LAUT CERMIN KEJUJURAN MANUSIA: Misa Leva Tumbuhkan Semangat Solidaritas dan Spiritualitas

LAMALERA, Komsos Larantuka – Umat Katolik di Lamalera, Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka menggelar Misa Leva pada Jumat, 1 Mei 2026, sebagai penanda pembukaan musim berburu ikan paus. Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Pastor Paroki Lamalera, RD. Arnoldus Guna Koten (Romo Noldy), dan dihadiri oleh umat Stasi Lamalera yang dikenal sebagai komunitas nelayan tradisional.
Misa Leva bukan sekadar ritual pembuka musim tangkap, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat. Dalam wawancara bersama tim Komsos Keuskupan Larantuka, Romo Noldy menegaskan bahwa tradisi ini merupakan ungkapan iman yang hidup. “Misa Leva adalah manifestasi syukur, kurban, dan bakti masyarakat kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama tradisi ini terletak pada nilai solidaritas dan kebersamaan yang terus dijaga. Dalam terang Injil, Yesus dipahami sebagai jalan, kebenaran, dan hidup, yang menginspirasi masyarakat Lamalera untuk membangun kehidupan yang berakar pada doa, kasih, dan pengorbanan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menghadapi kerasnya kehidupan di laut yang penuh risiko.
Menurut Romo Noldy, keberhasilan para nelayan di laut tidak hanya ditentukan oleh keterampilan, tetapi juga oleh integritas hidup di darat. Ia mengingatkan bahwa setiap tindakan yang tidak jujur atau tidak benar akan membawa konsekuensi. “Apa yang terjadi di laut sering kali menjadi cerminan dari kehidupan kita di darat,” katanya.

Misa Leva – Lamalera, 01 Mei 2026

Pandangan ini sejalan dengan keyakinan masyarakat Lamalera yang memaknai laut sebagai “cermin kejujuran manusia”. Berbagai peristiwa di laut, baik kondisi alam, keselamatan di atas perahu tradisional (peledang), maupun hasil tangkapan, dipahami sebagai refleksi dari sikap hidup dan moralitas komunitas. Karena itu, kejujuran, kesatuan, dan tanggung jawab bersama menjadi prinsip yang dijunjung tinggi sebelum melaut.
Selain aspek spiritual, kehidupan masyarakat Lamalera juga ditopang oleh struktur adat yang kuat. Peran para pemangku adat, seperti Tuan Tanah Langowujo dan Tuan Tanah Tufaona, sangat penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual komunitas. Mereka menjadi penjaga nilai-nilai tradisi sekaligus penopang harmoni kehidupan bersama.

Misa Leva – Lamalera, 01 Mei 2026

Struktur sosial Lamalera dikenal dengan konsep “tiga tungku”, yang berakar dari sejarah leluhur. Tiga tungku ini merujuk pada tiga kelompok awal, yakni Tanahkrova, Lewohajo, dan Lamanudek. Dalam perkembangan selanjutnya, pembagian peran dalam masyarakat semakin dipertegas dengan kehadiran suku-suku. Suku Blikololong berperan dalam pengaturan kehidupan kampung, Suku Bataona bertanggung jawab atas aktivitas di laut, sementara Suku Lewotukan mengambil bagian dalam tata kelola pemerintahan. Pembagian ini tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga mengandung makna historis dan ikatan emosional yang kuat.
Jaringan kekerabatan masyarakat Lamalera juga meluas ke berbagai wilayah. Nama-nama suku seperti Dasion, Resiona, dan Tanahkrova mencerminkan keterhubungan dengan komunitas lain. Suku Tanahkrova, misalnya, memiliki hubungan historis dengan keluarga Monteiro di Larantuka, yang menunjukkan bahwa masyarakat Lamalera merupakan bagian dari mozaik budaya yang lebih luas di Flores Timur.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, harmoni antara tiga pilar utama yakni Gereja, adat, dan pemerintah, menjadi kunci keberlangsungan hidup masyarakat. Kondisi geografis Lamalera yang kering dan berbatu membuat masyarakat sangat bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Dalam keterbatasan tersebut, laut diyakini sebagai wujud penyelenggaraan Ilahi (Deus Providens) yang senantiasa memelihara kehidupan mereka.
Keteguhan iman masyarakat Lamalera juga tercermin dalam banyaknya panggilan hidup religius yang lahir dari wilayah ini. Meski hidup dalam kondisi alam yang keras, Lamalera justru menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya panggilan menjadi imam, biarawan, dan biarawati.

Gambar Ilustrasi Misa Leva di Lamalera

Kehadiran berbagai pihak, termasuk perwakilan pemerintah dan Dinas Pariwisata, dalam perayaan Misa Leva menunjukkan bahwa tradisi ini tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Lebih dari sekadar warisan budaya, Misa Leva menjadi kekuatan spiritual yang mempersatukan masyarakat serta meneguhkan harapan mereka dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan iman, adat, dan alam. (Paul Goran)

You may also like