Saturday, June 13, 2026
Banner

RD. SIRILUS LELA WUTUN: Kekayaan Bebagai Budaya Tetap Hidup, Terpelihara di Paroki San Juan Lebao Tengah

by Komsos Keuskupan Larantuka

LEBAO TENGAH, Komsos Larantuka – Perayaan Misa Inkulturasi pada Hari Raya Pentakosta (Minggu, 24/05/2026) di Paroki San Juan Lebao Tengah menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan umat dari berbagai suku dan budaya. Pastor Paroki San Juan Lebao Tengah, RD. Sirilus Lela Wutun (Romo Silu Wutun), mengatakan bahwa pelaksanaan misa inkulturasi tersebut telah dirancang sejak awal bersama Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) bersama seluruh seksi DPP.

Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi Paroki San Juan Lebao Tengah (24/05/2026)

Menurut Romo Silu Wutun, pemilihan Hari Raya Pentakosta sebagai waktu pelaksanaan misa inkulturasi bukan tanpa alasan. Pentakosta dipandang sebagai peristiwa Gereja yang menunjukkan persatuan dalam keberagaman melalui karya Roh Kudus.
“Sejak awal kami memang memprogramkan agar perayaan ini dilaksanakan pada Hari Raya Pentakosta. Pertimbangannya sangat jelas, karena Pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus yang mempersatukan segala suku dan bangsa. Orang berbicara dengan bahasanya sendiri, tetapi tetap dapat saling memahami,” ungkapnya.
Ia menilai makna Pentakosta sangat sesuai dengan kehidupan umat di Paroki San Juan yang terdiri dari berbagai etnis dan latar budaya. Umat yang datang dari berbagai daerah tetap membawa identitas budaya masing-masing, namun hidup dalam satu persekutuan iman yang sama.
Romo Silu menjelaskan bahwa keberagaman budaya di Paroki San Juan sudah lama menjadi perhatian pastoral. Dalam berbagai kesempatan, terutama saat perayaan Natal dan Tahun Baru bersama kelompok-kelompok etnis, dirinya melihat secara langsung bagaimana umat tetap mempertahankan tradisi dan budaya yang diwariskan leluhur mereka.
“Kekayaan budaya itu tidak hilang ketika mereka berada di San Juan, tetapi justru tetap hidup dan ditampilkan dalam berbagai acara bersama,” katanya.
Pengalaman tersebut mendorong pihak paroki untuk menjadikan budaya sebagai bagian dari liturgi Gereja. Setelah beberapa tahun menyusun program pastoral, paroki mulai merancang Misa Inkulturasi sebagai salah satu bentuk nyata penghargaan terhadap kekayaan budaya umat.

Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi Paroki San Juan Lebao Tengah (24/05/2026)

Persiapan misa dilakukan secara serius oleh Seksi Liturgi dan Seksi Musik Liturgi bersama seluruh kelompok etnis. Mereka membentuk dan mematangkan persiapan kelompok-kelompok etnis, mengadakan latihan rutin, serta menyusun doa-doa liturgi dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa daerah masing-masing.
Menurut Romo Silu, seluruh umat terlibat aktif dalam proses persiapan tersebut. Mereka rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran demi menyukseskan perayaan Misa Inkulturasi di Paroki San Juan Lebao Tengah.
“Semua mempersiapkan diri dengan luar biasa melalui latihan-latihan yang intensif. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kecintaan umat terhadap Gereja,” ujarnya.
Perayaan misa inkulturasi pertama dipimpin langsung oleh Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dalam perayaan itu, berbagai kelompok etnis menampilkan unsur budaya masing-masing secara harmonis dalam liturgi Gereja, mulai dari bahasa, nyanyian, hingga simbol-simbol budaya.

Perayaan Pentakosta dan Misa Inkulturasi Paroki San Juan Lebao Tengah (24/05/2026)

Romo Silu mengaku bersyukur karena seluruh rangkaian perayaan berjalan dengan baik dan mendapat tanggapan positif dari umat. Antusiasme umat juga terlihat dalam misa kedua, dan ia optimistis misa-misa berikutnya akan berlangsung lebih baik lagi.
“Hasilnya terlihat dalam perayaan misa pertama yang dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Larantuka. Semua kelompok tampil dengan sangat baik dan luar biasa,” tuturnya.
Ia berharap tradisi Misa Inkulturasi dapat terus dilaksanakan di Paroki San Juan Lebao Tengah. Menurutnya, perayaan seperti ini menjadi ruang untuk mempersatukan seluruh umat dalam semangat iman sekaligus menjaga kekayaan budaya yang dimiliki masing-masing kelompok etnis.
“Seluruh kekayaan budaya dan etnis yang ada harus menjadi kekayaan bersama paroki dan dimanfaatkan untuk mengembangkan iman serta persaudaraan umat,” katanya.
Melalui semangat Pentakosta, Paroki San Juan Lebao Tengah ingin menunjukkan bahwa keberagaman budaya bukanlah penghalang, melainkan anugerah yang memperkaya kehidupan Gereja dan memperkuat persatuan umat beriman. (Paul Goran)

You may also like