Renungan RD. Yohanes Bulet Rean pada Perpas I 2026 Keuskupan Larantuka (15 April 2026)
I. PENGANTAR
Paus Fransiskus menghimbau para imam untuk berada di tengah umat. Mereka harus berada di tengah kawanan, di rumah-rumah umat bukan di pastoran. Dalam surat apostoliknya EVANGELI GAUDIUM (SUKACITA INJIL) Paus Fransiskus menegaskan : “saya lebih menyukai Gereja yang memar, yang terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri”.
Dalam terang pemikiran ini saya coba menawarkan sebuah renungan sederhana di bawah judul Pelayanan yang Menyembuhkan. Sejauh mana karya pelayanan kita sebagai imam menyentuh realitas kehidupan yang terluka. Sejauh mana pula umat yang kita layani tersentuh dan terlibat dalam usaha pemulihan, sehingga kehadiran kita menjadi tanda nyata kasih Kristus yang menyembuhkan.
II. MENIMBA INSPIRASI (Mrk 7:31-37)
Kisah Yesus menyembuhkan orang tuli dan gagap menginspirasi kita tentang karya pelayanan yang menyembuhkan dipandang dari aspek rohani, psikologis, sosial dan praksis pastoral.
a. Aspek Rohani
Kita menemukan aspek rohani dari pelayanan Yesus, yaitu saat dia mengucapkan kata Efata ”terbukalah”. Kata ini selalu kita ulang dalam ritus pembaptisan, saat kita menyentuh mulut dan telinga baptisan baru. Efata menjadi simbol keterbukaan hati dan telinga untuk mendengarkan suara Tuhan. Yesus menunjukkan bahwa pelayanan yang menyembuhkan mulai dengan memulihkan hati dan telinga. Sering kata-kata kita, entah sengaja atau tidak turut menjadi sebab orang tidak mendengarkan suara Tuhan.
Kotbah atau renungan atau bahan-bahan pembinaan tanpa persiapan yang memadai, dapat saja mencederai martabat dan harga diri para pendengar. Hal semacam itu akan turut menjadi sebab orang menjadi tuli dan gagap, terpinggirkan di tengah tugas pelayanan kita sebagai imam. Yesus mengajarkan, pelayanan yang menyembuhkan mulai dengan menghargai martabat dan harga diri orang yang kita layani.
b. Aspek Psikologis
“Orang tuli dan gagap” masuk dalam kategori orang yang terpinggkirkan, sepi dan terisolasi. Pelayanan Yesus benar-benar memulihkan harga diri dan identitasnya dengan hak untuk berbicara dan mendengarkan sesama. Yesus menyentuh telinga dan lidah. Ada rasa aman di dekat Yesus. Rasa aman itu menyembuhkan dan menghadirkan pengalaman dimana ia merasa benar-benar diterima dan dikasihi tanpa dihakimi.
Pelayanan yesus secara psikologis menyembuhkan mental dan emosi orang tuli dan gagap. Dalam tugas pelayanan kita sebagai imam, kita menghadirkan Kristus selaku penyembuh utama. Kita terinspirasi oleh kata-kata Rasul Paulus “bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20)”. Yesus membutuhkan kita, agar melalui kita imamNya ia memulihkan hidup orang yang kita layani.
c. Aspek Sosial
Karya pelayanan yang menyembuhkan tidak terpisahkan dari pelayanan yang menyentuh kehidupan sosial seseorang. Dalam budaya Yahudi, orang cacat masuk dalam kategori orang yang terpinggirkan. Pelayanan yang menyembuhkan berarti megembalikan orang itu kedalam komunitas yang sesungguhnya, dimana ia merasa diterima dan dihargai. Mukzijat penyembuhan orang tuli dan gagap menekankan inklusivitas yaitu seorang pelayan mesti menunjukkan sikap menerima, menghargai dan memberi kesempatan kepada orang lain tanpa diskriminasi. Pelayanan yang menyembuhkan adalah pelayanan yang menciptakan lingkungan yang ramah dan adil tanpa diskriminasi.
Dalam hal ini pelayanan menyembuhkan harus dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu dari rumah pastoran di paroki-paroki kita. Kita juga menemukan aspek universalisme dalam pelayanan Yesus. Sebuah pelayanan yang tidak hanya terbatas dalam lingkungan orang yahudi saja, tetapi juga masuk dalam wilyah dekapolis, daerah orang Noni-Yahudi. Dalam hal ini karya pelayanan Yesus tidak hanya terbatas pada satu bangsa atau satu kelompok saja, melainan untuk semua orang tanpa diskriminasi. Salah satu contoh pelayanan yang menyembuhkan yaitu hadir dalam syukuran Idul fitri tingkat paroki atau kecamatan. Kehadiran seorang imam dalam suasan Idul fitri memberi dukungan yang kuat dalam moderasi umat beragama di medan pelayanan.
d. Praksis Pastoral Pelayanan yang Menyembuhkan
Dalam mukjizat Yesus menyembuhkan orang tuli dan gagap kita menanamkan sisi praksis pastoral pelayanan yang menyembuhkan. Yesus membangun komunikasi yang terbuka dengan orang yang tuli dan gagap. Yesus mengingatkan para muridNya termasuk kita sebagai agen pastoral, agar dalam pelayanan, kita tidak tuli dan gagap terhadap suara orang lain terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan. Banyak orang normal, tapi mereka tuli terhadap Tuhan dan nilai-nilai moral.
Tugas pelayanan yang menyembuhkan, menuntut dari para pelayan integritas moral yang baik, agar tidak tuli terhadap nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral terkait erat, juga dengan usaha kita membangun solidaritas ekonomi sebagai ekspresi iman. Tata kelola ekonomi yang transparan, jujur dan terpercaya. Pelayanan yang menyembuhkan harus dimulai dengan mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam hidup pribadi, agar kita sungguh menghadirkan Yesus yang menyembuhkan di tengah tugas pelayanan kita.
III. NAPAK TILAS JALAN KAKI MENGHIDUPKAN HARAPAN YESUS
Orang sakit selalu menjadi perhatian utama dalam pelayanan pastoral kita. Betapa banyak orang sakit menunggu kedatangan sang gembala mereka. Ada orang sakit yang sama sekali tidak mendapat perhatian; bahkan mereka meninggal tanpa menerima pelayanan sakramen orang sakit. Yesus menunjukkan perhatian yang serius kepada orang sakit dalam karya pelayananNya. Ketika tiba di rumah Petrus Ia langsung mengarahkan perhatianNya kepada orang sakit. Ia memegang tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. (bdk. Mt 8:14-17).
Hal yang sangat penting dari setiap kunjugan pastoral yaitu sedapat boleh meluangkan sedikit waktu untuk berada bersama mereka. Perjumpaan dengan mereka yang sakit bukan hanya terjadi di rumah-rumah tetapi juga di jalan-jalan. Perjumpaan Yesus dengan Bartimeus yang buta (Mrk 10:46-52) cukup banyak memberi inspirasi:
a. Kepekaan mendengarkan dan merasakan
Pribadi Yesus bagaikan magnet dimana saja ia lewat, orang berbondong-bondong mengikutinya. Ia menarik semua orang datang kepadaNya. Ia mendengarkan dan merasakan jeritan hati mereka. Seruan Bartimeus yang buta mampu mengentikan langkahnya. Saat Ia berhenti, Yesus membuat kejutan: “panggilah dia “.
Kata-kata Yesus ini mampu mengubah hati orang yang tadinya menegur Bartimeus supaya diam. Solidaritas Yesus terhadap Bartimeus sekian mengubah hati mereka. Bukan lagi memarahi Bartimeus, tetapi malah menguatkan hatinya: “kuatkanlah hatimu Dia memanggil engkau”. Kita coba menghidupkan harapan Yesus dalam napak tilas berjalan kaki mengunjungi umat kita.
b. Berjalan kaki mengunjungi umat semestinya dapat kita hayati sebagai napak tilas atas perjalanan Yesus yang berjalan keliling sambil berbuat baik. Sejarah perjumpaan Yesus dengan orang-orang pada masa itu terus terulang pada zaman kita. Setiap perjumpaan mesti kita hayati dalam konteks perjumpaan Yesus dengan orang-orang sakit pada zamanNya.
Cara Yesus melayani juga harus menjadi model pelayanan kita. Mulai menggali apa yang menjadi kebutuhan mereka. “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Mrk 10:51). Pertanyaan Yesus mengungkapkan solidaritasnya yang luar biasa terhadap Bartimeus, pribadi yang rendah hati dan beriman. Dengan lugu ia mengungkapkan keinginanya yaitu supaya dia dapat melihat. Hampir pasti, setiap perjumpaan merupakan kesempatan untuk mengalami pencerahan secara timbal balik. Umat mendapat kesempatan istimewa untuk bertanya dan menyampaikan banyak hal kepada imam gembalanya.
IV. BELAJAR MELAYANI SEPERTI YESUS
(Luk 6:17-19) melayani adalah salah satu dari panca tugas Gereja. Gereja melayani seturut contoh pelayanan Yesus. Karya pelayanan Yesus mengalir dari kesatuan hatinya dengan Allah dan komunitas para murid. Dengan cara ini kehadiran Yesus menyembuhkan dan mengubah dunia; dalam arti Ia tidak melakukan apa-apa, hanya “semua orang” yang menyentuhNya disembuhkan.
Melayani tidak terjadi di sebuah ruang hampa. Pelayanan itu terjadi karena ada kesatuan hati dengan Allah dan dalam komunitas bersama orang lain. Pelayanan adalah limpahan dari kasih kita kepada Allah dan kepada sesama. Oleh karena itu, kehadiran Gereja yang melayani adalah kehadiran yang suci dan menyembuhkan. Pastoral kunjungan ke tengah umat merupakan pastoral kehadiran yang dapat kita ungkapkan dalam kata : “bela rasa dan yukur”. Bela rasa adalah inti imamat Yesus. Bela rasa berarti berada bersama dengan mereka yang menderita, yang sakit, yang berada di ambang kematian, yang terpinggirkan. Melayani seperti Kristus berarti berada bersama mereka dalam situasi mereka. Kita percaya saat kita masuk dalam wilayah hidup mereka yang rentan kita akan mengalami kegembiraan yang mendalam, karena limpahan kasih Allah yang tercurah dalam hati mereka.
V. BELAJAR DARI SANG-GURU (Yoh 13:1-15)
a. Kasih yang setia sampai akhir
“Yesus tahu bahwa saatNya telah tiba untuk meninggakan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Ia mengasihi murid-muridNya sampai kepada kesudahanNya. Yesus sadar bahwa penderitaan sudah dekat. Namun, ia memenuhi hatiNya bukan dengan ketakutan melainkan dengan kasih. Kasih itu tidak berhenti dengan kata-kata melainkan akan terwujud dalam tindakan konkrit.
Bagi kita para imam pelayanan bukan pertama-tama soal program atau struktur organsisasi, bukan juga soal jabatan pelayanan Gereja. Pelayanan seorang imam mesti lahir dari kasih kepada Kristus dan kepada umatNya. Tanpa kasih, pelayanan menjadi kering tetapi dengan kasih, pelayanan sekecil apapun akan menjadi tanda kehadiran Tuhan.
b. Realitas kelemahan dalam komunitas
“Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati dia”. Ini adalah kenyataan yang sangat manusiawi. Di tengah komunitas para murid pun ada kelemahan, ada kerapuhan bahkan pengkhianatan. Gereja juga umat kita tidak terdiri dari orang-orang yang sempurna tetapi Gereja terdiri dari orang-orang berdosa yang sedang belajar untuk setia.
Dalam karya pelayanan kita sebagai imampun demikian terkadang ada kesalahpahaman, ada perbedaan pendapat, dan ada kesulitan dalam melayani. Namun dalam situasi demikian, Yesus tetap hadir dan berkarya.
c. Identitas yang berakar pada Allah
“Yesus tahu, bahwa bapaNya telah menyerahkkan segala sesuatu kepadanya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Yesus tau siapa dirinya. Ia tidak merasa perlu mempertahankan kehormatanNya. Ia tidak takut merendahkan diri. Seringkali dalam pelayanan sebagai imam, kita sulit merendahkan diri karena merasa harga diri terancam.
Namun orang yang identitasnya kuat berakar dalam Tuhan tidak perlu merasa dirinya terancam. Sebagai imam kita dipanggil untuk menyadari bahwa pelayanan kita bukan berasal dari ambisi pribadi. Pelayanan kita adalah panggilan Tuhan denganNya kita dapat melayani umat dengan hati yang lebih bebas dan tulus.
d. Tuhan yang berlutut . Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya
Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, lalu ia menuangkan air ke dalam baskom dan mulai membasuh kaki para muridNya. Para murid tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Guru mereka, Tuhan mereka berlutut di hadapan mereka seperti seorang hamba. Inilah model pelayanan Yesus. Bukan pelayanan yang mencari kekuasaan, bukan juga pelayanan yang menuntut penghormatan
e. Kebingungan Petrus
Ketika Yesus datang kepada Simon Petrus, Petrus berkata: “Tuhan Engkau hendak membasuh kakiku”. Petrus bingung. Baginya hal ini tidak masuk akal. Namun Yesus berkata: “apa yang Ku-perbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak”.
Seringkali kita juga mengalami kebingungan dalam pelayanan kita mengapa sesuatu itu terjadi, mengapa ada kesulitan dan tantangan. Tidak semua hal langsung kita pahami. Namun iman mengajak kita untuk percaya pada rencana Tuhan.
f. Membiarkan Tuhan meyentuh hidup kita
Mulanya Petrus menolak untuk dibasuh. Namun Yesus berkata: “jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku”. Ini adalah pesan rohani yang sangat mendalam. Sebelum kita melayani umat, kita perlu membiarkan Tuhan membersihan hati kita, menyembuhkan luka kita dan memperbaharui motivasi kita. Tanpa itu, pelayanan kita akan mudah menjadi kering dan melelahkan.
g. Kasih yang tidak memilih
Yesus tahu siapa yang akan mengkhianatiNya. Namun Ia tetap membasuh kaki Yudas Iskariot. Bayangkan kasih sedalam itu. Yesus tidak berkata: “yang ini tidak usah karena dia akan mengkhianati Aku”. Tidak, kasih Yesus tidak memilih bagi kita para imam ini adalah panggilan yang sangat menantang. Kita dipanggil untuk melayani semua orang termasuk mereka yang mungkin sulit kita pahami, yang pernah menngkhianati kita, dan yang pernah melukai kita
h. Saling membasuh kaki
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus berkata: “ jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamupun wajib saling membasuh kaki. Yesus tiddak hanya melakukan sesuatu yang indah. Ia memberikan kepada kita teladan hidup. Kita dipanggil untuk saling melayani.
i. Teladan bagi semua murid
Yesus menutup dengan kata-kata yang sangat sederhana namun sangat kuat: “supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Ku-perbuat kepadamu”. Pelayanan seorang imam bukan soal teori tetapi pelayanan seorang imam adalah cara hidup. Setiap imam dipanggil uuntuk menjadi pelayan yang rendah hati, pelayan yang mendengarkan, pelayan yang mempersatukan umat, dan pelayan yang menyembuhkan.
Ketika kita ditahbiskan menjadi imam Yesus tidak memberikan kita takhkta. Ia juga tidak memberikan kita mahkota. Ia juga tidak memberikan kita mantel kebesaran seorang raja, tetapi Ia memberi kita baskom dan kain. Baskom untuk membasuh dan kain untuk melayani. Dan ketika kita melayani dengan hati seorang gembala Gereja sungguh menjadi satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan dalam Kristus. Kita telah merenungkan spiritualitas pelayanan Yesus yang menyembuhkan.
Pelayanan yang menyembuhkan menyentuh semua aspek kehidupan. Semoga kita setia menghadirkan sebuah pelayanan yang menyembuhkan, inklusif dan universal untuk semua yang sakit, lemah, miskin dan terpinggirkan serta menjangkau semua tanpa diskriminasi. Semoga melalui pelayanan kita sebagai imam, umat semakin merasakan kasih Kristus yang hidup. Amin.***

