MERDEKA DI BAWAH KEDAULATAN ALLAH: Menjadi Warga Negara yang Kritis, Berani, dan Aktif

Kepatuhan kita kepada negara adalah kepatuhan yang kritis. Kita menolak menjadi robot-robot yang hanya bisa mengangguk setuju pada kesewenangwenangan. Justru melalui tindakan kita yang konsisten melakukan kebaikan, bersikap jujur, dan memperjuangkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari, kita sedang merawat ruang publik agar tidak sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

Homili Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada HUT RI ke-81

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini, dengan penuh rasa syukur, kita berkumpul sebagai sebuah bangsa untuk merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Delapan puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah bangsa untuk tegak berdiri. Kita mengingat darah, air mata, dan pekik “Merdeka!” dari para pahlawan yang memimpikan sebuah tanah air di mana setiap orang bisa hidup dengan kepala tegak, bebas dari rasa takut, dan memiliki hak yang sama untuk menentukan masa depan bangsanya.

Namun, di tengah kibaran bendera Merah Putih hari ini, jujur harus kita akui ada rasa sunyi dan kecemasan yang menggelayut di hati kita. Kita sedang merayakan kemerdekaan dalam sebuah atmosfer bangsa yang terasa berbeda. Di ruang-ruang publik kita, warna militeristik kian hari kian menguat. Ketertiban dan stabilitas sering kali dipaksakan melalui kendali yang ketat, kontrol yang masif, dan pengawasan yang membuat warga merasa tidak nyaman. Akibatnya, kita melihat sebuah fenomena yang menyedihkan: partisipasi warga di ruang publik kian menyusut. Masyarakat memilih untuk diam, menjadi apatis, dan menarik diri. Muncul rasa takut untuk bersuara, takut untuk mengkritik, bahkan takut untuk sekadar berdiskusi secara terbuka. Ruang demokrasi yang dahulu kita perjuangkan dengan susah payah, kini terasa kian menyempit.

Di tengah situasi yang menguji kewarasan dan keberanian kita inilah, Firman Tuhan menyapa kita melalui tiga kesaksian iman yang sangat luar biasa. Alkitab tidak pernah menutup mata terhadap realitas politik. Melalui Kitab Yesus Sirakh, Surat 1 Petrus, dan Injil Matius, kita diajak untuk melihat kembali: bagaimana seandainya iman Kristen berhadapan dengan kekuasaan yang cenderung kaku dan ruang publik yang membungkam rakyatnya?

Saudara-saudari terkasih, Mari kita bercermin terlebih dahulu pada Kitab Yesus Sirakh. Ribuan tahun lalu, Ben Sira sudah mengingatkan umat bahwa watak seorang pemimpin akan membentuk watak sebuah bangsa. Ketika sebuah pemerintahan dijalankan dengan keangkuhan, kelaliman, dan mengandalkan kekuatan mutlak untuk menekan, Alkitab mencatat dengan tajam di ayat 8: “Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain karena kelaliman, keangkuhan, dan uang. “Pesan ini menjadi alarm profetis yang sangat keras bagi setiap penguasa yang cenderung militeristik. Gaya kepemimpinan yang mengandalkan rasa takut dan pemaksaan kehendak mungkin bisa menciptakan ketertiban semu, tetapi ia sedang menanam benih kehancuran negaranya sendiri.

Alkitab mengingatkan kita bahwa kekuasaan politik di dunia ini sifatnya relatif dan tidak abadi. Di atas kuasa para penguasa, ada kedaulatan Allah yang mengawasi. Pemerintah yang bijak seharusnya mendidik rakyatnya menjadi warga yang dewasa dan mandiri, bukan malah mengecilkan nyali rakyatnya agar terus-menerus tunduk tanpa boleh bertanya. Lalu, bagaimana kita sebagai warga gereja harus bersikap jika berada di bawah sistem yang kaku seperti itu? Apakah kita harus memberontak dengan kekerasan, atau sebaliknya, kita menyerah kalah dan ikut menjadi diam?

Rasul Petrus memberikan jawaban yang sangat menarik. Petrus menulis surat ini kepada jemaat Kristen mula-mula yang hidup sebagai minoritas di bawah Kekaisaran Romawi. Kita tahu, Kekaisaran Romawi adalah salah satu mesin militer paling kejam dalam sejarah dunia. Kaisar Nero memimpin dengan tangan besi. Namun, apa kata Petrus? “tunduklah demi Tuhan kepada semua lembaga manusia.” Kalimat Petrus ini sebenarnya sangat radikal. Dengan menyebut kaisar dan pejabat negara sebagai “lembaga manusia”, Petrus sedang menelanjangi dan mendesakralisasi kekuasaan Romawi. Kaisar bukanlah dewa, dia hanya manusia biasa yang menjalankan institusi manusia. Petrus meminta umat untuk tetap menjadi warga negara yang tertib hukum: membayar pajak, menjaga kedamaian, bukan karena takut pada pedang sang kaisar, melainkan “demi Tuhan”.

Kepatuhan kita sebagai orang Kristen didasarkan pada kemerdekaan iman kita, bukan karena kita diteror oleh rasa takut. Oleh karena itu, Petrus menegaskan: “Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi jangan gunakan kemerdekaan itu sebagai penutup kejahatan.” Artinya, di tengah ruang publik yang minim partisipasi, di tengah ketakutan yang membuat orang lain memilih diam, orang Kristen tidak boleh ikut-ikutan menjadi pasif atau mati rasa. Kepatuhan kita kepada negara adalah kepatuhan yang kritis. Kita menolak menjadi robot-robot yang hanya bisa mengangguk setuju pada kesewenangwenangan. Justru melalui tindakan kita yang konsisten melakukan kebaikan, bersikap jujur, dan memperjuangkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari, kita sedang merawat ruang publik agar tidak sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan.

Prinsip pembatasan kekuasaan ini dipertegas secara luar biasa oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Injil hari ini. Ketika sekelompok politisi Farisi dan Herodian mencoba menjebak-Nya dengan pertanyaan sensitif tentang wajib pajak kepada Kaisar Romawi, Yesus meminta mereka menunjukkan mata uang denar. Yesus bertanya, “Gambar dan tulisan siapa ini?” Mereka menjawab, “Gambar Kaisar.” Lalu meluncurlah kalimat Yesus yang sangat legendaris itu: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”

Mari kita renungkan kalimat ini lebih dalam. Koin denar itu terbuat dari logam, di atasnya tertera wajah Kaisar Tiberius, maka Yesus mengatakan: kembalikan logam itu kepada pemiliknya. Negara punya hak untuk mengatur urusan administratif, ekonomi, infrastruktur, dan keamanan. Kita berikan apa yang menjadi hak negara. Tetapi, Yesus melanjutkan: “dan berikan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jika koin denar itu milik kaisar karena memiliki gambar kaisar, lalu apa yang memiliki gambar Allah? Jawabannya adalah kita: manusia! Kejadian 1:27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut Gambar Allah (Imago Dei).

Pesan Yesus ini melontarkan sebuah batas yang tegas dan tidak boleh dilanggar oleh negara mana pun: Kaisar atau pemerintah boleh memiliki mata uang kita, mereka boleh mengatur batas wilayah kita, tetapi mereka tidak pernah dan tidak akan pernah memiliki jiwa kita, nurani kita, kemanusiaan kita, dan kebebasan kita! Ketika sebuah pemerintahan yang militeristik mencoba mengontrol pikiran warganya, membungkam kritik yang jujur, dan merampas hak rakyat untuk berpartisipasi, mereka sedang bertindak melampaui batasnya. Mereka sedang mencoba merampas apa yang secara sah hanya milik Allah semata.

Di usia Republik Indonesia yang ke-81, kita semua dipanggil untuk bangun dari tidur panjang ketakutan dan apatisme. Minimnya ruang partisipasi sipil saat ini jangan membuat kita mundur dan bersembunyi di dalam tembok-tembok gereja. Ruang publik bangsa ini bukan hanya milik mereka yang memegang senjata atau mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Ruang publik ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang diciptakan mulia sebagai Gambar Allah. Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini adalah anugerah Allah, bukan hadiah dari pemerintah. Indonesia didirikan sebagai negara hukum yang demokratis, bukan negara kekuasaan yang represif. Tugas kita sebagai gereja di tengah situasi ini adalah menjadi suara yang menjaga kewarasan bangsa. Kita dipanggil untuk menampilkan keberanian sipil (civil courage) yang beradab.

Mari kita mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Jangan diam ketika melihat ketidakadilan di lingkungan RT/RW kita. Jangan tutup mata ketika hak-hak orang miskin dan lemah di sekitar kita diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan. Tetaplah menyuarakan kebenaran melalui profesi dan hidup kita masing-masing dengan cara yang bermartabat, cerdas, namun tetap tajam dan tidak bisa dibeli. Mari kita bawa pulang komitmen iman ini ke dalam rumah dan kehidupan kita: Kita akan tetap menghormati pemerintah, kita akan tetap menjaga ketertiban bangsa ini, tetapi seluruh hidup kita, nurani kita, dan suara kita, hanya akan kita tundukkan di bawah satu kedaulatan, yaitu Kedaulatan Allah. Di bawah naungan-Nya, kita adalah manusia-manusia yang merdeka. Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Tuhan memberkati bangsa kita. Amin.*

You may also like