MENYERAHKAN HIDUP SEPENUHNYA KEPADA TUHAN: 10 Suster RCM Ikrarkan Kaul Kekal di Weri

by Komsos Keuskupan Larantuka

WERI, Komsos Larantuka – Ketika dunia menawarkan begitu banyak pilihan hidup, sepuluh perempuan ini justru memilih satu jalan yang sama: menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. Pilihan itu mereka teguhkan melalui pengikraran kaul kekal di Gereja Santa Maria Pembantu Abadi Weri, Sabtu (20/6/2026), dalam sebuah perayaan sukacita, haru, dan syukur.

Dalam suasana khidmat yang disaksikan umat beriman, keluarga dan sahabat kenalan, kesepuluh suster dari Kongregasi Religious Concepcionis Misionaris Pengajaran (RCM) mengucapkan janji setia seumur hidup melalui kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Pengikraran kaul kekal tersebut menjadi puncak perjalanan panjang pembinaan mereka dalam hidup bakti sekaligus tanda penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan pelayanan Gereja.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Turut hadir Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Sekretaris Uskup RD. Fransiskus Kwaelaga, Pastor Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri RD. Robertus Lagamanu, para imam konselebran, para religius, keluarga para suster, serta umat beriman yang memadati gereja.

Kesepuluh suster yang mengikrarkan kaul kekal adalah Sr. María Imakulata Dasinta Tuto Adu, Sr. Lusia Samia Beribe, Sr. Theresia Penate Lian, Sr. Herlina Mala Wolor, Sr. Bernadete Lingi Lebuan, Sr. Elisabet Bine Wolor, Sr. Maria Efrensiana Gute Laru, Sr. Marselina Ose Watu, Sr. Stefania Laju Koten, dan Sr. Yosefina Mariela Tota.

Bagi seorang religius, kaul kekal merupakan salah satu momen paling penting dalam perjalanan panggilan. Melalui kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan, para suster menyatakan komitmen untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat serta mengabdikan seluruh hidup mereka bagi pelayanan Gereja dan keselamatan sesama.

Jawaban atas Panggilan Tuhan

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa kaul kekal bukanlah penghargaan atas keberhasilan manusia ataupun hasil perjuangan pribadi semata. Kaul kekal adalah jawaban iman atas panggilan Tuhan yang telah bertumbuh dalam kehidupan para suster sejak awal.

“Kaul kekal yang diikrarkan hari ini bukanlah sebuah pencapaian atau hadiah atas usaha manusia semata. Kaul kekal adalah jawaban atas panggilan Tuhan yang diwujudkan dalam tiga nasihat Injili: ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan,” kata Uskup.

Mengacu pada bacaan Kitab Samuel tentang panggilan Samuel dan Injil tentang para murid yang dipanggil mengikuti Yesus, Uskup menjelaskan bahwa setiap panggilan selalu berawal dari inisiatif Allah. Tuhanlah yang memanggil, membimbing, dan menuntun seseorang hingga akhirnya mampu memberikan jawaban secara penuh.

Menurutnya, pengikraran kaul kekal bukanlah akhir dari perjalanan panggilan, melainkan awal dari komitmen yang lebih mendalam untuk hidup bersama Tuhan dan melayani sesama.

Hidup dalam Ketaatan, Kemurnian, dan Kemiskinan

Uskup kemudian menguraikan makna ketiga nasihat Injili yang menjadi dasar kehidupan membiara.

Tentang kaul ketaatan, ia menjelaskan bahwa seorang religius dipanggil untuk senantiasa mendengarkan suara Tuhan dalam perjalanan hidup sehari-hari. Suara Tuhan hadir tidak hanya dalam doa dan permenungan pribadi, tetapi juga melalui Gereja dan para pemimpin yang dipercayakan untuk membimbing umat dan anggota kongregasi.

Menurutnya, para pemimpin Gereja maupun kongregasi memang manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Namun seorang religius dipanggil untuk percaya bahwa Tuhan tetap berkarya melalui mereka.

“Ketaatan berarti mendengarkan suara Tuhan setiap hari. Ketika seseorang sungguh mendengarkan Tuhan, akan terjalin hubungan yang mendalam. Tuhan mengenal dirinya dan ia mengenal Tuhan. Dari hubungan itu panggilan terus bertumbuh dan menghasilkan kesaksian hidup yang membawa orang lain kepada Tuhan,” ungkapnya.

Mengenai kaul kemurnian, Uskup menegaskan bahwa seorang religius dipanggil untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai satu-satunya mempelai hidup. Hidup selibat yang dijalani para suster bukanlah penolakan terhadap cinta manusiawi, melainkan bentuk penyerahan diri yang utuh kepada Kristus.

“Kaul kemurnian berarti menjadikan Yesus sebagai satu-satunya mempelai hidup. Seorang religius dipanggil untuk mencintai Kristus di atas segala-galanya. Kesaksian hidup membiara menjadi tanda bahwa Yesus adalah pilihan utama dan sumber kebahagiaan sejati,” katanya.

Sementara itu, mengenai kaul kemiskinan, Uskup mengingatkan bahwa tantangan hidup religius pada zaman sekarang semakin kompleks. Kemajuan teknologi, media sosial, dan berbagai kemudahan hidup dapat menjadi godaan yang membuat seseorang terikat pada kenyamanan duniawi.

Karena itu, kaul kemiskinan bukan sekadar tidak memiliki harta benda, melainkan sikap batin yang bebas dari keterikatan sehingga hati tetap terarah kepada Tuhan dan pelayanan.

“Kaul kemiskinan menuntut kebebasan batin agar hati tetap tertuju kepada Tuhan. Seorang religius dipanggil untuk hidup sederhana dan tidak membiarkan dirinya diperbudak oleh berbagai bentuk kenyamanan dunia,” tegasnya.

Di akhir homili, Uskup mengajak para suster yang mengikrarkan kaul kekal untuk terus memelihara relasi yang intim dengan Tuhan agar panggilan yang telah diterima tetap bertumbuh dan menghasilkan buah dalam pelayanan.

Kaul Kekal Para Suster RCM – Weri, 20 Juni 2026

Syukur atas Rahmat Panggilan

Mewakili para suster yang mengikrarkan kaul kekal, Sr. Maria Efrensiana Gute Laru dan Sr. Yosefina Mariela Tota menyampaikan ungkapan syukur atas rahmat panggilan yang mereka alami hingga mencapai tahap kaul kekal.

Dengan penuh haru, mereka mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah menuntun perjalanan panggilan mereka sejak awal. Mereka juga menyampaikan penghargaan kepada Uskup Larantuka, para imam, para formator, serta seluruh anggota Kongregasi RCM yang telah mendampingi dan membentuk mereka selama masa pembinaan.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada keluarga yang setia mendukung, mendoakan, dan merelakan mereka untuk mengabdikan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

“Kami bersyukur atas semua rahmat yang kami alami. Terima kasih kepada Bapa Uskup dan para imam yang hadir menguatkan kami. Terima kasih kepada Kongregasi RCM yang menerima dan membentuk kami hingga hari ini. Terima kasih juga kepada keluarga yang setia mendukung dan mendoakan kami,” ungkap mereka.

Sukacita Kongregasi dan Keluarga

Sementara itu, Pemimpin Umum Kongregasi RCM, Sr. Maria Belen Gomez de Castro, bersama Sr. Yuliana Lese Geken menyampaikan rasa syukur atas pengikraran kaul kekal sepuluh anggota kongregasi tersebut.

Menurut mereka, hari itu merupakan momen yang sangat membahagiakan bagi seluruh keluarga besar Kongregasi RCM karena menyaksikan kesetiaan Tuhan yang terus bekerja dalam hidup para suster.

“Atas nama kongregasi, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan panggilan para suster. Terima kasih kepada keluarga yang dengan penuh iman merelakan putri-putrinya bergabung dan bertumbuh bersama kami,” ujar mereka.

Dalam sambutan mewakili keluarga, Hendrikus Lewar menyampaikan proficiat kepada kesepuluh suster yang mengikrarkan kaul kekal. Ia menyebut hari itu sebagai peristiwa istimewa yang membawa sukacita bagi keluarga dan Gereja.

“Atas nama keluarga, kami mengucapkan selamat dan proficiat kepada para suster. Hari ini kami menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat istimewa. Kami juga berterima kasih kepada pimpinan kongregasi yang telah menerima, mendampingi, dan membentuk anak-anak kami. Kepada kongregasi kami titipkan mereka. Jika selama proses ini ada kekurangan dari pihak keluarga, kami mohon dimaafkan,” katanya.

Kaul Kekal Para Suster RCM – Weri, 20 Juni 2026

Tanda Harapan bagi Gereja

Pada kesempatan yang sama, Uskup Yohanes Hans Monteiro menyampaikan ucapan selamat kepada para suster yang telah mengikrarkan kaul kekal. Ia menegaskan bahwa kehadiran Kongregasi RCM menjadi kekayaan tersendiri bagi Keuskupan Larantuka melalui karisma dan pelayanan yang dijalankan.

“Proficiat dan selamat kepada para suster yang hari ini mengikrarkan kaul kekal. Kalian memperkaya Keuskupan Larantuka dengan kekhasan dan karisma yang dimiliki. Terima kasih kepada Kongregasi RCM yang telah menjadi bagian dari perjalanan Gereja lokal ini,” ujarnya.

Uskup juga menyampaikan penghargaan kepada para orang tua yang dengan iman dan kemurahan hati merelakan anak-anak mereka menjawab panggilan Tuhan. Menurutnya, keluarga tetap menjadi tanah subur tempat benih panggilan tumbuh dan berkembang.

Perayaan pengikraran kaul kekal ini menjadi tanda syukur atas karya Tuhan yang terus menghadirkan pekerja-pekerja bagi Gereja. Di tengah berbagai tantangan zaman, kesediaan sepuluh suster RCM untuk menyerahkan hidup secara total kepada Kristus menjadi kesaksian nyata bahwa panggilan hidup bakti tetap hidup dan relevan sebagai tanda harapan bagi Gereja dan dunia.

Bagi umat yang hadir, perayaan itu bukan sekadar seremoni religius, melainkan sebuah kesaksian iman yang mengingatkan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, masih ada orang-orang yang dengan sukacita memilih menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Pilihan itulah yang pada hari istimewa ini dirayakan, disyukuri, dan dipersembahkan kembali kepada Sang Pemilik Panggilan. (@sly)

You may also like