WAIWADAN, Komsos Larantuka – Tim Caritas PSE Keuskupan Larantuka bersama Caritas Indonesia (Carina) menggelar tatap muka dengan kelompok binaan di Bugaliman dan Riangduli, Paroki Maria Goreti Waiwadan, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya pelaksanaan Program Harvest 2.0 di tingkat kelompok binaan, setelah sebelumnya dibuka secara resmi oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro di Rusun Patris Corde Sarotari Larantuka pada Jumat (1/5/2026).
Pertemuan yang berlangsung di dua lokasi ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat binaan. Kepala Desa Bugaliman, Yohanes Rikardus Baka Tukan, bersama Kepala Desa Danibao, Fransiskus Kopong Tolan yang mewakili Komunitas binaan Dusun Riangduli menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim Caritas PSE dan perwakilan Carina dari Jakarta. Mereka berharap program ini mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani di wilayah ini.

Tim PSE / Caritas Keuskupan Larantuka dan Carina bersama Komunitas Binaan di Dusun Riangduli
Perwakilan Carina, Ozagma Lorenzo Simorangkir, pada kesempatan ini menjelaskan bahwa Program Harvest 2.0 merupakan program berbasis kasih dari Keuskupan Larantuka yang mengajak umat untuk semakin peduli terhadap alam lingkungan. Ia menekankan pentingnya menjaga bumi sebagai “ibu” yang memberi kehidupan, sekaligus mengembangkan potensi lokal yang ada.
Menurutnya, program ini bukan hanya tentang peningkatan hasil pertanian, tetapi juga proses belajar bersama. “Harvest berarti panen. Harapannya, apa yang dipelajari di sini dapat dibagikan kepada petani lain, bahkan menjadi gerakan bersama di paroki-paroki lain,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa sebetulnya ada banyak potensi di daerah yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup masyarakat.
Pastor Rekan Paroki Waiwadan, RD. Rosarius Yansen Raring (Romo Yansen), menegaskan bahwa Harvest 2.0 adalah sebuah program jangka panjang yang berorientasi pada pengembangan manusia, bukan sekadar proyek sesaat. “Program tidak pernah selesai, karena menyangkut pertumbuhan manusia. Karena itu, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus terus dipelihara,” ungkapnya.
Romo Yansen juga mengajak umat untuk kembali pada pola hidup leluhur, khususnya dalam bidang pertanian yang terintegrasi dengan peternakan. Dengan demikian, keseimbangan alam tetap terjaga dan hasil yang diperoleh lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua PSE Keuskupan Larantuka, RD. Fransiskus Wio Hurint (Romo Pey), sebelum membuka kegiatan secara simbolis, mengajak umat untuk terlibat aktif dalam program ini. Ia menekankan perlunya meninggalkan penggunaan pestisida kimia dan beralih pada metode pertanian alami yang lebih ramah lingkungan.
“Kita akan belajar mengolah tanah secara alami, membuat pupuk organik, serta mengembangkan pola beternak yang mendukung pertanian. Program ini tidak hanya berbicara soal hasil, tetapi juga tentang nilai kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Tim PSE / Caritas Keuskupan Larantuka dan Carina bersama Komunitas Binaan di Desa Bugaliman
Mengakhiri sapaannya, Romo Pey menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya program ini. Ia berharap Harvest 2.0 dapat memberi dampak nyata dan menjadi berkat bagi banyak orang di Paroki Waiwadan dan sekitarnya. (@sly)


