MEMBUMIKAN ‘LAUDATO SI’: Mari Menjaga ‘Rumah Bersama’

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIWADAN, Komsos Larantuka – Di tengah kepungan krisis iklim global yang dampaknya semakin nyata dirasakan saat ini, sebuah langkah konkret diambil oleh Gereja Katolik melalui PSE/Caritas Keuskupan Larantuka, bekerja sama dengan Caritas Indonesia (CARINA) menyelenggarakan Lokakarya Laudato Si’ dalam bingkai Program HARVEST 2.0. Kegiatan yang berpusat di Aula Paroki Sta. Maria Goreti Waiwadan pada Jumat, 15 Mei 2026 ini tidak hanya menjadi ajang diskusi intelektual, melainkan sebuah ruang refleksi bersama sekaligus gerakan nyata untuk membangun kesadaran ekologis di tengah ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan persoalan sosial yang semakin dirasakan masyarakat luas. Lokakarya ini mengusung agenda besar yang mempertemukan berbagai disiplin dan kepentingan, mulai dari pemahaman mendalam mengenai perubahan iklim, implementasi Ensiklik Laudato Si’, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga keterkaitannya dengan isu krusial mengenai masalah migran. Lebih dari 60 orang peserta hadir dalam aula, menciptakan mosaik kolaborasi yang melibatkan unsur Gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, aparat keamanan, hingga tenaga teknis lapangan dan kelompok masyarakat dampingan langsung dari Program HARVEST 2.0.

Lokakarya Laudato Si: Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Lokakarya Laudato Si: Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Program HARVEST sendiri merupakan akronim dari Holistic, Agriculture, Resilience, Vision, Empowerment, Sustainability and Transformation in East Nusa Tenggara (NTT), yang merupakan inisiatif strategis hasil kerja sama antara CARINA dan PSE/Caritas Keuskupan Larantuka. Program ini secara khusus diimplementasikan di wilayah kritis seperti Desa Bugalima dan Desa Danibao, khususnya Dusun Riangduli, guna menjawab tantangan zaman melalui pendekatan pembangunan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Sejak pagi hari, para peserta telah memenuhi lokasi kegiatan untuk mengikuti proses registrasi yang dilanjutkan dengan doa bersama serta safety briefing demi menjamin kelancaran seluruh rangkaian acara.
Dalam sambutannya, Pastor Rekan Paroki Waiwadan, RD. Rosarius Yansen Raring, menyampaikan pesan kuat mengenai kondisi bumi saat ini yang sedang mengalami tiga krisis hebat, yaitu krisis pangan, krisis air, dan krisis energi yang semuanya dipicu oleh faktor perubahan iklim. Beliau menegaskan bahwa kehadiran seluruh elemen dalam lokakarya ini merupakan bentuk respon aktif terhadap situasi tersebut, yang diselaraskan dengan tiga isi amanat perpisahan Yesus mengenai perintah saling mengasihi, warisan damai sejahtera, dan pertolongan Roh Kudus. RD. Yansen juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada CARINA dan Caritas Larantuka yang telah menginisiasi dan terlibat aktif dalam menganimasi kegiatan yang sangat krusial bagi masa depan lingkungan ini.

Lokakarya Laudato Si - Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Lokakarya Laudato Si – Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Dukungan formal dari pihak pemerintah disampaikan oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kecamatan Adonara Barat, Yohanes Kopong Mamun yang hadir mewakili Camat Adonara Barat memberikan apresiasi tinggi kepada penyelenggara dan menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak lagi bisa dipandang sebagai isu sampingan, karena kerusakan alam saat ini telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama kelompok kecil dan rentan yang sangat bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beliau berharap agar lokakarya ini mampu memicu aksi nyata dalam memelihara lingkungan hidup yang dimulai dari hal-hal kecil di lingkungan masing-masing, sebelum akhirnya secara resmi membuka kegiatan lokakarya ini.
Kegiatan ini secara filosofis terinspirasi dari Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada tahun 2015, yang mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang sedang mengalami luka akibat eksploitasi manusia. Paus menegaskan bahwa segala hal saling terhubung, sehingga krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis sosial, ekonomi, dan kemanusiaan, sebuah situasi yang juga dirasakan secara nyata di wilayah Keuskupan Larantuka termasuk di Paroki Waiwadan dan sekitarnya. Realitas lapangan menunjukkan bahwa praktik penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan herbisida secara berlebihan masih tinggi, ditambah lagi dengan persoalan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah yang belum maksimal, serta kerusakan hutan dan pencemaran sumber air yang membutuhkan perhatian kolektif.

Lokakarya Laudato Si – Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Melalui lokakarya ini, peserta diajak untuk melihat persoalan lingkungan bukan hanya dari sudut pandang teknis, tetapi juga sebagai panggilan iman dan tanggung jawab moral yang menuntut lahirnya pertobatan ekologis. Pada sesi pertama, RD. Bernadus Belawa Wara selaku Ketua Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka membawakan materi dengan tema Eko-Pedagogi menuju Eko-Pastoral yang mengajak peserta memahami pentingnya ekologi integral. Beliau mengingatkan bahwa manusia, alam, dan Tuhan memiliki relasi yang tidak terpisahkan, sehingga merusak alam berarti merusak kehidupan manusia itu sendiri. Krisis ekologis ini menuntut keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga hingga pemerintah, apalagi kerusakan lingkungan turut mempengaruhi meningkatnya migrasi masyarakat akibat menurunnya daya dukung lingkungan dan tekanan ekonomi di desa.

Lokakarya Laudato Si – Paroki Waiwadan, 15 Mei 2026

Sesi berikutnya dipandu oleh RD. Rosarius Yansen Raring yang berfokus pada aplikasi praktis dan rencana tindak lanjut, di mana peserta dilibatkan aktif dalam brainstorming aksi nyata dan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kerja. Berbagai usulan konkret muncul dari diskusi tersebut, mulai dari pengurangan penggunaan bahan kimia pertanian, pengolahan sampah rumah tangga, penanaman pohon, hingga perlindungan sumber mata air dan pembatasan plastik sekali pakai. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan dalam pleno bersama untuk dirumuskan menjadi rencana tindak lanjut komunitas yang diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta. PSE Caritas Keuskupan Larantuka berharap agar kesadaran ekologis ini terus tumbuh dan melahirkan gerakan nyata, membuktikan bahwa melalui Program HARVEST 2.0, Gereja berkomitmen menghadirkan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, ketahanan komunitas, dan martabat manusia demi menjaga rumah bersama. (@sly)

You may also like