalam menghadapi tantangan pelayanan.

Di balik suasana penuh tawa, peserta diajak menyadari bahwa para pelayan Gereja juga membutuhkan ruang untuk saling mendukung, menjaga kesehatan mental dan spiritual, serta memperkuat ketahanan pribadi agar mampu melayani umat dengan sukacita dan penuh harapan.

Komitmen Perdamaian Bersemi dari Tanah Kelahiran

Puncak refleksi reuni semakin terasa dengan kehadiran Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Bersama umat Paroki Santo Yosep Tanah Boleng, para imam, suster, frater, dan bruder menyambut kedatangan gembala Keuskupan Larantuka itu sebelum mengikuti pemberkatan Taman Doa Salib Suci “Bleba Broit” di Desa Bungalawan.

Taman doa tersebut dibangun sebagai miniatur sekaligus monumen iman yang mengabadikan perjalanan Salib “Bleba Broit” di Nusa Tadon. Lebih dari sekadar sebuah bangunan rohani, taman doa itu diharapkan menjadi ruang ziarah, doa, dan refleksi bagi umat untuk terus menghidupi nilai-nilai kasih, pengampunan, dan persaudaraan yang lahir dari Salib Kristus.

Dalam terang makna Salib itulah, para peserta reuni kemudian memasuki sesi diskusi dan berbagi pengalaman. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi para imam, suster, frater, dan bruder untuk melihat secara jujur berbagai tantangan yang mereka hadapi, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pelayanan di tempat perutusan.

Dari berbagai pengalaman yang dibagikan, peserta menyadari bahwa pelayanan Gereja dewasa ini menuntut kesiapan yang tidak hanya bertumpu pada semangat rohani, tetapi juga pada kemampuan mengelola diri secara sehat. Karena itu, penguatan manajemen pribadi dan pastoral dipandang sebagai kebutuhan yang semakin mendesak agar setiap pelayan Gereja mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga keseimbangan hidup, serta tetap setia pada panggilannya.

Peserta juga menilai bahwa persaudaraan di antara para imam, suster, frater, dan bruder asal Nusa Tadon perlu terus diperluas. Selama ini masih banyak anggota yang berkarya di berbagai keuskupan maupun tarekat religius yang belum terlibat dalam kegiatan bersama. Karena itu, reuni diharapkan menjadi awal lahirnya jejaring komunikasi yang semakin kuat sehingga semangat kebersamaan tidak hanya hidup saat reuni berlangsung, tetapi terus terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatian terbesar peserta tertuju pada kenyataan bahwa masyarakat Nusa Tadon masih sesekali dihadapkan pada konflik antarsuku maupun antarlewo. Bagi para peserta, kenyataan tersebut bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga menjadi panggilan pastoral yang menuntut keterlibatan Gereja dalam menghadirkan rekonsiliasi.

Sebagai putra-putri daerah yang kini mengabdikan diri dalam kehidupan imamat dan hidup bakti, mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut merawat persaudaraan di tanah kelahiran. Rekonsiliasi tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus dimulai dari kesaksian hidup, pewartaan Injil, pendampingan umat, pendidikan iman, serta keberanian membangun dialog di tengah masyarakat.

Atas dasar refleksi tersebut, reuni menghasilkan sejumlah komitmen bersama. Para peserta sepakat membangun jejaring komunikasi yang lebih luas melalui berbagai sarana, termasuk media sosial, sehingga para imam, suster, frater, dan bruder asal Nusa Tadon yang berkarya di berbagai daerah tetap terhubung dalam semangat persaudaraan.

Selain itu, makna Salib Suci “Bleba Broit” akan terus didalami melalui katekese, doa bersama, doa pribadi, serta pentakhtaan Salib Suci di berbagai wilayah Nusa Tadon Adonara. Dengan cara itu, Salib tidak hanya menjadi simbol yang dikenang, tetapi sungguh dihidupi sebagai tanda kasih Kristus yang menyatukan, menyembuhkan, dan menghadirkan perdamaian.

Menjaga Api Persaudaraan untuk Masa Depan

Reuni juga melahirkan sejumlah keputusan penting sebagai langkah menjaga kesinambungan persaudaraan. Para peserta menyepakati penyelenggaraan Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama secara bergilir, yakni Tahun 2026 di Paroki Koli-Sagu, Tahun 2027 di Paroki Lite, dan Tahun 2028 di Paroki Baniona. Melalui perjumpaan tahunan tersebut, hubungan kekeluargaan diharapkan terus terpelihara sekaligus menjadi ruang saling menguatkan dalam panggilan dan pelayanan.

Sementara itu, Reuni Imam, Suster, Frater, dan Bruder asal Nusa Tadon Adonara berikutnya disepakati akan dilaksanakan pada Tahun 2029 di Paroki Waiwerang, dengan Paroki Kiwangona sebagai lokasi cadangan. Keputusan ini menegaskan bahwa reuni bukanlah kegiatan sesaat, melainkan sebuah gerakan persaudaraan yang terus dirawat dari waktu ke waktu.

Seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya dalam Perayaan Ekaristi penutupan yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, pada Minggu, 12 Juli 2026, bersama umat Paroki Santo Yosep Tanah Boleng dan keluarga para imam, suster, frater, serta bruder asal Nusa Tadon Adonara.

Perayaan syukur tersebut menjadi peneguhan bahwa persaudaraan yang dibangun selama reuni berakar pada semangat Keuskupan Larantuka, “Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan.” Dalam semangat itu, setiap peserta diutus kembali ke tempat pelayanannya masing-masing untuk menjadi saksi kasih Kristus dan pembawa damai di tengah Gereja maupun masyarakat.

Mengakhiri seluruh rangkaian reuni, para peserta menyampaikan satu harapan yang dirumuskan dalam Pernyataan Bersama:

“Semoga Salib Kristus ‘Bleba Broit’ menjadi Kabar Sukacita dan Sumber Damai Sejahtera bagi seluruh umat di Tanah Nusa Tadon Adonara.”

Harapan tersebut menjadi penutup yang sekaligus merangkum seluruh makna reuni. Bagi para imam, suster, frater, dan bruder asal Nusa Tadon Adonara, pulang ke tanah kelahiran bukan sekadar memenuhi kerinduan akan kampung halaman. Pulang berarti memperbarui akar persaudaraan, menimba kembali semangat panggilan, dan meneguhkan komitmen untuk terus menghadirkan damai Kristus. Dari bawah naungan Salib “Bleba Broit”, mereka ingin mewariskan kepada generasi mendatang sebuah Nusa Tadon yang semakin bersatu, rukun, dan hidup dalam harapan. (RD. Ben Belawa)

You may also like