BUKAN SEKADAR 25 TAHUN PELAYANAN: Mgr. Fransiskus Kopong Kung Bicara tentang Kekuatan Kasih yang Menggerakkan

“Kasih Kristus mendesak kami.” Kalimat yang menjadi moto Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan itu bukan sekadar ungkapan rohani, melainkan sebuah kesaksian hidup yang telah ditempa selama 25 tahun perjalanan imamatnya. Dari altar tahbisan hingga medan pelayanan bersama umat kecil dan mereka yang terluka oleh berbagai pergumulan hidup, kasih Kristus menjadi kekuatan yang terus menggerakkan langkahnya. Sukacita dan syukur memenuhi Gereja Stasi Riangkotek, Paroki Lewotala, pada Jumat (17/7/2026), ketika umat Allah bersama para imam, biarawan-biarawati, keluarga, sahabat, dan para undangan merayakan Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan. Tepat seperempat abad sebelumnya, Romo Nus menerima tahbisan imam dari almarhum Mgr. Darius Nggawa, SVD memulai sebuah ziarah panggilan yang kini telah mengantar dirinya melayani Gereja lokal Keuskupan Larantuka selama 25 tahun.

by Komsos Keuskupan Larantuka

RIANGKOTEK, Komsos Larantuka – “Kasih Kristus mendesak kami.” Kalimat yang menjadi moto Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan itu bukan sekadar ungkapan rohani, melainkan sebuah kesaksian hidup yang telah ditempa selama 25 tahun perjalanan imamatnya. Dari altar tahbisan hingga medan pelayanan bersama umat kecil dan mereka yang terluka oleh berbagai pergumulan hidup, kasih Kristus menjadi kekuatan yang terus menggerakkan langkahnya.
Sukacita dan syukur memenuhi Gereja Stasi Riangkotek, Paroki Lewotala, pada Jumat (17/7/2026), ketika umat Allah bersama para imam, biarawan-biarawati, keluarga, sahabat, dan para undangan merayakan Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan. Tepat seperempat abad sebelumnya, Romo Nus menerima tahbisan imam dari almarhum Mgr. Darius Nggawa, SVD memulai sebuah ziarah panggilan yang kini telah mengantar dirinya melayani Gereja lokal Keuskupan Larantuka selama 25 tahun.

Perayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

Perayaan Ekaristi syukur dipimpin oleh Yubilaris, sementara homili disampaikan oleh Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, yang selama hampir seluruh perjalanan pelayanan imamat Romo Nus menjadi gembala dan pendampingnya.
Dalam homilinya, Mgr. Fransiskus mengawali dengan sebuah kisah sederhana yang menggambarkan kerendahan hati dan makna syukur seorang imam. Ia mengungkapkan bahwa semula Romo Nus meminta dirinya memimpin perayaan Ekaristi tersebut.
“Romo Nus meminta saya memimpin Misa ini. Tetapi saya katakan, romolah yang memimpin. Saya hadir untuk turut bersyukur. Memang Uskup Darius yang menahbiskan beliau, tetapi selama 24 tahun beliau berkarya bersama saya,” ungkapnya.
Menurut Mgr. Fransiskus, perjalanan seorang imam tidak pernah hanya bergantung pada kemampuan manusiawi, melainkan terutama karena kasih Allah yang senantiasa bekerja dan menguatkan.
“Kasih Tuhan mendesak seorang imam. Ada dorongan yang begitu kuat, bahkan seperti memaksa. Bukan karena Tuhan memaksa secara harfiah, tetapi karena Tuhan mempunyai kepentingan bagi keselamatan umat-Nya. Kasih itulah yang terus menggerakkan seorang imam,” katanya.
Ia berharap moto Perak Imamat Romo Nus tidak berhenti sebagai semboyan, tetapi menjadi energi rohani yang terus dibagikan kepada umat.
“Saya meminta Romo Nus membagikan desakan kasih Tuhan itu kepada umat. Biarlah kasih Kristus yang telah mendorong Romo selama ini juga menjadi kekuatan yang menggerakkan banyak orang untuk bersyukur dan melayani.”
Dengan penuh rasa syukur, Mgr. Fransiskus memberikan apresiasi atas dedikasi pelayanan Romo Nus selama seperempat abad.
“Saya bersyukur karena imam saya melayani dengan penuh pengorbanan. Saya bangga atas pengorbanan itu. Banyak yang telah Romo lakukan bagi Gereja dan masyarakat,” ujarnya.

erayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

Perayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

Berangkat dari Moto “Cinta adalah Salib”
Dalam kesempatan tersebut, Romo Nus mengenang kembali perjalanan awal panggilannya sebagai imam. Pada 9 Juli 2001, di Gereja Paroki Santo Yoseph Riangkemie, ia menerima tahbisan imam dan memilih moto tahbisan: “Cinta adalah Salib.”
Moto tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi lahir dari sebuah keyakinan bahwa cinta sejati selalu menuntut pengorbanan.
Perutusan pertama membawanya ke Paroki Santa Maria Tak Bernoda Baniona. Walaupun berlangsung hanya beberapa bulan, pengalaman itu menjadi sekolah awal untuk belajar mencintai umat melalui pelayanan sederhana.
Kemudian ia diutus ke Paroki Santo Lodovikus Waiklikang yang saat itu masih membawahi Paroki Riangpuho dan Kotenwalang. Wilayah pelayanan yang luas dengan berbagai keterbatasan menjadi ruang pembentukan dirinya sebagai imam muda yang belajar berjalan bersama umat.

“Saya berjuang menerima kenyataan pastoral. Saya terus berjalan dan berjumpa dengan orang-orang kecil. Di sanalah saya belajar bahwa cinta selalu berjalan bersama keadilan dan pengorbanan,” tutur Romo Nus.
Ia juga mengenang pengalaman melalui kisah Reo dan Belalo yang semakin meneguhkan keyakinannya bahwa kasih sejati tidak pernah terpisah dari keberanian untuk berkorban.

Perayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

Menjumpai Kristus dalam Wajah Mereka yang Menderita
Perjalanan imamat Romo Nus kemudian memasuki berbagai medan pelayanan di tingkat Keuskupan Larantuka.
Selama tujuh tahun ia dipercaya sebagai Ketua Komisi Kepemudaan. Setelah itu ia menjalankan tugas sebagai Delegatus, Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), sekaligus Direktur Caritas Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 14 tahun.
Melalui pelayanan tersebut, ia semakin menemukan bahwa wajah Kristus hadir dalam kehidupan mereka yang kecil, miskin, terluka, dan membutuhkan pendampingan.

Pendampingan terhadap masyarakat kecil, kaum difabel, para penyintas Badai Seroja, erupsi Gunung Ile Lewotolok di Lembata, serta erupsi Gunung Lewotobi memperdalam pemahamannya bahwa pelayanan kemanusiaan bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan sebuah perjumpaan iman dengan Kristus yang hadir dalam penderitaan umat-Nya.

Perayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

“Caritas Christi Urget Nos”
Dari seluruh pengalaman perjalanan itu, Romo Nus memilih moto Perak Imamatnya: Caritas Christi Urget Nos, yang diambil dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (2Kor. 5:14), yang berarti: “Kasih Kristus mendorong kami.”
Moto tersebut menjadi ungkapan syukur atas penyelenggaraan Allah yang telah menyertai perjalanan imamatnya selama seperempat abad.

Dengan suara yang sempat bergetar, Romo Nus mengakui bahwa perjalanan pelayanan tidak selalu mudah. Ada masa kelelahan, sakit, dan keterbatasan yang harus dilewati.
“Kasih Tuhan mendesak saya bahkan sampai terluka. Saya pernah lemah dan jatuh sakit. Tetapi saya bersyukur karena Tuhan tetap menguatkan saya. Perlahan saya mengalami penyembuhan. Perlahan saya kembali kuat. Kasih Tuhan menguatkan saya untuk kembali melayani-Nya.”
Kesaksian tersebut menyentuh hati umat yang hadir. Banyak dari mereka mengenal Romo Nus sebagai imam yang hadir di tengah masyarakat, terutama ketika umat mengalami berbagai bencana dan pergumulan hidup.

Perayaan Perak Imamat Romo Nus Welan di Riangkotek

Syukur atas Kesetiaan Allah
Perayaan Perak Imamat RD. Marianus Dewantoro Talu Welan bukan hanya mengenang perjalanan seorang imam selama 25 tahun, tetapi juga menjadi perayaan iman seluruh Gereja yang menyaksikan kesetiaan Allah.
Dari moto tahbisan “Cinta adalah Salib” hingga moto Perak Imamat “Caritas Christi Urget Nos”, tampak sebuah benang merah perjalanan hidup: cinta yang dipeluk melalui salib telah bertumbuh menjadi kasih Kristus yang terus menopang, menguatkan, dan menggerakkan pelayanan.

Perak Imamat RD. NUS WELAN

Di akhir perayaan, bersama seluruh umat yang hadir, Romo Nus menaikkan syukur kepada Tuhan atas rahmat panggilan yang telah diterimanya. “Caritas Christi Urget Nos” Kasih Kristuslah yang terus mendesak dan menggerakkan kami untuk melayani. (@sly)

You may also like