SAROTARI, Komsos Larantuka – Setelah melalui perjuangan panjang, kurang lebih selama lima tahun, Lembaga Seni Budaya Fanfare Santa Caecilia Keuskupan Larantuka akhirnya memiliki sekretariat permanen. Gedung yang diberkati oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, itu menjadi kado istimewa dalam perayaan syukur 49 tahun imamat RD. Laurensius Riberu (Romo Lorens), moderator Fanfare yang selama ini mengawal pembangunan sekaligus terus berupaya mengembangkan lembaga tersebut. Bangunan yang terletak di sekitar gedung OMK, Sarotari Larantuka itu diberkati pada Jumat, 26 Juni 2026.

Pemberkatan Sekretariat dan Syukur 49 Tahun Imamat Romo Lorens Riberu (26/06/2026)
Pemberkatan sekretariat bukan sekadar meresmikan sebuah bangunan baru, melainkan menandai lahirnya pusat pelayanan yang akan menjadi “dapur utama” pengelolaan seluruh program pembinaan seni, budaya, dan kaum muda Katolik di Keuskupan Larantuka. Gedung ini diharapkan menjadi ruang lahirnya kreativitas, pembentukan karakter, sekaligus pewartaan Injil melalui seni dan budaya.
Pemberkatan sekretariat dan syukur 49 tahun imamat Romo Lorens merupakan dua peristiwa yang mengajak umat memandang perjalanan hidup dalam terang iman. Keduanya menjadi kesaksian nyata bahwa karya Gereja bertumbuh melalui kesetiaan para pelayan, dukungan umat, dan penyelenggaraan Tuhan yang tidak pernah berhenti menyertai perjalanan Gereja lokal.
Perjalanan Fanfare Santa Caecilia sendiri telah melintasi sejarah panjang. Cikal bakalnya dimulai pada tahun 1956 melalui karya Mgr. Gabriel Manek, SVD bersama para Bruder SVD, yakni Br. Stanis dari Jerman, Br. Tan dari China yang kemudian ditahbiskan menjadi imam, dan Br. Coen dari Belanda. Mereka meletakkan dasar pembinaan musik terompet bagi kaum muda dengan Bapak Mateus Warin sebagai dirigen pertama. Dari benih kecil itulah tumbuh sebuah gerakan pembinaan yang kini telah memasuki usia 70 tahun.

Pemberkatan Sekretariat dan Syukur 49 Tahun Imamat Romo Lorens Riberu (26/06/2026)
Seiring perkembangan zaman, Fanfare Santa Caecilia terus bertransformasi. Sejak tahun 2005, lembaga ini memperluas pelayanan dengan menaungi berbagai unit seni dan budaya. Tidak hanya membina kemampuan bermusik, Fanfare juga menjadi ruang pembinaan iman, kepemimpinan, disiplin, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal bagi generasi muda Katolik. Selama puluhan tahun, lembaga ini telah melahirkan banyak kader yang mengabdikan talenta mereka bagi Gereja dan masyarakat.
Pembangunan sekretariat menjadi buah dari perjuangan panjang yang berlangsung selama lima tahun terakhir. Di bawah pendampingan Romo Lorens Riberu sebagai moderator, pembangunan dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan semangat gotong royong, doa, dan dukungan berbagai pihak. Berkat penyelenggaraan Tuhan, tahap pertama pembangunan akhirnya selesai dan kini dipersembahkan sebagai rumah pelayanan baru bagi keluarga besar Fanfare Santa Caecilia.
Momentum ini sekaligus menjadi ungkapan syukur atas hampir lima dekade pengabdian imamat Romo Lorens Riberu. Selama 49 tahun, ia dikenal sebagai imam yang tidak hanya setia melayani Sabda Allah dan sakramen, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap pembinaan kaum muda melalui seni dan budaya. Motto tahbisannya, “Aku hendak bernyanyi bagi Tuhan seumur hidupku” (Mazmur 104:33), menjadi semangat yang terus dihidupi dalam seluruh karya pelayanannya.
Bagi Romo Lorens, seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan sarana evangelisasi yang mampu membentuk karakter, menumbuhkan iman, serta mempersatukan generasi muda dalam semangat pelayanan. Nilai inilah yang terus diwariskan kepada seluruh keluarga besar Fanfare Santa Caecilia hingga saat ini.
Dengan berdirinya sekretariat baru, keluarga besar Fanfare Santa Caecilia menatap masa depan dengan optimisme. Gedung ini diharapkan menjadi pusat koordinasi, pembinaan, dan pengembangan seni budaya Katolik yang semakin berkualitas, sekaligus menjadi ruang lahirnya generasi muda yang kreatif, beriman, dan siap melayani Gereja.
Pemberkatan sekretariat menjadi bukti bahwa karya yang dibangun di atas iman, kesetiaan, dan semangat kebersamaan akan selalu menghasilkan buah. Dari sebuah benih yang ditanam hampir tujuh puluh tahun silam, Fanfare Santa Caecilia kini memasuki babak baru perjalanan pelayanannya—terus menggemakan harmoni iman, melestarikan budaya, dan menghadirkan keindahan seni sebagai pujian bagi Tuhan serta sebagai pelayanan bagi Gereja dan masyarakat. (@sly)
