RIANGKEMIE, Komsos Larantuka – Tidak semua inspirasi pastoral lahir dari ruang rapat, dokumen, atau program kerja. Ada kalanya sebuah perjalanan iman dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: tulisan yang terpampang diam di dinding gereja, tetapi menyimpan daya untuk menggugah pikiran dan menggerakkan hati. Demikianlah pengalaman yang dibagikan Pastor Paroki St. Yosef Riangkemie, RD. Andreas Fernandez (Romo Andy), ketika membingkai arah karya pastoral bersama umat dalam semangat KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA. Hal ini disampaikan Romo Andi pada perayaan misa inkulturasi Paroki Riangkemie di Stasi Wailolong (22/05/2026).

Misa Inkulturasi Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)
Bagi Romo Andy, ungkapan tersebut bukan sekadar identitas komunitas adat atau warisan budaya yang dipertahankan karena kebiasaan. Lebih dari itu, ia memandangnya sebagai penggalan sabda yang menguatkan dan roh yang menghidupkan perjalanan Gereja lokal. Di dinding gereja tertulis beberapa syair kalimat adat yang telah lama menjadi bagian dari identitas iman umat:
KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA (komunitas masyarakat adat)
TODI BAAT ALLAH TETI KELEN TUKAN (menyembah Allah di tempat tinggi)
TODI RIBIT BAPA TETI KOWA LOLON (memuliakan Tuhan di atas langit)
ALLAH NARAN POTON PANA (Nama Allah sangat luhur)
BAPA MAKEN SOGAN GAWE (Nama Tuhan patut dijunjung)
Syair ini telah lama hadir sebagai bagian dari kehidupan Gereja di Riangkemie. Namun, menurut Romo Andy, memahami maknanya bukanlah proses yang terjadi secara instan. Ia mengakui bahwa pada awal penugasan, dirinya justru merasa terganggu dengan keberadaan tulisan tersebut. Setiap kali memandangnya, muncul pertanyaan dan dorongan untuk mencari makna yang lebih dalam. Tulisan itu tidak sekadar dilihat, tetapi seperti berbicara dan menuntut pemaknaan.
“Awalnya saya terganggu dengan tulisan ini di dinding gereja. Saya tidak mengerti, apalagi memaknai dan mendalaminya. Tetapi pikiran dan perasaan terus digerakkan,” demikian refleksi yang dibagikan Romo Andy.
Kegelisahan itu kemudian berkembang menjadi permenungan. Dari sana muncul kesadaran bahwa tulisan tersebut bukan sekadar ornamen atau simbol budaya, melainkan sebuah arah spiritual yang pernah diwariskan dan kini perlu dihidupi kembali.
Spirit itu berakar pada karya pastoral yang pernah dibangun oleh Pater Yohanes Yan Kroll, SVD ketika menggembalakan umat di Paroki St. Yosef Riangkemie. Pada masa pelayanannya, Pater Yan Kroll berusaha mempertemukan nilai-nilai luhur masyarakat adat dengan kehidupan iman Kristiani. Melalui pendekatan itu, budaya tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan demi menjadi pengikut Kristus. Sebaliknya, budaya menjadi tanah tempat Injil berakar dan bertumbuh. Nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam masyarakat dibaca kembali dalam terang Sabda Allah.
Warisan pemikiran inilah yang kemudian dihidupkan kembali oleh Romo Andy bersama Dewan Pastoral Paroki (DPP). Dalam proses pastoral yang dijalankan, semangat KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA tidak berhenti pada slogan atau tema tahunan. Semangat ini diterjemahkan menjadi gerakan bersama yang menyentuh kehidupan umat secara nyata.
Berbagai ritus, simbol budaya, serta kegiatan pastoral mulai dirancang dan dilaksanakan dalam bingkai inkulturasi. Umat diajak untuk mengalami bahwa identitas budaya dan identitas iman bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling memperkaya.
Puncak dari seluruh proses itu diwujudkan dalam Perayaan Ekaristi Inkulturatif.
Dalam perayaan tersebut, berbagai unsur budaya lokal dihadirkan sebagai ungkapan iman umat. Gerak, simbol, bahasa, dan ekspresi budaya ditempatkan sebagai sarana untuk membawa umat semakin dekat kepada misteri Kristus.

Misa Inkulturasi Paroki St. Yosef Riangkemie (22/05/2026)
Namun seluruh dinamika itu tetap diarahkan pada pusat kehidupan Gereja: altar Tuhan. Romo Andy menegaskan bahwa seluruh ritus dan kegiatan yang dilakukan mencapai puncaknya dalam perayaan kurban Tubuh dan Darah Kristus. Di altar, seluruh pengalaman hidup, identitas budaya, dan persaudaraan umat dipersatukan dalam persembahan kepada Allah. Perjalanan pastoral itu memperoleh penguatan melalui kehadiran Bapa Uskup dalam perayaan bersama umat. Kehadiran gembala Keuskupan menjadi tanda bahwa semangat yang dibangun di Riangkemie berjalan searah dengan semangat Gereja yang menghargai budaya dan menghidupi iman secara kontekstual. Momen tersebut sekaligus mengukuhkan persaudaraan KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA sebagai persekutuan yang dibangun bukan hanya atas dasar kesamaan asal-usul, tetapi terutama karena kesatuan dalam Kristus.
Kini, tulisan yang dahulu hanya terpajang di dinding gereja telah menemukan maknanya dalam kehidupan umat. Ia berubah menjadi semangat yang menggerakkan karya pastoral, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan keyakinan bahwa Sabda Allah selalu dapat berakar dalam budaya dan menghidupkan komunitas. Bagi Paroki St. Yosef Riangkemie, KEBA BAI PITO NARA LEDU LEMA bukan lagi sekadar tulisan yang dibaca, tetapi jalan bersama untuk menyembah Allah, memuliakan nama-Nya, dan menghadirkan Injil dalam denyut kehidupan umat setiap hari. (@sly)
