Saturday, June 13, 2026
Banner

KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA: Homili Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada Misa Inkulturasi Paroki St. Yosef Riangkemie

by Komsos Keuskupan Larantuka

Inspirasi Injil Yohanes 18:15-27

Saudara-saudari terkasih, para tetua adat, rekan-rekan imam, serta seluruh umat yang hari ini berkumpul dalam perayaan syukur hasil panen dan persaudaraan Keba Bai Pito Nara Ledu Lema.
Injil hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan, terutama ketika Yesus bertanya sampai tiga kali kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Mengapa sampai tiga kali? Karena Petrus juga tiga kali menyangkal Yesus. Maka Yesus memulihkannya tiga kali pula. Di balik pertanyaan itu sebenarnya ada makna yang sangat dalam tentang kasih, tentang kelemahan manusia, dan tentang bagaimana Tuhan memulihkan manusia.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada Misa Inkulturasi di Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)

Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada Misa Inkulturasi di Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)

Dalam bahasa Yunani, kata “mengasihi” yang dipakai di dalam Injil itu berbeda. Pertanyaan pertama dan kedua dari Yesus menggunakan kata agape. Ini adalah kasih ilahi, kasih Allah sendiri. Kasih yang total, kasih yang tanpa syarat, kasih yang rela menyerahkan diri sepenuhnya. Jadi ketika Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, Yesus sebenarnya bertanya: “Apakah engkau mampu mengasihi seperti Allah mengasihi?”
Namun jawaban Petrus berbeda. Petrus tidak menjawab dengan kata agape, tetapi dengan kata philein, yaitu kasih persaudaraan, kasih seorang sahabat, kasih yang manusiawi. Petrus tidak berani mengangkat dirinya sampai pada tingkat kasih ilahi. Mengapa? Karena ia sadar akan kelemahannya. Ia pernah berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia akan setia sampai mati, tetapi akhirnya ia menyangkal Yesus tiga kali. Petrus belajar bahwa manusia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri. Di situlah Injil hari ini menjadi sangat indah. Pada pertanyaan ketiga, Yesus turun memakai bahasa Petrus. Yesus tidak lagi menggunakan kata agape, tetapi memakai philein. Seakan-akan Yesus berkata: “Petrus, apakah engkau sungguh menjadi sahabat-Ku?”
Di sini kita melihat kerendahan hati Allah. Tuhan tidak tinggal jauh di atas sana dalam kebesaran-Nya, tetapi turun masuk ke dalam kelemahan manusia. Allah yang kita imani bukan Allah yang jauh dan tidak tersentuh. Allah menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Siapa yang melihat Yesus, melihat Allah. Dan dalam Yesus, kita melihat Allah yang rela turun, membasuh kaki murid-murid-Nya, mendekati manusia dengan kasih yang penuh kelembutan.
Artinya, Tuhan tidak memulai dari kesempurnaan manusia, tetapi dari hati yang jujur dan rendah hati. Karena itu Yesus memilih Petrus, bukan karena Petrus sempurna, tetapi karena Petrus mau dibentuk dan dipulihkan. Kalau Yesus mencari murid yang tanpa cacat, mungkin Yohanes yang dipilih. Tetapi Yesus memilih Petrus. Sebab Tuhan tidak memilih orang yang sempurna; Tuhan menyempurnakan orang yang dipilih-Nya.

Misa Inkulturasi Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)

Saudara-saudari terkasih, pesan Injil ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kita dalam semangat Keba Bai Pito Nara Ledu Lema. Persaudaraan sejati tidak lahir dari manusia-manusia yang sempurna. Persaudaraan lahir dari orang-orang yang saling menerima kelemahan, saling menopang, dan saling memulihkan.
Saya yakin, dalam kehidupan bersama antar kampung, pasti pernah ada kesalahpahaman, luka, atau konflik. Bahkan dalam satu keluarga pun ada kelemahan dan pertengkaran. Tetapi justru di situlah persaudaraan diuji: apakah kita mampu saling memulihkan seperti Yesus memulihkan Petrus?
Ketika kita bekerja di kebun bersama, membuka ladang bersama, menanam dan memanen bersama, kita belajar bahwa hidup tidak bisa dijalani sendirian. Yang kuat membantu yang lemah. Yang memiliki hasil lebih berbagi dengan yang berkekurangan. Itulah philein, kasih persaudaraan manusiawi.
Namun Injil hari ini mengajak kita melangkah lebih jauh: dari philein menuju agape, dari persaudaraan manusiawi menuju kasih Kristiani yang rela berkorban. Kristus datang bukan untuk menghapus adat dan budaya kita, tetapi untuk menyempurnakannya dengan kasih Allah.
Kasih Kristiani itu tampak ketika orang tetap mengampuni meskipun disakiti. Ketika keluarga tetap bersatu meskipun ada konflik. Ketika masyarakat tidak membalas dendam. Ketika orang kaya membuka hati bagi yang miskin. Ketika kaum muda menjaga martabat sesama dan tidak terjerumus dalam jalan-jalan yang merusak hidup. Ketika hasil panen tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi dibagikan kepada para janda, yatim piatu, dan mereka yang berkekurangan. Inilah makna syukur panen yang kita rayakan hari ini. Bukan hanya syukur karena jagung, padi, ubi, atau kelapa bertumbuh baik, tetapi syukur karena Tuhan terus memelihara persaudaraan kita.
Hari ini Tuhan juga bertanya kepada kita masing-masing: “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Jawaban atas pertanyaan itu bukan pertama-tama doa di bibir, tetapi kehidupan persaudaraan yang nyata. Kalau masih ada pertengkaran karena tanah, kalau keluarga tidak saling bicara, kalau orang miskin dibiarkan lapar sementara yang lain hidup berkelimpahan, maka kita masih berhenti pada kata-kata dan belum sampai pada kasih Kristus.
Sesudah pertanyaan kepada Petrus, Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Artinya, kasih kepada Tuhan harus menjadi pelayanan kepada sesama. Tidak ada cinta kepada Kristus tanpa cinta kepada komunitas. Karena itu kekuatan kita sebagai umat bukan hanya karena warisan leluhur dan adat istiadat, tetapi juga karena iman kita yang satu kepada Kristus. Tidak ada Ekaristi tanpa solidaritas. Tidak ada syukur panen tanpa berbagi hasil panen.

Misa Inkulturasi Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)

Saudara-saudari terkasih, dalam budaya kita, tanah bukan sekadar tempat bercocok tanam. Tanah adalah rahim kehidupan. Tempat leluhur berjalan, tempat anak cucu bertumbuh. Dan ini sejalan dengan ajaran Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’, bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat dan dijaga. Karena itu kita dipanggil untuk menjaga tanah, menjaga alam, dan menjaga keseimbangan hidup. Jangan sampai keserakahan merusak bumi yang diwariskan Tuhan kepada kita. Ketika persaudaraan rusak, sesungguhnya kesuburan hidup bersama juga ikut rusak.
Hari ini Kristus yang bangkit datang bukan untuk menghakimi kelemahan kita, tetapi untuk memulihkan kita seperti Petrus. Tuhan tidak menuntut kita sempurna terlebih dahulu. Tuhan hanya meminta hati yang jujur, hati yang mau bertobat, dan hati yang mau berjalan bersama-Nya. Maka marilah kita membawa seluruh hasil panen, seluruh kerja keras, seluruh suka duka keluarga kita ke altar Tuhan. Semoga dari perayaan ini lahir kasih yang lebih besar: kasih yang menyembuhkan luka, kasih yang memperkuat persaudaraan, kasih yang menjaga martabat manusia, dan kasih yang menjadikan kampung-kampung kita sungguh menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah. Semoga semangat Keba Bai Pito Nara Ledu Lema menuntun kita bertumbuh dari philein menuju agape, dari persaudaraan manusiawi menuju kasih Kristus yang sempurna. Tuhan memberkati. Amin.***

You may also like