Selama dua tahun berada di tempat ini, saya menjadikan satu ayat Injil Yohanes 2:17 sebagai cahaya yang menuntun perjalanan panggilan saya: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”
Ayat Kitab Suci ini bukan sekadar kalimat indah, tetapi menjadi pengalaman hidup yang perlahan saya hayati. Melalui ayat ini, saya memahami bahwa panggilan bukan pertama-tama tentang apa yang saya lakukan bagi Tuhan, melainkan tentang bagaimana saya membiarkan diri dibentuk, dimurnikan, dan dibakar oleh cinta Tuhan.
Saya percaya bahwa Tuhan menempatkan saya di rumah ini bukan secara kebetulan. Melalui setiap pengalaman, perjumpaan, dan tantangan, Tuhan mengajarkan saya untuk mencintai, melayani, mendampingi, dan menyerahkan diri kepada-Nya melalui mereka yang dipercayakan kepada saya.
Saya masih ingat malam pertama ketika tiba di rumah ini. Ada rasa asing, cemas, dan banyak pertanyaan dalam hati. Namun perlahan saya menyadari bahwa tempat ini bukan hanya sebuah rumah tinggal atau tempat pembinaan (asrama), tetapi sebuah ruang pastoral: tempat belajar melayani, mendampingi, membimbing, dan menghadirkan kasih Tuhan.
Di tempat ini saya belajar bahwa persiapan menjadi seorang imam bukan hanya tentang masa depan, tetapi tentang bagaimana menghadirkan cinta Tuhan melalui hal-hal sederhana: hadir, mendengarkan, memahami, dan melayani.
Pernah saya menerima sebuah nasihat sederhana namun bermakna: “Lakukan apa pun yang dikerjakan dengan total dan tulus.” Dua kata ini menjadi pegangan saya: total dan tulus.
Cinta kepada Kristus mengajak saya memberikan diri secara utuh. Api cinta tidak pernah menyala setengah-setengah. Api yang berkobar menerangi, menghangatkan, dan membakar segala sesuatu yang menghalangi. Demikian pula cinta kepada Tuhan harus mampu membakar egoisme, kenyamanan diri, dan keinginan mencari kepentingan pribadi.
Saya belajar bahwa menjadi pelayan Tuhan berarti mencintai tanpa syarat, melayani tanpa menghitung keuntungan, dan memberi diri tanpa menunggu penghargaan. Totalitas bukan berarti tidak pernah lelah atau mengalami kesulitan, tetapi tetap setia memilih jalan Tuhan dalam setiap keadaan.
Selama mendampingi para siswa di asrama ini, hidup bersama umat lingkungan dan KBG, saya mengalami bahwa perjalanan panggilan memiliki sukacita sekaligus tantangan. Ada pengalaman yang menguatkan, tetapi ada juga pergumulan yang memurnikan. Saya belajar bahwa Tuhan bekerja bukan hanya melalui keberhasilan, tetapi juga melalui kelemahan dan keterbatasan.
Saya pernah merasa takut tidak mampu memenuhi harapan banyak orang atau menjalankan tugas dengan baik. Namun melalui semua itu, Tuhan mengajarkan bahwa panggilan tidak dibangun atas kekuatan manusia, melainkan atas rahmat-Nya.
Karena itu, saya semakin menyadari pentingnya doa. Tanpa doa, pelayanan dapat berubah menjadi pekerjaan semata. Tanpa doa, cinta dapat berubah menjadi ambisi. Dalam doa saya belajar bahwa saya hanyalah alat di tangan Tuhan. Saya bukan penyelamat, sebab hanya Kristuslah Sang Penyelamat.
Saya bersyukur atas semua orang yang Tuhan hadirkan selama dua Tahun Oryentasi Pastoral (TOP) ini: para siswa, umat lingkungan dan KBG, dan semua yang menjadi bagian dari perjalanan panggilan saya. Mereka telah mengajarkan saya tentang cinta, kesabaran, pengampunan, dan ketulusan.
Saatnya saya melangkah menuju tahap berikutnya. Perpisahan bukanlah akhir, sebab kasih yang sejati tetap tinggal dalam hati. Saya membawa satu keyakinan: menjadi imam adalah pilihan untuk terus berkata “ya” kepada Tuhan setiap hari.
Pilihan untuk tetap setia ketika pelayanan terasa berat. Pilihan untuk tetap mengasihi ketika pengorbanan dibutuhkan. Pilihan untuk terus membiarkan api kasih Kristus menyala dalam diri.
Akhirnya, saya mengucapkan syukur atas dua tahun penuh rahmat ini. Semua pengalaman, sukacita, tantangan, kegagalan, keberhasilan, dan air mata telah menjadi cara Tuhan membentuk panggilan saya. Ke mana pun Tuhan mengutus saya, saya ingin terus menghidupi sabda ini: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”
Semoga cinta kepada Kristus selalu menjadi api yang membakar hati saya, sehingga saya mampu melakukan apa pun dengan total, tulus, dan setia. Sebab panggilan bukan tentang seberapa besar yang saya berikan kepada Tuhan, tetapi tentang seberapa rela saya membiarkan Tuhan memakai seluruh hidup saya bagi karya kasih-Nya.***
65
