PATRIS CORDE, Komsos Larantuka – Menjelang terjun ke medan pastoral, sepuluh diakon yang baru ditahbiskan mengikuti program On Going Formation (OGF) di Keuskupan Larantuka pada 23–24 Juni 2026 di Rusun Unio Patris Corde, Larantuka. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membekali para diakon dalam memahami arah pelayanan Gereja lokal sekaligus mempersiapkan diri menghadapi realitas pastoral di tengah umat.

OGF Para Diakon di Keuskupan Larantuka 23-24 Juni 2026
Sebelum kegiatan berlangsung, para diakon menerima Surat Keputusan (SK) penugasan praktik diakonat dari Uskup Larantuka dan mengikuti pertemuan bersama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dalam kesempatan tersebut, Bapa Uskup menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada para diakon yang bersedia menjalani masa praktik pastoral di wilayah Keuskupan Larantuka.
Selain memberikan gambaran singkat mengenai situasi dan dinamika pastoral keuskupan, Uskup juga berpesan agar para diakon mampu menempatkan diri secara bijaksana di tengah umat serta peka terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, termasuk maraknya praktik judi online yang semakin meresahkan banyak keluarga.
“Kalian harus memanfaatkan masa praktik diakonat ini dengan sebaik-baiknya sebagai bagian dari proses pembentukan menuju imamat. Masa praktik ini bukan sekadar batu loncatan menuju tahbisan imam, melainkan kesempatan berharga untuk belajar melayani, mendengar, dan berjalan bersama umat,” pesan Uskup.
Adapun sepuluh diakon yang menerima penugasan praktik diakonat adalah Diakon Yulius Bertin Japa, SVD di Paroki St. Ignasius Waibalun; Diakon Wilfridus Oki, SVD di Paroki St. Mikhael Kalike; Diakon Adrianus Tap, SVD di Paroki St. Petrus dan Paulus Lamalera; Diakon Donatus Iwad Mara, SVD di Paroki St. Yohanes Paulus II Wulandoni; Diakon Sabinus Bake Lado, SVD di Paroki St. Yohanes Pembaptis Ritaebang; Diakon Rikardus Diku Da, SVD di Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo; Diakon Eusabius Soa, O.Carm di Paroki St. Maria Pembantu Abadi Aliuroba; Diakon Martinus Philipus Riberu di Paroki Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Kiwangona; Diakon Metodius Tedun Lamuda di Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek; dan Diakon Romanus Tubo Ola di Paroki St. Yosef Lewotobi.
Saat membuka kegiatan orientasi tersebut, Sekretaris Uskup Keuskupan Larantuka, RD Fransiskus Kwaelaga, menjelaskan bahwa pembentukan berkelanjutan merupakan bagian penting dalam kehidupan para imam dan calon imam. Untuk itu Uskup Larantuka telah mengangkat RD Georgius Harian Lolan sebagai Moderator Ongoing Formation.
RD Fransiskus Kwaelaga juga menegaskan bahwa setiap imam, diakon, frater, maupun biarawan-biarawati yang baru datang dan akan berkarya di Keuskupan Larantuka wajib mengikuti orientasi guna mengenal arah dasar serta kebijakan pastoral keuskupan.
Program OGF yang untuk pertama kalinya secara khusus diperuntukkan bagi para diakon dan frater ini diikuti oleh enam diakon dari Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD), tiga diakon projo Keuskupan Larantuka, dan satu diakon dari Ordo Karmel.
Penanggung jawab kegiatan, RD Georgius Harian Lolan, menjelaskan bahwa OGF dirancang sebagai ruang pembinaan dan adaptasi bagi para calon pelayan Gereja sebelum mereka memasuki dunia pastoral secara lebih intensif. Melalui kegiatan ini, para diakon diharapkan mampu memahami ritme kerja keuskupan, membangun relasi yang sehat dengan umat, serta melaksanakan pelayanan sakramental dan sosial secara bijaksana, asertif, dan penuh empati.
Ketua Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka (Sekpas-KL), RD Bernardus Belawa Wara, dalam materinya mengajak peserta untuk mendalami arah dasar dan visi pastoral Keuskupan Larantuka. Ia mengajak para diakon menelusuri perjalanan sejarah Gereja di Flores Timur, Adonara, Solor, dan Lembata, mulai dari masa misi para imam Jesuit hingga penyerahan wilayah misi kepada Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1912.
Ia menegaskan bahwa Keuskupan Larantuka terus bergerak mewujudkan visi sebagai “Gereja Umat Allah yang Mandiri dan Misioner” dengan Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai pusat pengembangan kehidupan menggereja. Dalam Tahun Pastoral 2026, perhatian khusus diberikan pada tema “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman”.
Menurut RD Ben Belawa, Gereja perlu semakin hadir dalam realitas konkret kehidupan umat, termasuk dalam bidang ekonomi. Ia menyoroti adanya kesenjangan yang masih dirasakan antara kehidupan ekonomi klerus dan kondisi ekonomi sebagian umat. Karena itu, pemberdayaan ekonomi dipandang sebagai salah satu bentuk nyata pewartaan Injil yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
“Gereja tidak hanya hadir untuk melayani kebutuhan rohani, tetapi juga perlu berjalan bersama umat dalam pergumulan hidup sehari-hari. Diakon dan imam diharapkan menjadi murid yang membumi, yang mau mendengar dan belajar dari pengalaman hidup umat,” ungkapnya.
Suasana diskusi yang menyusul setelah pemaparan, berlangsung hidup dan kritis. Para diakon mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tata kelola keuangan Gereja, transparansi penggunaan dana umat, hingga model pelayanan yang mampu membangun kepercayaan masyarakat.
Pada sesi berikutnya, para diakon mendapatkan kesempatan mendengarkan pengalaman pastoral dari RD Yohanes Odel yang membagikan refleksi pelayanannya bersama kelompok kategorial, khususnya anak-anak dan orang muda. Ia mengajak para diakon untuk memiliki hati yang terbuka bagi generasi muda dan menjadikan pelayanan kepada mereka sebagai investasi bagi masa depan Gereja.
Menurutnya, Orang Muda Katolik bukanlah beban bagi Gereja, melainkan harapan yang perlu didampingi dan diberi ruang untuk berkembang. Karena itu para diakon diharapkan mampu hadir sebagai sahabat seperjalanan bagi kaum muda dalam perjalanan hidup dan iman mereka.
Rangkaian OGF masih berlanjut pada hari kedua dengan materi mengenai pelayanan pastoral di paroki yang dibawakan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD Adeodatus Hendrikus Leni, dan ditutup dengan sesi refleksi bersama yang dipandu oleh RD Georgius Harian Lolan.
Melalui pembinaan ini, para diakon diharapkan semakin siap memasuki medan pelayanan dengan semangat misioner, kepekaan sosial, serta komitmen untuk menjadi pelayan yang dekat dengan umat dan setia pada panggilan Gereja. (Fr. Apong Boruk Khan)
