LEBAO TENGAH, Komsos Larantuka – Minggu, 24 Mei 2026, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro memimpin Perayaan Hari Raya Pentakosta yang dipadukan dengan Misa Inkulturasi di Paroki San Juan Lebao Tengah. Perayaan ini menjadi gambaran nyata wajah Gereja yang hidup: beragam dalam budaya, namun dipersatukan oleh satu iman dan satu Roh.
Umat yang hadir berasal dari berbagai latar budaya dan daerah. Selain komunitas Lamaholot sebagai tuan rumah, hadir pula umat dari Manggarai, Bajawa, Nagekeo, Ende, Maumere, Timor, dan berbagai daerah lainnya. Dalam nuansa liturgi inkulturatif yang menampilkan kekayaan budaya lokal, seluruh umat bersama-sama merayakan karya Roh Kudus yang menyatukan perbedaan menjadi satu persekutuan.

Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi Paroki San Juan Lebao Tengah (24/05/2026)
Dalam homilinya, Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak umat untuk memaknai Pentakosta bukan sekadar sebagai peringatan lima puluh hari sesudah Paskah, tetapi sebagai pertanyaan iman yang sangat mendasar: apakah selama masa Paskah umat sungguh mengalami kebangkitan Kristus dalam hidup mereka. Menurut beliau, Pentakosta bukan pertama-tama soal perhitungan waktu liturgis, melainkan pengalaman batin ketika hati disentuh oleh Kristus yang bangkit dan dihidupkan oleh Roh Kudus.
Mengacu pada Injil Yohanes, uskup menjelaskan bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus justru digambarkan terjadi pada malam hari Paskah itu sendiri. Para murid berada dalam ruang tertutup, diliputi rasa takut dan kecemasan. Namun Yesus yang bangkit hadir menembus segala batas dan memberikan hadiah pertama kepada para murid, yaitu damai sejahtera.
“Damai sejahtera bagi kamu,” demikian sapaan Yesus yang diulang dua kali.
Menurut uskup, inilah hadiah terbesar Paskah: damai yang berasal dari Kristus sendiri. Karena itu, ukuran utama kehidupan iman bukanlah kemeriahan perayaan atau penampilan lahiriah, melainkan apakah hati sungguh mengalami damai. Namun damai itu hanya dapat hadir ketika hati terbuka. Sebagaimana para murid yang semula menutup pintu karena ketakutan, manusia pun sering menutup hati karena luka, kekecewaan, iri hati, dendam, atau kecemasan. Roh Kudus hadir bukan dengan paksaan, tetapi masuk ke dalam hati yang bersedia membuka diri.
Uskup kemudian menegaskan bahwa Roh Kudus sesungguhnya telah diterima setiap orang sejak menerima Sakramen Baptis. Sakramen Krisma bukan pemberian Roh yang baru, melainkan peneguhan agar umat semakin matang dalam iman dan berani menjadi saksi Kristus. Beliau mengutip pesan Santo Paulus bahwa seluruh umat dibaptis dalam satu Roh dan diberi minum dari Roh yang sama. Karena itu, identitas terdalam orang beriman bukan pertama-tama berasal dari daerah, bahasa, atau suku tertentu, melainkan sebagai murid Kristus yang hidup dari Roh yang sama.
Perayaan Pentakosta di Paroki San Juan Lebao Tengah menjadi gambaran konkret dari pesan tersebut. Perbedaan budaya, pakaian adat, bahasa, dan tradisi tidak menjadi alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekayaan yang dipersatukan oleh Roh Kudus.
Uskup juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan menggereja terdapat berbagai karunia dan pelayanan. Ada kelompok doa, Legio Maria, kaum bapak, mama-mama, Orang Muda Katolik, dan beragam bentuk keterlibatan lain. Semua karunia itu diberikan bukan untuk menunjukkan siapa yang paling penting, tetapi untuk membangun satu tubuh Kristus. Puncak persatuan itu, menurut beliau, tampak dalam Ekaristi. Saat umat menyambut komuni dan menerima Tubuh Kristus, semua dipersatukan menjadi satu tubuh yang hidup dari sumber yang sama.

Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi Paroki San Juan Lebao Tengah (24/05/2026)
Pada bagian akhir homilinya, uskup menyoroti pentingnya pengampunan sebagai buah nyata Roh Kudus. Mengampuni memang tidak mudah karena manusia sering menyimpan luka dan mengingat kesalahan terlalu lama. Namun tanpa pengampunan, hati tetap terikat pada rasa sakit dan tidak mengalami damai Kristus. Karena itu, Sakramen Tobat dipahami bukan sekadar urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga pemulihan seluruh tubuh Gereja. Ketika satu anggota terluka oleh dosa, seluruh tubuh ikut merasakan. Sebaliknya, ketika pengampunan hadir, damai Kristus kembali hidup di tengah umat.
Menutup homilinya, Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak seluruh umat agar menjadikan Pentakosta sebagai momentum pembaruan hidup: menjadi pribadi yang lebih dahulu mengampuni daripada menunggu diampuni, lebih dahulu membawa damai daripada memperpanjang luka, dan lebih dahulu membangun persatuan daripada mempertahankan perbedaan.
Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi di Paroki San Juan Lebao akhirnya menjadi kesaksian bahwa Gereja hidup bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena Roh Kristus yang tinggal dan bekerja di dalam hidup dan kehidupan umat-Nya. (@sly)
