MUNTILAN, Komsos Larantuka – Di tengah arus perubahan dunia digital yang semakin cepat, Gereja Katolik Indonesia terus berupaya memperkuat pelayanan komunikasinya agar tetap relevan, kritis, dan mampu menghadirkan wajah Injil dalam ruang publik. Semangat inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Training of Trainers (ToT) Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berlangsung pada 24–28 Agustus 2026 di Muntilan, Jawa Tengah.
Kegiatan yang mempertemukan para pegiat Komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia ini menjadi ruang pembinaan, refleksi, dan penguatan kapasitas untuk menjawab tantangan komunikasi Gereja di era digital, khususnya menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk melihat kembali hakikat Komsos sebagai bagian penting dari perutusan Gereja. Komsos tidak hanya dipahami sebagai bidang publikasi, dokumentasi, atau pengelolaan media sosial, tetapi sebagai pelayanan pastoral yang menghadirkan komunikasi yang berakar pada nilai Injil, kebenaran, kasih, dan perjumpaan manusiawi.
Kegiatan ToT Komsos KWI 2026 bertujuan memperkuat kapasitas para pelayan komunikasi Gereja, menyatukan visi profetis Komsos, serta merumuskan strategi komunikasi yang mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai Kristiani.
Membuka Kembali Jati Diri Komsos sebagai Perutusan Gereja
Rangkaian kegiatan diawali pada 24 Agustus 2026 dengan Perayaan Ekaristi pembukaan dan materi tentang “Hakikat dan Jatidiri Komsos” berdasarkan dokumen Gereja Inter Mirifica dan Communio et Progressio.
Materi ini disampaikan oleh Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, Ketua Komisi Komsos KWI/Uskup Surabaya.
Dalam pembahasannya ditegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar aktivitas manusia, tetapi berakar pada hakikat Allah sendiri yang berkomunikasi dengan manusia. Puncak komunikasi Allah dengan manusia hadir melalui peristiwa Inkarnasi, ketika Sabda menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.
Kristus menjadi model utama komunikasi yang sempurna karena seluruh hidup-Nya menjadi pewartaan kasih Allah. Melalui kata-kata, tindakan, penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya, Kristus menghadirkan pesan keselamatan bagi umat manusia.
Dalam konteks ini, Komsos Gereja dipanggil bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan komunikasi yang membangun persekutuan (communio), memperjuangkan kebenaran, dan menjadi suara kenabian di tengah masyarakat.
Komsos sebagai Ruang Imajinasi Profetis Gereja
Pada 25 Agustus 2026, peserta mengikuti materi “Imajinasi Profetis: Komsos sebagai Ruang Mimpi Gereja” yang dibawakan oleh Rm. Dr. Fransiskus Wawan Setyadi, SJ.
Dalam sesi ini, peserta diajak memperluas pemahaman tentang peran Komsos di tengah dunia digital. Komsos tidak boleh berhenti pada produksi konten, tetapi harus menjadi ruang refleksi yang membantu Gereja membaca tanda-tanda zaman.
Imajinasi profetis memungkinkan Gereja melihat realitas dengan cara baru. Melalui kreativitas komunikasi, Gereja dipanggil menghadirkan narasi yang membawa harapan, menyuarakan kelompok yang terpinggirkan, serta menjembatani berbagai bentuk keterpisahan dalam masyarakat.
Komunikasi Gereja harus mampu bergerak dari sekadar hubungan “aku dan kamu” menuju sebuah persekutuan “kita”. Di sinilah Komsos memainkan peran penting sebagai penghubung umat yang tersebar dan sebagai sarana membangun solidaritas.
Menghadapi Tantangan AI dengan Kebijaksanaan Manusia
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan menjadi salah satu tema utama dalam pelaksanaan ToT Komsos KWI 2026.
Pada 26 Agustus 2026, peserta mendapatkan materi “Teknologi, Perjumpaan, dan Kebijaksanaan AI” yang disampaikan oleh Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, Ph.D.
Dalam materi ini dijelaskan bahwa AI membawa berbagai peluang besar bagi dunia komunikasi. Teknologi ini mampu membantu manusia mengolah data, menghasilkan informasi, serta mempercepat berbagai proses kerja.
Namun demikian, AI tetap memiliki keterbatasan karena tidak memiliki kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan mengambil keputusan moral sebagaimana manusia.
Karena itu, teknologi harus tetap ditempatkan sebagai sarana pelayanan. Manusia tetap menjadi pusat komunikasi karena komunikasi sejati tidak hanya berbicara tentang kecepatan informasi, tetapi juga tentang empati, kehadiran, dan relasi.
Pada sesi berikutnya, Prof. Richardus Eko Indrajit membawakan materi “Membangun Karya Komunikasi yang Berdampak Luas dan Mendunia.”
Ia menegaskan bahwa kekuatan komunikasi Gereja tidak terletak hanya pada popularitas, jumlah tayangan, atau viralitas, tetapi pada keaslian kisah dan kedalaman nilai kemanusiaan.
Prinsip yang ditekankan adalah:
“Yang paling mendunia adalah yang paling manusiawi.”
Sementara itu, Rm. Dominicus Donny Widiarso, Pr. melalui materi “Kritis dan Etis di Era AI: Merawat Lingkungan Komunikasi” mengajak peserta membangun budaya komunikasi yang bertanggung jawab.
Peserta diajak untuk selalu melakukan verifikasi informasi, membangun kebiasaan cek dan ricek, serta melakukan pertimbangan etis sebelum menggunakan teknologi digital maupun AI dalam karya komunikasi.
Belajar dari Realitas: Komsos Harus Berakar pada Kehidupan
Selain mendapatkan pembekalan teori, peserta juga mengikuti kegiatan lapangan pada 27 Agustus 2026.
Peserta melakukan kunjungan kontekstual ke Sumur Kitiran Mas Paroki Santa Maria Assumpta Pakem di lereng Gunung Merapi serta kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para pegiat Komsos untuk melihat langsung realitas masyarakat, dinamika kehidupan umat, serta berbagai pengalaman sosial yang dapat menjadi sumber inspirasi komunikasi pastoral.
Melalui kegiatan lapangan ini, peserta diajak menyadari bahwa karya komunikasi Gereja harus berangkat dari kehidupan nyata. Narasi yang dihasilkan bukan sekadar informasi, tetapi kisah manusia yang menghadirkan harapan dan makna.
Menyusun Masa Depan Komsos Gereja Indonesia
Pada 28 Agustus 2026, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan perumusan komitmen bersama dan penyusunan roadmap pengembangan Komsos Katolik Indonesia.
Para peserta berkomitmen membawa semangat pembaruan ke masing-masing keuskupan agar pelayanan komunikasi Gereja semakin berkembang, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan teknologi.
Melalui ToT ini, Komsos KWI menegaskan bahwa masa depan komunikasi Gereja bukan hanya tentang kemampuan menguasai teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi digunakan untuk melayani manusia dan mewartakan kasih Allah.
Komsos Dipanggil Menjadi Jembatan Injil di Dunia Digital
Training of Trainers (ToT) Komsos KWI 2026 menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik Indonesia untuk memperbarui semangat pelayanan komunikasi.
Kegiatan ini membekali para peserta dengan pemahaman teologis yang kuat, wawasan komunikasi modern, kepekaan pastoral, serta kesadaran etis dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan AI.
Pada akhirnya, Komsos bukan hanya berurusan dengan menyampaikan pesan, tetapi juga menegaskan kehadiran Gereja yang mendengarkan, menyapa, menemani, dan membawa harapan.
Dengan semangat kolaborasi, para pelayan komunikasi Gereja dipanggil menjadi jembatan yang menghubungkan Injil dengan dunia, menghadirkan komunikasi yang profetis, humanis, dan penuh kasih. (@sly)