SELASAR PASAR: Rumah Penuh Kasih dan Altar yang Hidup

Kami hadir bersama mereka dalam doa shering kitab suci, katekese dan pembinaan dengan tema tertentu sesuai kebutuhan mereka. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan pada sore hari tepatnya jam 18.00 setelah ina-ina kedang menutup lapaknya. Yang menarik, antusias mereka tidak terasa sebagai kewajiban. Pembinaan ini kami laksanakan dua kali dalam sebulan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

OPINI – Oleh : Susana Niren Kelen (Penyuluh Agama Katolik)

Selasar Pasar bukan tempat mewah. Tidak ada gemerlap lampu yang membuatnya tampak seperti ruang pesta. Selasar pasar adalah tempat sederhana yang dipenuhi suara tawar-menawar, barang dagangan, langkah kaki, dan wajah-wajah yang datang dan pergi. Tetapi di tempat itu banyak kisah kehidupan dibingkai .
Sore itu Selasa, 11 Agustus 2026 hampir magrib saya bersama rekan saya berjalan melewati Pasar Inpres Daerah larantuka. Seperti biasa saya dan rekan saya mendatangi tempat itu bukan untuk berbelanja. Kami menemui ina-ina Kedang, para perempuan yang menjadikan pasar bukan hanya sebagai tempat mencari rejeki, tetapi juga sebagai ruang hidup.
Sekitar tujuh bulan lalu kami memilih pasar dengan sasaranya adalah ibu –ibu penjual sebagai lokasi binaan. Mereka berada di pasar bukan hanya untuk berjualan. Bagi mereka, pasar adalah rumah, tempat mereka menginap selama bertahun-tahun lamanya. Lapak sederhana dari bambu dilapisi kardus, karung bekas atau baliho bekas ini menjadi lapak penuh berkat dalam mengais rejeki untuk keluarga tercinta.
Kami hadir bersama mereka dalam doa shering kitab suci, katekese dan pembinaan dengan tema tertentu sesuai kebutuhan mereka. Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan pada sore hari tepatnya jam 18.00 WIT. setelah ina-ina kedang menutup lapaknya. Yang menarik, antusias mereka tidak terasa sebagai kewajiban. Pembinaan ini kami laksanakan dua kali dalam sebulan.
Ada dua refleksi menarik yang selalu saya bagikan kepada ina –ina kedang di tempat ini.Refleksi ini selalu saya jadkan Motivasi buat mereka. Sesungguhnya dua hal yang saya refleskikan ini berangkat dari setiap pengelaman shering mereka dalam setiap perjumpaan kami. Dalam shering kami bertanya tentang apa motivasi ina-ina untuk terus berada di pasar ini bahkan rela menginap sudah sekian tahun lamanya. Jawaban mereka selalu sama, bahwa yang menjadi alasan mendasar adalah anak-anak mereka. Bagi mereka bertahun –tahun disini juga mereka siap demi anak-anaknya bisa meraih gelar sarjana. Sebuah jawaban yang sederhana namun sangat bermkana yang telah mengingispirasi saya untuk merfleksikan dua hal menarik tentang tempat ini tentang selasar pasar.

1. Selasar Pasar Rumah Penuh Kasih
Selasar Pasar bukan sekedar tempat transaksi antara penjual dan pembeli , tetap selasar pasar adalah rumah penuh kasih. Rumah penuh perjuangan, rumah penuh kesabaran, rumah penuh harapan dan doa. Bagi ina-ina kedang selasar pasar sesungguhnya adalah gambaran tentang mimpi-mimpi. Setiap pagi sebelum matahari terbit ina- ina kedang sudah bangun dan bersiap membuka lapaknya. Mereka mulai menjajakan jagung bose kering yang siap di ola, kacang tanah, kacang ijo, jagung giling, kue rambut, jangung kuning bulat ,jagung pulut, tembako , bahkan ada juga ina kedang yang menjual sarung tenun.
Dengan sabar mereka menawarkan barang daganganya dari pukul 6.00 -18.00 hingga mereka menutup lapaknya. Setelah lapak jualan itu di tutup mereka mulai menata kembali tempat itu sebagai tempat tidur untuk istirahat malam mereka. Bertahun-tahun lamanya mereka bertahan dalam situasi ini, dengan motivasi terbesar mereka adalah bisa membiayai anak mereka hingga sarjana dan Selasar pasar sesunguhnya adalah rumah penuh kasih. Ditempat ini segala perjuangan tercurah. Peluh keringat menetes seharian hanya untuk kasih mereka kepada anak –anaknya. Karena kasih itu, jarak antara kedang –Larantuka terasa begitu dekat bagi mereka. Karena kasih itu juga tikar sederhana yang digunakan untuk tidur malam mereka terasa empuk seperti springbed, dinginnya malam di selasar pasar terasa hangat karena kasih mereka untuk anak-anaknya.
Selasar pasar sesungguhnya adalah rumah penuh kasih, karena disini tergambar jelas perjuangan para ibu –ibu tangguh untuk masa depan anak-anaknya. Selasar pasar selalu memberikan harapan untuk mereka, bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Selasar pasar selalu menjadi rumah kasih penuh pengharpaan dan cinta. Selasar pasar adalah rumah penuh cinta yang di dalamnya ada detak cinta seorang ibu berdenyut. Selasar pasar adalah rumah penuh kasih yang telah menemani ina –ina kedang untuk terus optimis bahwa jika hari ini bose ,kacang ,dan jagung tidak laku atau sepih pembeli, masih ada hari esok yang menanti.

2. Selasar Pasar Altar Yang Hidup

Selasar pasar juga sesungguhnya bagi Ina-Ina Kedang adalah Altar yang hidup. Altar biasanya kita bayangkan sebagai tempat suci di dalam gereja. Di sana umat berdoa, merayakan Ekaristi, dan mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Altar bisa juga hadir dalam rumah kasih yang mereka bangun di tempat sederhana ini. Altar itu juga hadir di pasar ini. Lapak jualan, dan meja dagangan ina-ina kedang adalah altar kedua. Saya pecaya bahwa Altar ke dua itu juga ada di selasa pasar ini. Saya mengajak ina-ina kedang untuk kami bersama –sama mleihat hal ini dengan penuh keyakinan dan iman. Bagaimana ina-ina kedang melihat selasar pasar sebagai Altar yang hidup,? Tentu ina-ina kedang harus melakukan beberapa hal ini :

a. Memindahkan Altar Gereja ke Lapak Jualan

  • Peluh yang jatuh ketika mengangkat barang dagangan, menata jagung bose, kacang, dan jagung giling bukan sekadar keringat. Ia adalah bagian dari persembahan.
  • Di dalam kerja yang jujur, tubuh yang lelah tidak kehilangan martabatnya. Justru di sanalah kerja menemukan makna rohaninya. Kerja adalah Ibadah : saat ina-ina melayani pembeli dengan senyum, ina-ina sedang melayani Tuhan Yesus yang datang dalam rupa pembeli tersebut.

b. Menjaga Kesucian Altar Pasar dengan Kejujuran :sebuah altar harus kudus, ina-ina dpanggil untuk menjaga kekudusan lapak jualan di tengah persaingan pasar yang ketat dengan cara :

  • Timbangan yang Adil : tidak mengurangi takaran atau menyembunyikan barang rusak di dasar tumpukan. Kejujuran adalah doa yang nyata.
  • Kata-kata yang memberkati : menjauhi gosip, kata makian kepada sesama pedagang atau sumpah palsu demi melariskan dagangan.

c. Menghadapi Malam di Pasar Bersama Tuhan : bagi ina-ina yang menginap di pasar ini malam hari di pasar bisa terasa dingin ,sepi bahkan rawan maka lakukanlah ini:

  • Menghalau Rasa Takut: menjadikan tempat tidur darurat dipasar menjadi tempat bernaung yang diberkati
  • Doa sebelum tidur : sebelum memejamkan mata diatas balai –balai pasarserahkan hasil jualan hari ini dan mohon perlindungan untuk keluarga yang di tinggal di rumah.

Refleksi ini hendaknya akan terus memberikan spirit bagi ina-ina kedang untuk terus melanjutkan segala perjuangan mereka.
Ina-ina Kedang mengajarkan kepada kita bahwa kasih tidak selalu tinggal di rumah yang nyaman. Kadang-kadang ia tidur di atas tikar di selasar pasar.
Kasih tidak selalu terdengar dalam doa yang panjang. Kadang-kadang ia terdengar dalam suara seorang ibu menawarkan jagung kepada pembeli.
Dan altar tidak selalu berdiri di dalam gereja.
Kadang-kadang altar itu berbentuk sebuah lapak sederhana, di mana seorang ibu menaruh dagangannya, meneteskan keringat, lalu berharap kepada Tuhan agar hari itu cukup untuk membawa pulang masa depan anak-anaknya.
Di selasar pasar itu, saya belajar satu hal: saya ada untuk orang lain, dan orang lain ada untuk saya. Sebab egoisme membuat mata melihat harga, tetapi kasih membuat hati melihat manusia.
Dan mungkin, di situlah Tuhan sedang duduk, diam-diam, di antara jagung, kacang, tikar, peluh, dan harapan, menunggu kita belajar melihat-Nya.*

You may also like