BERDIRI SEJAK 1940: Uskup Ajak Umat Paroki Lerek Mencintai dan Menjaga Alam Lingkungan

by Komsos Keuskupan Larantuka

LEREK, Komsos Larantuka – Kunjungan kanonis Yang Mulia Mgr. Yohanes Hans Montero ke Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek pada Sabtu, 13 Juni 2026, menjadi momentum penting bagi umat untuk meneguhkan persekutuan dengan gembala utama Keuskupan Larantuka sekaligus memperlihatkan wajah Gereja yang terus bertumbuh di tengah berbagai keterbatasan.
Dalam laporan yang disampaikan Pastor Paroki, RD. Kristoforus Kristo Soge (Romo Ito),  tergambar secara jelas dinamika kehidupan iman umat, sejarah panjang perjalanan paroki, sistem pelayanan pastoral, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam karya pewartaan Injil di wilayah tersebut.
Mengawali laporannya, Romo Ito menyampaikan rasa syukur dan sukacita atas kehadiran Uskup Larantuka yang untuk pertama kalinya mengunjungi Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek sejak ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Larantuka.
“Pada kesempatan yang istimewa ini, sekali lagi kami mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia Bapa Uskup Larantuka dalam kunjungan kanonik di Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek,” ungkap Romo Ito.
Ia menjelaskan bahwa kunjungan kanonis merupakan kunjungan resmi seorang uskup kepada umat yang dipercayakan kepadanya untuk memelihara iman dan disiplin hidup menggereja, memperbaiki berbagai kekurangan dalam pelayanan pastoral, serta memberikan arahan agar seluruh umat berjalan bersama dalam visi dan misi Keuskupan Larantuka.

Gereja Paroki Hati Amat Kudus Lerek

Berakar Sejak Tahun 1940
Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Gereja di wilayah Lembata. Lerek resmi menjadi paroki sendiri pada tahun 1940 dengan wilayah pelayanan yang membentang dari Lamanuna di sebelah selatan hingga Karangora di sebelah utara.
Seiring perkembangan pastoral, wilayah Karangora kemudian bergabung dengan Paroki Kalikasa. Pada masa awal berdirinya, Paroki Lerek terdiri atas sembilan stasi, yakni Lerek, Atawolo, Waiwejak, Watuwawer, Tobilolong, Lewokurang, Lamanuna, Atalojo, dan Paulolong, serta enam lingkungan yang dilayani setara stasi, yaitu Waiteba, Lewogeroma, Dulir, Bauraja, Lewokoba, dan Baulolong.
Bencana alam yang terjadi pada tahun 2001 membawa perubahan besar. Stasi Atobilolong dan Lingkungan Baulolong berpindah ke Loang Peniken sehingga Paroki Lerek kehilangan satu stasi dan satu lingkungan.
Perkembangan berikutnya ditandai dengan peningkatan status beberapa lingkungan menjadi stasi. Lingkungan Dulir menjadi stasi pada 1 Januari 2007 melalui pelayanan Romo Amatus K. Witak dan Romo Pius Laba Buri. Selanjutnya, Lewogeroma dikukuhkan menjadi stasi pada 30 November 2012, sedangkan Bauraja dan Lewokoba masing-masing menjadi stasi pada 15 September dan 30 Desember 2013.
Saat ini, Paroki Lerek terdiri atas 12 stasi, yakni Lamanuna, Dulir, Lerek, Watuwawer, Lewogeroma, Lewokoba, Atawolo, Lewokurang, Waiwejak, Bauraja, Atalojo, dan Paulolo. Selain itu, terdapat dua basis yang memperoleh pelayanan serupa karena faktor jarak, yakni Basis Waiteba yang merupakan bagian dari Stasi Lewokoba dan Basis Motong yang berada dalam wilayah Stasi Lerek.

Medan Pelayanan yang Menantang
Salah satu tantangan utama pelayanan di Paroki Lerek adalah kondisi geografis dan infrastruktur jalan. Meskipun jarak dari pusat paroki menuju stasi terjauh hanya sekitar 19 kilometer, kondisi jalan yang sulit membuat perjalanan pastoral menjadi tidak mudah.
“Walaupun hanya 12 stasi, tetapi jarak tempuh dari pusat paroki ke stasi terjauh kurang lebih 19 kilometer, dengan kondisi jalan yang sungguh menguji mental dan adrenalin,” tutur Romo Ito.
Tantangan tersebut menjadi bagian dari keseharian pelayanan. Kesetiaan umat untuk tetap bertahan dalam iman serta dedikasi para pelayan pastoral untuk menjangkau seluruh stasi menunjukkan bahwa kehidupan Gereja di Lerek dibangun melalui pengorbanan dan semangat pantang menyerah.

Dilayani Satu Imam dan Dibantu Para Suster
Saat ini, pelayanan di Paroki Lerek dilaksanakan oleh RD. Kristoforus Kristo Soge. Sebelumnya, paroki ini dilayani oleh dua imam. Namun, RD. Fransiskus Xaverius Hewen mendapat tugas baru dari Uskup Larantuka sebagai Pastor Paroki Lamalera.
“Berarti mulai bulan Mei, pastor yang melayani paroki ini tinggal satu,” demikian disampaikan dalam laporan tersebut.
Sejak Juli 2025, karya pastoral di Paroki Lerek juga diperkuat oleh kehadiran tiga suster dari Kongregasi RVM yang sementara berkarya di Stasi Lerek. Kehadiran mereka membantu pastor, Dewan Paroki, dan umat dalam mengembangkan kehidupan iman.

Tata Kelola Pastoral yang Terencana
Dalam menjalankan pelayanan pastoral, Pastor Paroki bersama Dewan Pastoral secara rutin mengadakan pleno tahunan setiap awal tahun untuk menyusun program kerja.
Sebanyak 16 bidang pelayanan menjadi perhatian, mulai dari bidang umum hingga Seksi Perdamaian, Keadilan, dan Keutuhan Ciptaan (PKKC), dengan tetap mengacu pada Annual Program Planning Keuskupan Larantuka.
Evaluasi pelaksanaan program dilakukan setiap tiga bulan melalui rapat evaluasi triwulanan untuk melihat capaian dan merumuskan langkah-langkah selanjutnya.
“Rapat evaluasi terjadi empat kali dalam setahun dan berjalan baik hingga hari ini,” jelas Romo Ito.
Transparansi dan Kehidupan Sakramental
Di bidang administrasi keuangan, Paroki Lerek menerapkan prinsip keterbukaan. Laporan keuangan paroki disampaikan setiap bulan melalui Ketua Dewan Stasi dan diumumkan kepada umat.
Sementara itu, kehidupan sakramental juga berjalan dengan baik. Pada saat kunjungan kanonis berlangsung, paroki sedang mempersiapkan penerimaan Sakramen Krisma yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya dengan jumlah peserta sebanyak 129 orang.

KBG Menjadi Fokus Pelayanan
Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek menjadikan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai lokus dan fokus pelayanan pastoral. Segala bentuk pelayanan umat di tingkat basis dilaksanakan dengan melibatkan pengurus KBG sehingga komunikasi antara KBG, Dewan Stasi, dan Pastor Paroki dapat terjalin dengan baik.
Berbagai organisasi gerejani juga berkembang secara aktif, antara lain Santa Anna, Konfreria, Kerahiman Ilahi, Legio Maria, SEKAR/REMIS, SEKAMI, Orang Muda Katolik (OMK), serta kelompok Gerakan Mendoakan Panggilan (GM).

Menghidupi Iman dalam Budaya
Keberagaman budaya masyarakat Lerek turut mewarnai kehidupan menggereja. Umat tetap memelihara nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur dengan semangat persaudaraan, kekeluargaan, dan persatuan.
Tradisi makan jagung, misalnya, selalu diawali dengan Perayaan Ekaristi. Berbagai suku juga diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam tanggungan liturgi hari Minggu sebagai bentuk penghargaan terhadap kekayaan budaya lokal.

RD. Kristo Soge – Pastor Paroki Lerek

Harapan Umat dan Seruan Menjaga Keutuhan Ciptaan
Menutup laporannya, Pastor Kristo memohon arahan dari Uskup Larantuka terkait berbagai program pastoral sesuai arah dasar keuskupan. Secara khusus, ia menyampaikan kegelisahan umat terkait rencana pembangunan geotermal di wilayah Paroki Lerek.
“Untuk diketahui, sebagian besar umat Paroki Lerek menolak rencana geotermal tersebut,” ungkapnya.
Menanggapi situasi tersebut, Mgr. Yohanes Hans Montero dalam berbagai kesempatan perjumpaan dan tatap muka dengan umat mengajak seluruh umat untuk tetap mencintai dan menjaga alam lingkungan sebagai anugerah Tuhan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Uskup menegaskan bahwa alam yang hijau dan indah bukan hanya milik generasi saat ini, melainkan juga hak anak cucu di masa depan.
“Alam lingkungan yang indah dan hijau perlu kita jaga, bukan hanya untuk kita hari ini, tetapi juga untuk anak cucu kita. Mereka juga berhak menikmati alam lingkungan yang hijau dan indah seperti yang kita alami hari ini. Jika salah menentukan sikap, kita bisa kehilangan segalanya,” pesan Uskup.
Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab merawat ciptaan merupakan bagian dari panggilan iman. Kunjungan kanonis ini pun tidak hanya menjadi agenda administratif Gereja, tetapi kesempatan bagi Uskup untuk mendengarkan suara umat, melihat secara langsung denyut kehidupan mereka, serta meneguhkan harapan di tengah berbagai tantangan.
Di Paroki Lerek, kesetiaan umat ternyata tidak lahir dari kemudahan. Jalan yang rusak, keterbatasan tenaga pastoral, serta berbagai persoalan sosial yang dihadapi justru menjadi ruang tempat iman dipupuk dan diperdalam. Di sanalah Gereja hadir: berjalan bersama umat, mendengarkan kegelisahan mereka, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan terus menyalakan api pengharapan dalam kehidupan sehari-hari.  (RD. Ito Soge)

You may also like