PATRIS CORDE, Komsos Larantuka – Aula Pertemuan Rumah Unio Patris Corde Keuskupan Larantuka berubah menjadi lautan biru yang menyejukkan pada Sabtu (20/6/2026). Sekitar 250 anggota Legio Maria dari berbagai presidium yang tergabung dalam Komisium Reinha Rosari Larantuka berkumpul untuk mengikuti Pertemuan Tahunan Kedua. Kehadiran mereka tidak hanya menunjukkan kekuatan organisasi, tetapi juga menjadi tanda kesetiaan para legioner dalam menjalankan panggilan kerasulan bersama Bunda Maria.
Sejak pagi hari, suasana sukacita dan persaudaraan telah terasa di lingkungan rumah retret tersebut. Para peserta yang mengenakan pakaian bernuansa biru tampak memenuhi aula pertemuan. Warna biru yang identik dengan Bunda Maria menjadi simbol perlindungan, kesetiaan, dan pengharapan yang menyatukan seluruh peserta dalam satu semangat pelayanan.

Pertemuan Tahunan LEGIO MARIA Komisium Reinha Rosari Larantuka
Kemeriahan pertemuan semakin terasa ketika para legioner bersama-sama mengumandangkan slogan khas Legio Maria, “Ave Maria, Maria Ave, Sekali Legio tetap Legio sampai Nuan Tutu Musim Labo.” Slogan yang lahir dari konteks budaya lokal Flores Timur itu menjadi ungkapan komitmen para anggota untuk tetap setia dalam karya kerasulan sepanjang hidup mereka. Seruan tersebut menggema memenuhi aula dan membangkitkan semangat seluruh peserta yang hadir.
Pertemuan tahunan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka sekaligus Pemimpin Rohani Legio Maria, RD. Adeodatus Hendrikus Leni. Dalam homilinya, ia mengajak seluruh peserta untuk merenungkan sabda Tuhan tentang kecemasan dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Ilahi sebagaimana diwartakan dalam Injil Matius.
Menurut RD. Hendrik, kecemasan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak dapat dihindari. Banyak orang hidup dengan berbagai kekhawatiran mengenai masa depan, pekerjaan, kesehatan, maupun keluarga. Tidak sedikit pula anggota Legio Maria yang datang mengikuti pertemuan dengan meninggalkan berbagai tanggung jawab dan persoalan di rumah.
“Khawatir selalu menjadi sifat dasar manusiawi kita. Namun kekhawatiran yang berlarut dapat membuat kita putus asa, rapuh, dan kehilangan harapan,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengingatkan para legioner untuk tidak membiarkan kecemasan menguasai hidup mereka. Sebaliknya, mereka diajak untuk semakin mengandalkan Tuhan dan mengutamakan Kerajaan Allah dalam setiap langkah hidup. Dengan demikian, mereka dapat menjadi pribadi yang membawa harapan bagi sesama, terutama bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan.
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan agenda organisasi. Ketua Panitia, Agustina Niron, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan sekaligus pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Laporan tersebut diterima dengan baik oleh seluruh peserta sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab dalam pengelolaan organisasi.
Sementara itu, Ketua Komisium Reinha Rosari Larantuka, Elisabet Lipat Ola, mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga semangat persatuan dan kesetiaan dalam pelayanan. Menurutnya, tantangan karya kerasulan saat ini semakin kompleks sehingga diperlukan kerja sama, komitmen, dan semangat pengorbanan yang lebih besar.
Pembukaan resmi kegiatan ditandai dengan ketukan mikrofon sebanyak tiga kali oleh RD. Hendrik Leni. Tanda sederhana itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang memenuhi aula. Suasana penuh kegembiraan menunjukkan antusiasme para legioner mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan.
Selain agenda organisasi, para peserta juga memperoleh berbagai materi pembinaan rohani. RD. Hendrik Leni membuka sesi pertama dengan materi mengenai spiritualitas Legio Maria dalam pelayanan kasih. Pembekalan kemudian dilanjutkan oleh RD. Bernardus Belawa Wara, Sr. Ernesta PRR, dan RD. Fransiskus Kwaelaga yang membahas berbagai aspek kehidupan rohani dan kerasulan Legio Maria.

Pertemuan Tahunan LEGIO MARIA Komisium Reinha Rosari Larantuka
Pertemuan tahunan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi organisasi, tetapi juga momentum pembaruan semangat iman bagi seluruh anggota. Melalui doa, refleksi, dan pembekalan yang diterima, para legioner diharapkan semakin teguh dalam menjalankan misi Gereja di tengah keluarga, komunitas, dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan akan ditutup pada Minggu (21/6/2026) melalui Perayaan Ekaristi Perutusan yang dilanjutkan dengan sesi tatap muka bersama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dari pertemuan ini, para legioner akan kembali ke wilayah pelayanan masing-masing sebagai utusan Gereja yang membawa semangat pengharapan, menghadirkan kasih Bunda Maria, dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang terus membutuhkan terang Injil. (Fr. Alfons Boruk Khan)
