LIVE IN DI PAROKI LODOBLOLONG: Frateres Reinha Belajar Hidup Bersama Umat dan Mendalami Arah Pastoral Keuskupan

Sebanyak 45 frater dari Seminari Tinggi Interdiosesan Reinha Larantuka menjalani kegiatan Live In di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong, Kabupaten Lembata, pada 15–21 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung selama satu minggu ini menjadi bagian dari proses pembinaan calon imam agar semakin mengenal kehidupan umat, mengalami dinamika pastoral secara langsung, dan memperdalam pemahaman mereka tentang arah pelayanan Gereja di Keuskupan Larantuka.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LODOBLOLONG, Komsos Larantuka – Sebanyak 45 frater dari Seminari Tinggi Interdiosesan Reinha Larantuka menjalani kegiatan Live In di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong, Kabupaten Lembata, pada 15–21 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung selama satu minggu ini menjadi bagian dari proses pembinaan calon imam agar semakin mengenal kehidupan umat, mengalami dinamika pastoral secara langsung, dan memperdalam pemahaman mereka tentang arah pelayanan Gereja di Keuskupan Larantuka.
Kedatangan para frater pada Senin (15/6/2026) disambut secara adat oleh umat di Stasi Lewoeleng. Prosesi penyambutan adat tersebut menjadi simbol penerimaan dan penghargaan masyarakat terhadap para calon imam yang datang untuk hidup dan belajar bersama mereka. Setelah acara penyambutan, rombongan diantar menggunakan dua kendaraan menuju pastoran untuk beristirahat sejenak sebelum dibagikan ke rumah-rumah umat yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama masa Live In.
Melalui pola hidup bersama keluarga-keluarga umat, para frater diajak untuk mengalami secara langsung realitas kehidupan masyarakat, memahami suka-duka keluarga Katolik, serta belajar membangun relasi yang dekat dengan umat. Pengalaman ini diharapkan membantu mereka mengembangkan kepekaan pastoral dan semangat pelayanan yang berakar pada kehidupan nyata umat.
Rangkaian kegiatan dimulai pada hari kedua dengan pelayanan katekese di berbagai Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Pada Selasa (16/6/2026), para frater menyebar ke sejumlah KBG untuk membawakan materi katekese bertema “Keluarga: Dari Rumah Bersama Menjadi Rumah yang Saling Menerima.” Melalui tema tersebut, umat diajak untuk membangun keluarga yang terbuka, penuh kasih, dan mampu menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai Kristiani.
Pada Rabu (17/6/2026), para frater mengikuti ibadat Rosario bersama umat di tingkat KBG. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kehidupan doa keluarga sekaligus memperdalam spiritualitas umat melalui devosi kepada Bunda Maria. Suasana doa bersama juga menjadi sarana membangun kedekatan antara para frater dan umat yang mereka dampingi.
Semangat pelayanan diwujudkan secara nyata melalui kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan pada Kamis (18/6/2026). Bersama Orang Muda Katolik (OMK) dan umat paroki, para frater membersihkan lingkungan gereja serta area pekuburan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi simbol pelayanan dan kepedulian terhadap ruang-ruang kehidupan iman umat.
Keesokan harinya, para frater mengadakan kegiatan sharing dan rekreasi bersama OMK. Dalam suasana yang santai dan penuh persaudaraan, para peserta berbagi pengalaman, harapan, dan tantangan hidup beriman sebagai kaum muda Katolik. Kegiatan ini bertujuan memperkuat keterlibatan orang muda dalam kehidupan Gereja sekaligus mendorong mereka untuk terus bertumbuh sebagai bagian dari Gereja yang hidup dalam semangat Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes – Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan.
Selain kegiatan-kegiatan utama tersebut, para frater juga terlibat dalam berbagai aktivitas pastoral lainnya seperti pelayanan di sekolah, latihan koor, olahraga bersama OMK, perayaan Ekaristi harian, pendampingan umat di lingkungan, hingga malam hiburan yang menjadi ungkapan syukur atas seluruh rangkaian kegiatan Live In.

Frater Reinha Larantuka menjalani kegiatan Live In di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong

Mendalami Arah Dasar Pastoral Keuskupan Larantuka
Salah satu agenda penting dalam kegiatan Live In adalah diskusi mengenai Arah Dasar Pastoral Keuskupan Larantuka bersama Pastor Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong, RD. Rus Suban Diaz.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana dialogis tersebut dipandu oleh Frater Berto Jo sebagai pembawa acara dan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Frater Edgar Hurint. Dalam pengantarnya, RD. Rus menegaskan pentingnya para calon imam terus memupuk semangat belajar dan keterbukaan terhadap perkembangan Gereja serta kebutuhan umat.
“Menjadi imam berarti terus belajar. Gereja terus bergerak dan berkembang. Karena itu para frater perlu memahami arah perjalanan pastoral Gereja agar mampu melayani umat secara tepat dan relevan,” ungkapnya.
Dalam pemaparannya, RD. Rus menjelaskan bahwa arah pastoral Keuskupan Larantuka saat ini berakar pada hasil Sinode VII Keuskupan Larantuka yang diselenggarakan pada 10–13 Oktober 2019 di bawah kepemimpinan Mgr. Fransiskus Kopong Kung, PR. Sinode tersebut menghasilkan berbagai keputusan strategis yang mencakup lima bidang utama, yakni program pastoral, penataan lembaga-lembaga Gereja, pengelolaan harta benda Gereja, penyusunan pedoman dan panduan pastoral, serta tata kelola pelayanan Gereja.
Ia menegaskan bahwa Komunitas Basis Gerejawi (KBG) tetap menjadi fokus dan lokus utama pelayanan pastoral. Oleh karena itu, kerja sama dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam membangun Gereja yang hadir dan berdialog dengan realitas kehidupan masyarakat.
RD. Rus juga memperkenalkan model tata kelola pastoral berbasis prinsip POACC yang meliputi Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan), Controlling (Pengawasan dan Evaluasi), serta Coordinating (Koordinasi dan Kemitraan). Menurutnya, prinsip tersebut menjadi instrumen penting dalam memastikan pelayanan pastoral berjalan secara terarah, efektif, dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, para frater diajak melihat berbagai tantangan pastoral yang sedang dihadapi Gereja, antara lain perkembangan dunia digital yang begitu cepat, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), pengaruh media sosial, serta berbagai pemahaman yang kurang tepat mengenai inkulturasi dalam kehidupan Gereja.

Frater Reinha Larantuka menjalani kegiatan Live In di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong

Fokus Baru Pelayanan Pastoral
RD. Rus juga menjelaskan hasil Lokakarya PJPT III yang memperbarui fokus pelayanan pastoral Keuskupan Larantuka. Fokus tersebut mencakup penataan lima bidang pastoral, yaitu Bidang Sekur, Bidang Tata Kelola, Bidang Litbang dan Formasi, Bidang Karya Bakti Sosial, serta Bidang Pemuda dan Pemudi.
Selain itu, perhatian khusus diberikan pada penguatan Komunitas Kristiani Kecil (KKS), literasi digital, standarisasi pelayanan pastoral melalui sistem seleksi dan akreditasi, serta pengembangan pelayanan bagi Orang Muda Katolik dalam bidang apologetika, teknologi informasi, produktivitas, dan pastoral berbasis budaya.
Lebih lanjut, para frater diperkenalkan pada visi pastoral Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yaitu:
“Terwujudnya Gereja Larantuka sebagai satu tubuh dalam Kristus, digerakkan oleh satu Roh, dan berjalan dalam satu harapan. Gereja ini hidup dari Ekaristi, inkarnatif dalam budaya, misioner dalam pelayanan, dan menghadirkan keselamatan Allah di tengah dunia.”
Visi tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni membangun satu tubuh melalui persekutuan dan sinodalitas, digerakkan oleh satu Roh melalui pendalaman spiritualitas dan formasi iman, serta berjalan dalam satu harapan melalui pemberdayaan sosial-ekonomi umat, pendidikan Katolik, dan pemeliharaan keutuhan ciptaan. Semua itu berpuncak pada Ekaristi sebagai sumber dan pusat kehidupan Gereja.

Frater Reinha Larantuka menjalani kegiatan Live In di Paroki St. Wilhelmus Lodoblolong

Sekolah Pastoral yang Nyata
Setelah menjalani seluruh rangkaian kegiatan selama satu minggu, para frater secara resmi dilepas oleh Pastor Paroki, RD. Rus Suban Diaz. Acara pelepasan berlangsung dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan.
Kegiatan Live In ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi para frater untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama masa formasi, tetapi juga menjadi sekolah pastoral yang nyata. Melalui pengalaman hidup bersama umat, mereka belajar mendengarkan, memahami, dan merasakan denyut kehidupan Gereja dari dekat.
Di tengah berbagai tantangan zaman, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi para calon imam untuk tumbuh sebagai pelayan Gereja yang rendah hati, dekat dengan umat, peka terhadap kebutuhan masyarakat, dan setia pada arah pastoral Keuskupan Larantuka yang berlandaskan semangat “Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan.” (Fr. Niko Puka)

You may also like