KICKOFF PROGRAM HARVEST 2.0: Caritas Dorong Pertanian Selaras Alam dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

SAROTARI, Komsos Larantuka – Kegiatan Kickoff Program Harvest 2.0 yang diselenggarakan oleh Caritas Indonesia (CARINA) bersama PSE/Caritas Keuskupan Larantuka (CARILA) berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2026 di Rusun Patris Corde Sarotari serta desa binaan Bugaliman dan Danibao, khususnya Dusun Riangduli di wilayah Adonara. Program ini menjadi langkah strategis Gereja dalam mendorong pertanian yang selaras dengan alam sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi umat.
Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, didampingi Ketua PSE Caritas Larantuka, RD. Fransiskus Wio Hurint. Perayaan ini dihadiri oleh anggota PSE/CARILA, dua perwakilan Caritas Indonesia yakni Ozagma Lorenzo Simorangkir dan Indra Bakti Situmorang, serta komunitas binaan dari Desa Bugaliman dan Desa Danibao (Dusun Riangduli). Kehadiran para suster Fransiskan yang bertugas sebagai koor turut menambah kekhidmatan suasana liturgi.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa setiap program dan perjumpaan umat beriman harus berakar pada perjalanan bersama Yesus Kristus. Ia mengingatkan bahwa Yesus adalah jalan, meskipun dalam kenyataan hidup manusia sering diliputi keraguan. Karena itu, iman harus menjadi dasar dalam setiap karya pelayanan. Ia juga menekankan bahwa pewartaan Injil tidak berubah dalam kebenarannya, namun cara penyampaiannya harus terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan konteks para pendengar. “Tidak ada yang sia-sia di hadapan Yesus. Yang menjadi sia-sia adalah ketika orang meragukan kehadiran-Nya,” ungkapnya.
Dalam konteks Program Harvest 2.0, umat diajak untuk melihat dan mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat binaan sebagai bagian dari perjalanan iman mengikuti Kristus. Tema Program Pastoral Keuskupan Larantuka tahun 2026, yakni Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman, dinilai sejalan dengan arah program ini. Harvest 2.0 menjadi wujud konkret keterlibatan Gereja dalam meningkatkan kesejahteraan umat melalui pendekatan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Misa Pembukaan Kickoff Program Harvest 2.0 (2026)

Dalam sambutannya, RD. Fransiskus Wio Hurint menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan perwakilan dari Caritas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Harvest 2.0 secara sederhana berarti pertanian yang selaras dengan perkembangan zaman. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi komunitas binaan, khususnya dalam meningkatkan kemandirian ekonomi.
Ia menambahkan bahwa secara konkret program ini akan memberikan pendampingan dan pembinaan di bidang pertanian dan peternakan yang selaras dengan alam, tanpa penggunaan bahan kimia. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil produksi dan kesejahteraan masyarakat. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini, dengan harapan kerja sama tersebut terus berlanjut demi keberhasilan program.
Sementara itu, Ozagma Lorenzo Simorangkir menjelaskan bahwa Harvest 2.0 merupakan seri lanjutan yang dilaksanakan bersama beberapa keuskupan lain seperti Labuan Bajo dan Kupang. Program ini melanjutkan inisiatif sebelumnya yang telah berjalan di Ruteng, Ende, dan Maumere dengan fokus pada pengembangan ekologi integral.
Ia menguraikan bahwa fokus utama program ini meliputi tata kelola yang transparan dan berkelanjutan, penguatan ekologi integral, semangat sinodalitas, misioner, serta sikap profetis. Pengembangan ekologi integral ditempatkan sebagai pusat pembelajaran umat, pusat pemberdayaan ekonomi yang mendorong kemandirian, serta pusat penguatan solidaritas sosial.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Harvest merupakan sebuah akronim yang mencerminkan semangat panen, tidak hanya dalam arti hasil pertanian, tetapi juga panen nilai, iman, dan harapan bagi kehidupan umat. Tujuan utama program ini mencakup adaptasi terhadap perubahan iklim, peningkatan kapasitas masyarakat lokal, serta penguatan kemitraan melalui jaringan dan advokasi.
Dalam sambutannya, Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan terima kasih kepada Caritas Indonesia yang terus memberi perhatian kepada Keuskupan Larantuka dan melihat potensi yang dimiliki umat. Ia mengangkat kearifan lokal Lamaholot yang memandang bumi sebagai ibu yang melahirkan, menyusui, dan membesarkan manusia. Sejalan dengan semangat Laudato Si’, ia mengingatkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.
Ia juga menegaskan bahwa banyak tindakan manusia yang merusak lingkungan, sehingga menjadi tugas bersama untuk menjaga dan merawat bumi agar tetap memberikan kehidupan. Uskup berharap program ini menghasilkan “panen” sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada “ibu bumi”. Ia juga mengaitkan semangat Paskah dengan rasa syukur atas panen kehidupan.
Mengakhiri sambutannya, ia menegaskan moto episkopalnya, “Satu tubuh, satu roh, dan satu harapan”, yang tidak hanya bermakna teologis tetapi juga sosial budaya. Ia mendorong kerja sama lintas pihak, termasuk dengan pemerintah, demi kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
Melalui Kickoff Program Harvest 2.0, Caritas kembali menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah umat dengan pelayanan yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial-ekonomi. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju kemandirian umat yang berakar pada iman serta kepedulian terhadap kelestarian ciptaan. (@sly)

You may also like